Saya Bukan Bos Google, Bukan Pula Bos Apple. Tidak Usah Dibandingkan

Setiap anak itu istimewa, begitu pula setiap orang tua. Tidak perlu dibandingkan dengan bos Google atau bos Apple. 

Saya sebenarnya sudah lama melihat tweet artikel ini berseliweran di twitter maupun di Facebook. Saya sudah sempat membaca dan mengabaikannya. Tapi sore ini ada yang mention tautan artikel ini, dan entah kenapa saya langsung meresponnya melalui twitter dan akhirnya menuliskan tanggapan terhadap artikel berjudul “Saat Anak Atau Adikmu Main iPad, Anak-Anak Bos Google dan Apple Asyik Main Tanah di Sekolah”.

Mengapa akhirnya saya merespon artikel itu? Pertama, saya bukan bos Google, bukan pula bos Apple. Artikel itu melakukan perbandingan yang tidak setara. Ya gimana setara, membandingkan saya yang orang kampung ini dengan bos Google, dengan bos Apple. Teranglah saya tidak sebanding.

Kedua, siapa sih yang suka dibanding-bandingkan? Pernah merasa gak enak dibandingkan dengan mantan kan? Tidak ada orang yang suka dibandingkan, apalagi bila perbandingannya sama sekali tidak setara.  Saya percaya setiap anak itu istimewa, begitu pula dengan orang tuanya. Setiap orang tua pasti sudah berpikir dan berusaha yang terbaik buat anaknya. Meski terbaik yang telah saya lakukan mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan terbaik versi bos Google.

Ketiga, artikel “Saat Anak Atau Adikmu Main iPad, Anak-Anak Bos Google dan Apple Asyik Main Tanah di Sekolah” mengandung sesat pikir yang bisa merugikan banyak orang tua, beserta anak-anaknya. Apalagi banyak sekali orang yang menyebarkan artikel itu. Apa saja sesat pikir artikel tersebut?

Pertama, artikel itu mempunyai logika yang sebanding dengan logika dibalik perilaku orang tua yang dikritik oleh artikel itu. Logika apa? Logika yang menempatkan bahwa penggunaan teknologi dalam pendidikan menjadi ukuran bagi pendidikan anak. Meski berada pada kutub ekstrim yang berbeda, tapi kedua pihak menggunakan logika yang sama. Logika hitam putih, menggunakan teknologi secara ekstrim atau meninggalkan teknologi secara ekstrim.

Keribetan dalam mengurusi teknologi untuk pendidikan anak justru akan mengabaikan tujuan-tujuan pendidikan itu sendiri. Teknologi ditempatkan di atas tujuan dari pendidikan. Contoh simpelnya seperti ini. Pada satu pihak pada pamer “Lihat tuh anakku umur dua tahun sudah pintar mengakses internet”. Pada sisi lain, “Coba lihat anakku, umur 20 tahun belum pernah mengakses internet”. Absurd kan?

Kedua, teknologi tidaklah hitam putih. Profesor Iwan Pranoto menyebutnya sebagai Paradoks Teknologi Belajar. Saya kutipkan artikel tersebut:

“Demikianlah paradoks dalam teknologi belajar. Di perkotaan dengan fasilitas pendidikan baik, teknologi belajar merupakan kemewahan, tetapi di pedalaman terpencil, teknologi belajar justru merupakan kebutuhan.”

Paradoks teknologi belajar ini yang banyak diabaikan orang. Makna teknologi tidaklah berdiri sendiri, ada konteks yang membentuk makna teknologi. Teknologi pada suatu ruang dan waktu bisa merugikan, tapi pada ruang dan waktu yang lain bisa berdampak sebaliknya.

Bos Google dan bos Apple bisa menyediakan akses tanpa batas buat anaknya belajar piano. Saya sebagai orang tua jauh lebih terbatas, tidak ada apa-apanya dibandingkan para bos itu. Saya tinggal di Sidoarjo dengan tingkat kehidupan sederhana. Di daerah saya, tempat les piano terbatas. Saya pun tidak mampu menyediakan kesempatan belajar yang intensif pada anak saya. Karena keterbatasan daerah dan kemampuan, saya hanya bisa mengikutkan anak saya les piano sederhana beserta akses ke Youtube.

Apa hubungannya latihan piano dengan Youtube? Anak saya terbantu sekali oleh Youtube dalam mempelajari lagu yang dipelajarinya. Tidak percaya? Silahkan baca tulisan yang ditulis oleh Ayunda Damai di blognya. Klik AyundaDamai.com. Apa hanya Youtube? Blog juga membantu anak saya belajar piano. Bagaimana caranya? Pertama, anak saya sebagaimana anak lain gembira ketika ada yang memberi komentar di video piano yang diunggah di blognya. Blog membangun semangat belajar. Kedua, ketika video piano diunggah di blog, anak saya bisa mendapat masukan dari pengunjung blog, Silahkan baca obrolan anak saya dengan pengunjung blog di sini.

Blog Ayunda Damai
Ketika Teknologi dan Pendidikan Sinergi, Seorang Anak Pun Bisa Menulis Blog AyundaDamai.com

Apa hanya bermain piano yang terbantu melalui teknologi? Tidak. Anak saya belajar menulis di blog. Anak saya belajar prakarya pun di web dan Youtube. Apa hanya membantu belajar mengenai kegemarannya? Tidak juga. Internet membantu anak saya belajar pelajaran sekolahnya. Konsep yang abstrak di buku pelajaran bisa ditemui bentuk konkretnya melalui internet. Seperti semisal anak saya belajar bedanya lembah dan jurang.

Ketiga, artikel “Saat Anak Atau Adikmu Main iPad, Anak-Anak Bos Google dan Apple Asyik Main Tanah di Sekolah” menyebutkan:

“Sampai saat ini toh belum ada penelitian yang membuktikan bahwa keterampilan menggunakan komputer akan berpengaruh pada nilai tes atau prestasi mereka.”

Apakah tidak ada penelitian yang membuktikan akses internet bisa meningkatkan hasil belajar anak? Orang yang menyebutkan tidak ada kemungkinan besar belum tahu eksperimen Sugata Mitra mengenai penggunaan teknologi dalam pendidikan. Sugata Mitra membuktikan penggunaan teknologi oleh anak pelosok di India yang tidak bisa bahasa Inggris dan tanpa guru membuat nilai pelajaran bioteknologi (apa? biotekonologi?) mereka setara dengan nilai anak sekolah mewah di kota yang diajar oleh guru terlatih berkat penggunaan teknologi. Lengkapnya saksikan video presentasinya di bawah ini.

Eksperimen Sugata Mitra mengukuhkan dua bantahan saya: paradoks teknologi belajar dan bukti ilmiah yang menguatkan manfaat penggunaan teknologi.

Apakah penggunaan teknologi membuat anak saya kecanduan gawai (gadget) dan internet? Sekalipun lagi asyik menggunakan iPad, anak saya pasti langsung menyambut gembira bila diajak bermain kartu, bermain badminton atau naik sepeda.

Lalu mengapa banyak anak yang kecanduan gawai dan internet? Ada dua kemungkinan, orang-orang dewasa mengenalkan makna teknologi yang keliru pada anak atau kehidupan anak itu begitu menjemukkan sehingga pilihan yang menyenangkan adalah bermain gawai dan internet.

Terakhir, saya bukan bos Google, bukan pula bos Apple, tapi bukan berarti saya lebih tolol dalam mendidik anak. Saya sebagaimana orang tua yang lain, sudah dan akan terus berusaha yang terbaik buat anaknya. Mungkin saya keliru, tapi saya akan belajar dari kekeliruan itu dan belajar dengan cara saya sendiri. Karena setiap anak itu istimewa, begitu pula dengan orang tuanya. Tak perlu membandingkan

 

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

16 thoughts on “Saya Bukan Bos Google, Bukan Pula Bos Apple. Tidak Usah Dibandingkan”

  1. palagi anak saya mas… kami tinggal di pedalaman, belajar taekwondo, musik, science, english, semua pakai internet. Kalau gak pake internet ya mesti menempuh jarak 5 jam perjalanan. Yang penting gadget itu dijadikan alat, bukan tujuan. Disitu bedanya.

  2. Sepakat dengan tulisan Anda, Mas. Seperti kami juga gitu, memberdayakan apa yang kami miliki, salah satunya gawai, untuk menambah kekayaan pengetahuan anak sebab kami belum bisa mengursuskan ini-itu. Lagi-lagi, soal gawai adalah soal fungsi, bukan gengsi. Manfaatin yang ada aja sih :)

  3. Setuju sekali, Pak Bukik. Justru internet menyediakan lahan pembelajaran yang luas sekali dan murah jika digunakan dengan benar.

  4. Yang paling penting adalah kita sebagai orang tua terus memantaskan diri untuk jadi orang tua yang cerdas. Karena sejatinya orang tua adalah guru terbaik bagi anak-anak sendiri. Ketika Teknologi dan Internet memudahkan kita untuk mengembangkan potensi anak kita tidak ada salahnya kita menggunakannnya. Jadi kuncinya jadilah orang tua yang cerdas. Terimakasih Mas Bukik atas sharingnya yang bermanfaat.

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.