Buat Apa Bersekolah bila Hanya untuk Bersekolah?

Bagi sebagian besar orang, buat apa bersekolah adalah pertanyaan yang konyol untuk diajukan. Tapi benarkah kita sebagai orangtua sadar jawaban pertanyaan tersebut ketika memilih sekolah untuk anaknya?

Di suatu mata kuliah yang menyiapkan mahasiswa tingkat akhir, saya memulai kelas dengan pertanyaan “Setelah lulus, Anda mau melakukan apa? Mau menjadi apa?”. Pertanyaan yang sudah ditanyakan sejak TK tersebut ternyata sulit dijawab oleh mahasiswa tingkat akhir. Hanya sekitar 10% mahasiswa yang bisa menjawabnya.

Kejadian itu membuat saya berefleksi terhadap pengalaman saya sendiri dalam menjalani pendidikan sejak TK hingga lulus S2. Ternyata meski sudah mengikuti berbagai mata pelajaran dan mata kuliah, saya tidak mendapat kesempatan memadai untuk mengenali kekuatan diri dan tujuan hidup saya. Saya tahu banyak hal, tapi hanya sedikit yang saya ketahui tentang diri saya sendiri. Saya bahkan tidak bisa menjawab buat apa bersekolah selain jawaban “Ya memang seharusnya begitu”.

Ahli Mengerjakan Ujian
Bila pertanyaan buat apa bersekolah dilontarkan di sebuah forum, kita akan mendapatkan jawaban yang indah. Jadi pintar, berkarakter, mempunyai akhlak mulia, mempuyai keterampilan hidup dan yang lainna. Tapi benarkah jawaban tersebut aktual dalam kenyataan sehari-hari?

Mari kita menilik fenomena memilih sekolah. Mengapa? Karena pada saat memilih sekolah, peran tujuan bersekolah akan telihat, penting atau diabaikan. Ketika ada pilihan, kebanyakan orangtua akan memilih sekolah favorit untuk anaknya. Dorongan memilih sekolah favorit begitu kuat sehingga daerah yang akan menerapkan rayonisasi mendapat protes dari para orangtua. Karena rayonisasi menghalangi mereka memilih sekolah favorit buat anaknya.

Dorongan memilih sekolah favorit begitu kuat karena ada keyakinan pada orangtua ketika anaknya masuk sekolah favorit maka begitu lulus akan lebih mudah masuk sekolah favorit di jenjang berikutnya. Mengapa memilih TK Favorit? Ya agar anaknya bisa masuk SD Favorit. Mengapa memilih SD Favorit? Ya agar anaknya bisa masuk SMP Favorit. Dan seterusnya sampai masuk perguruan tinggi favorit.

Kecenderungan tersebut saya sebut sebagai Sekolah untuk Sekolah. Buat apa bersekolah? Ya agar bisa bersekolah di jenjang berikutnya. Apa yang dialami anak selama bersekolah? Dipecut agar lulus dengan kriteria yang tinggi sebagaimana yang dipersyaratkan sekolah favorit yang akan dimasukinya.

Tidak ada lagi jawaban yang indah untuk pertanyaan buat apa bersekolah. Waktu dan energi difokuskan pada pencapaian nilai ujian yang tinggi. Karena kurang 1 poin saja bisa menghilangkan kesempatan masuk sekolah favorit. Bimbingan belajar menjamur. Jam sekolah berakhir, jam bimbingan belajar dimulai. Bukan belajar yang terjadi, tapi berlatih, latihan mengerjakan soal berulang kali. Ketika mendekati ujian, pelajaran olahraga dihapuskan karena dianggap menghabiskan waktu dan tenaga murid untuk persiapan ujian.

Berlatih demi ujian terjadi berulang kali mulai TK, SD, SMP, dan SMA. Dan buahnya lahir istilah SKS pada pendidikan S1. Tahu SKS? Betul, sistem kebut semalam. Mereka yang terbiasa dengan pola berlatih demi ujian hanya akan aktif pada saat menjelang ujian.

Kita berharap lulusan pendidikan menjadi pembelajar sepanjang hayat. Hasilnya pembelajar menjelang ujian. Saya membayangkan sebuah karikatur yang menggambarkan Staf Sumber Daya Manusia sebuah perusahaan bertanya apa kelebihanmu yang dijawab oleh pelamar: ahli mengerjakan ujian. Buah dari bersekolah hanya untuk bersekolah.

buat apa bersekolah

Kekuatan Memilih Sekolah
Siapa yang merasakan dampak tujuan bersekolah untuk bersekolah? Pastinya anak-anak kita. Belasan tahun waktu hidup mereka digunakan untuk sebuah keterampilan yang tidak banyak berguna dalam kehidupan nyata. Tidak ada pilihan ganda pada persoalan hidup. Problemnya bahkan harus didefinisikan terlebih dahulu, sebelum menentukan jawaban yang tepat.

Pihak yang juga merasakan dampak besar dari bersekolah untuk bersekolah adalah orangtua. Tidak ada pihak yang terlibat dengan durasi waktu dan energi sebesar orangtua dalam mendampingi proses pendidikan seorang anak. Guru mungkin punya peran, tapi durasinya terbatas. Orangtua yang paling tahu pola perilaku anaknya sejak lahir hingga lulus pendidikan menengah/tinggi. Orangtua yang mengeluarkan energi paling besar demi pendidikan anaknya.

Dengan semua waktu dan energi yang dikeluarkan, saya terusik dengan pertanyaan apakah orangtua tidak merasa rugi dengan capaian bersekolah untuk bersekolah? Anaknya menjadi ahli mengerjakan ujian? Belajar hanya menjelang ujian, bukan sepanjang waktu untik mengembangkan diri? Lulusan yang hanya siap bersekolah, tapi tidak siap hidup mandiri?

Meski paling terlibat, namun peran orangtua yang paling sering diabaikan. Kenyataan di lapangan, peran orangtua mempengaruhi praktik pendidikan. Tuntutan orangtua yang meminta rangking atau meminta pelajaran calistung pada PAUD seringkali membuat guru terpaksa memenuhinya.

Sekolah negeri maupun swasta yang menjadi pilihan banyak orangtua cenderung lebih banyak mendapat sumbangan. Jangankan sekolah swasta, sekolah negeri pun bila tidak dipilih orangtua bisa ditutup oleh pemerintah. Hidup matinya sekolah dipengaruhi pilihan orangtua.

Orantua bukan korban tanpa daya, karena punya kewenangan untuk memilih sekolah yang tepat untuk anaknya. Sekolah untuk hidup atau sekolah untuk sekolah? Sayangnya sampai hari ini, sekolah yang berprinsip bersekolah untuk sekolah masih jadi pilihan mayoritas orangtua. Bila memang ingin anaknya siap untuk hidup mandiri, orangtua perlu memikirkan ulang pilihan sekolah untuk anaknya. Gunakan kekuatan memilih secara bijak!

buat apa bersekolah

Sekolah yang menumbuhkan
Dalam buku Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now, saya menyebut sekolah yang menyiapkan murid untuk siap hidup sebagai sekolah yang menumbuhkan. Sekolah yang mengenali dan memahami potensi murid. Sekolah yang mengelola proses belajar sesuai kebutuhan dan tujuan belajar yang diinginkan murid.

Sekolah yang menumbuhkan memang masih minoritas di Indonesia, tapi bukan berarti tidak banyak. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, semakin banyak sekolah menumbuhkan yang didirikan oleh masyarakat yang resah dengan kondisi pendidikan. Semangat sekolah yang menumbuhkan pun hadir di sekolah-sekolah negeri yang dipimpin kepala sekolah yang visioner.

Kebanyakan sekolah menumbuhkan memang tidak populer dan tidak dikenal dinas pendidikan. Karena radar dinas pendidikan hanya memantau sekolah yang menonjol prestasinya. Sudah saatnya masyarakat membuat radar sendiri, radar yang bisa memantau keberadaan sekolah yang menumbuhkan. Orangtua saling berbagi cerita tentang keberadaan sekolah yang menumbuhkan.

Meski sedikit dan tidak populer, sekolah yang menumbuhkan telah menanti orangtua yang peduli masa depan anaknya. Kenali, kunjungi dan penuhi sekolah yang menumbuhkan! Semakin banyak orangtua memilih sekolah yang menumbuhkan, semakin besar tuntutan pada sekolah dan pengambil kebijakan untuk memikirkan ulang pertanyaan, buat apa bersekolah?

________________________________________________

Pilih Sekolah yang Menumbuhkan
Dapatkan dan Gunakan Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now


Sumber foto: Atas: CIFOR at Flickr | Bawah: CIFOR at Flickr

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

10 thoughts on “Buat Apa Bersekolah bila Hanya untuk Bersekolah?”

      1. Izin kutip tulisan baak buat wali murid.

        Tambahan kutipan
        3 pilar pendiikan ki hajar dewantara
        1. Pendidikan yang pertama dan yang utama Rumah
        2. Pendidikan yang kedua lingkungan
        3. Pendidikan yang ketiga baru disekolah.

        Benar pak klo sekolah hanyalah transit. Tp bukan berarti hars pindah ke bimbel. Hemmmmm.

  1. Saya setuju pendidikan untuk kehidupan yang bisa menjawab kebutuhan pendidikan zaman now.Namun dalam prosesnya kita terganjal sistem yang sudah ada.Sebagai pendidik kadang merasa gamang ketika membimbing anak- anak berlatih soal-soal untuk mengahadapi ujian akhir agar mendapat nilai yang disyaratkan di sekolah favorit.Namun demikian saya berusaha mengajak anak-anak untuk belajar untuk kehidupan.
    Inspiring banget .

    1. Ya memang ada tantangan untuk membawa tujuan bersekolah untuk hidup. Tapi bukan kah begitu lah kehidupan? Mari kita cari strategi agar anak-anak mencintai belajar. Pasti ada strategi :)

  2. Menambahkan sitik ya mas. Saya pribadi cenderung menganggap sekolah yg baik atau favorit bukan karena di sana banyak siswa ‘pintar’ namun sekolah favorit adalah sekolah di mana siswa2 yg dianggap trouble maker berhasil diarahkan dan di bina sehingga mereka mampu mengembangkan potensi mereka. Dan yg lebih penting, siswa merasa dirinya makin berharga setiap harinya, dengan kelebihan dan kekurangan mereka masing2..
    Kalau saya sangat mencemaskan sekolah yg menghasilkan generasi ‘egois, agresif, dan opportunist’. Saya berharap ada sekolah yang menekankan kejujuran, menikmati proses dan menghargai dan belajar dari kegagalan, dan sekolah yang lebih menekankan memberi manfaat kepada lingkungan jauh lebih penting.

    Yanladila
    Pejuang kompetensi Indonesia

  3. Syallom, salam kenal pak. Setelah membaca tulisan ini sampai akhir inilah kesan saya pak, “orang ini bukan guru tetapi pendidik”, bukan saja pendidik tetapi pendidik sejati.

    Jujur saya ingin bertemu dan berdiskusi banyak hal dengan bapak soal sekolah. Tulisan ini sangat luar biasa, menginspirasi seorang guru kampung seperti saya. salam. Jika berkenan berkunjung ke blog saya yang sederhana dan jauh dari kata baik…

  4. sekolah hanya sarana.. bukan penentu.. terkadang sekolah tinggi belum menjamin kemakmuran.. banya di daerah saya pengusaha yang mempunyai latarbelakang pendidikan yang sederhana namun memperkerjakan karyawan yang latarbelakang pendidikanya jauh daripada pengusaha sendiri.. katakanlah bos berlatarbelakang pendidikan SD dan mempekerjakan karyawan yang berlatar belakang S1.. kok bisa ya?

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.