Berhenti, Jangan Rampas Impian Anak Kita

Cegah anak dari pengaruh negatif, termasuk pengaruh negatif kekhawatiran kita sebagai orang tua yang seringkali merampas impian anak. 

Pada bagian awal buku terbaru saya, Bakat Bukan Takdir, saya menulis sebuah kisah yang terinspirasi dari kisah nyata. Kisah tentang kesulitan seorang anak muda dalam menjelaskan pekerjaannya pada kakeknya.

Kenapa? Karena pekerjaannya belum ada pada jaman sang kakek. Pekerjaannya “main” Facebook dan Twitter, mulai merencanakan konten, menyajikan, berinteraksi hingga menganalisis percakapan. Hah emang main Facebook dan Twitter dibayar? Ya, ada puluhan ribuan orang muda di kota besar yang pekerjaannya berkaitan dengan media sosial.

Pekerjaan yang tidak dibayangkan oleh generasi yang pada masanya menelepon harus melalui perantaraan operator atau menelepon harus pergi ke kantor kecamatan atau berdebar ketika ada telegram datang.

Pengaruh teknologi informasi bukan saja menciptakan pekerjaan baru, juga mempengaruhi pola pekerjaan lama. Sebagaimana kita saksikan “keriuhan” akibat kehadiran transportasi online.

Pengaruh teknologi informasi terhadap cara bekerja kita bukan sesuatu yang di luar dugaan. Bukan pula hal yang baru.

Pada 5 April 2005, Thomas Friedman menerbitkan buku “The World is Flat” yang menceritakan berbagai perubahan cara kerja kita karena dampak teknologi informasi.

Analis pajak India, tetap tinggal di India, tapi mengerjakan laporan pajak orang AS. Dokter di AS mengirim hasil laboratorium pada  sore hari dan keesokan pagi telah menerima laporan analisisnya yang dikerjakan Analis Medis India, yang bekerja pada saat dokter AS tidur.

Perubahan cara kerja dan lahirnya profesi baru adalah keniscayaan.

Apakah kita akan terus menggunakan pendidikan menanamkan ala jaman industri untuk mendidik anak-anak kita yang akan menghadapi tantangan jaman kreatif?

Apakah kita akan terus memaksa anak kita belajar hingga mereka benci belajar padahal kita tahu kecintaan belajar yang bisa membuat mereka bisa menghadapi perubahan yang begiti cepat?

Apakah kita akan terus memberi tugas dan PR menghafalkan (download) yang membosankan pada anak kita padahal kita tahu kemampuan berkarya (upload) yang dibutuhkan pada jaman kreatif?

Apakah kita akan terus memaksa anak kita untuk mencapai standar-standar padahal kita tahu keunikan dan sentuhan personal yang membuat kontribusi anak kita pada dunia tidak mudah digantikan orang lain atau robot?

Apakah kita akan terus mendoktrin anak kita untuk percaya bahwa nilai dan ijasah adalah bekal satu-satunya untuk berkarier cemerlang padahal kita tahu ada jutaan orang yang hanya berbekal ijasah menjadi pengangguran?

Apakah kita akan terus mendorong anak kita untuk mengejar profesi bergengsi yang laris padahal kita tahu setinggi apapun gengsi suatu profesi tidak akan mendatangkan kebahagiaan bila profesi itu tidak sesuai potensi anak kita?

Apakah kita akan terus mengabaikan potensi dan impian anak kita demi kepentingan akademis padahal kita tahu potensi dan impian anak adalah sumber energi anak kita untuk menghadapi berbagai tantangan di jamannya?

Berhenti, jangan rampas impian anak kita. Anak bukan kertas kosong yang bisa semena-mena dicoret-coret oleh orang orang dewasa.

Stimulasi, kenali dan kembangkan bakat anak kita.

 

Bukik Setiawan
Bakat.TemanTakita.com

Dapatkan buku Bakat Bukan Takdir
di toko kesayangan anda

impian anak

Sumber foto: Nusantara Photography 

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

3 thoughts on “Berhenti, Jangan Rampas Impian Anak Kita”

  1. Memaksa sih jangan tapi diberi support iya.. karena kalau bukan kita yang nyupport mereka siapa lagi. anak adalah titipan, kalau bisa sih jangan cuma impian dunia, tapi impian akhirat juga :)

Gimana komentarmu?