Belajar itu Kosong Menjadi Startup 4

Menjadi Startup: Belajar itu Kosong

Belajar itu kosong. Itulah mengapa anak kecil lebih mudah belajar daripada orang dewasa. Itulah bekal sebuah startup menjadi perusahaan yang berkelanjutan

Belajar itu kosong. Bila tidak kosong maka tak ada tempat untuk pengetahuan baru di dalam diri kita. Belajar itu kosong. Bila tidak kosong maka berjuta prasangka akan kita arahkan pada pengetahuan baru. Belajar itu kosong, begitulah yang saya rasakan selama 2 hari mengikuti Boot Camp Indigo Incubator, Jumat – Sabtu, 5 – 6 juli

Menjadi startup adalah serial tulisanku selama mengikuti program indigo Incubator bersama tim TemanTakita.com. Seberapa banyak tulisan diserial ini? Pertama tergantung seberapa sempat saya menuliskan pelajarannya dan seberapa lama bisa mengikuti tahapan Indigo Incubator. Doakan ya…..

Apa itu Indigo Incubator? Jadi seperti saya tulis “Media Sosial Takita, Maju Langkah Demi Langkah”, Tim TemanTakita.com terpilih untuk mengikuti indigo Incubator, sebuah program dari PT Telkom untuk menginkubasi/mengembangkan startup, rintisan bisnis teknologi. Program ini terdiri dari 4 tahap: validasi ide, validasi program, validasi market dan akselerasi bisnis. Tiga tahap awal saja membutuhkan waktu 23 minggu dan selama itu pula saya akan kos di bandung, bila lulus setiap tahapnya :D

Serial Menjadi Startup edisi perdana ini temanya adalah belajar itu kosong. Mengapa begitu? Begini ceritanya :D

Harusnya saya sudah di Bandung pada Kamis, 4 Juli 2013 yang agendanya adalah Awarding Day Indigo Incubator buat para startup terpilih. Sayangnya, sudah ada agenda isteri untuk mengikuti Ujian Terbuka disertasinya pada hari yang sama. Jadi, saya memilih hadir di ujian terbuka itu dan mendelegasikan pada @ZulsDesign untuk menjadi wakil tim Takita pada hari pertama.

Belajar itu Kosong Menjadi Startup 2
Nah mentornya pun asyik

Saya sendiri baru menyusul hari kamis malam dengan menunggangi mengendarai Kereta Turangga dan sampai di stasiun Bandung terlambat. Kontan saja langsung naik taksi meluncur ke Bandung Digital Valley di kompleks Telkom di Geger Kalong. Kontak-kontak sama @Zulsdesign yang sudah menunggu di penginapan. Tim kami mendapat sebuah kamar lantai 3 di wisma Widyaloka 1, sepertinya penginapan tertua di kompleks tersebut. Jadi bayangkan sendiri ya….. :D

Ya pagi itu, saya mulai mengikuti Boot Camp Indigo Incubator selama dua hari. Resiko orang terlambat, ketika semuanya sudah saling menyapa sana-sini eh saya masih tolah-toleh sini-sana. Apalagi ketika masuk ruangan Bandung Digital Valley (BDV) yang wow banget.  Ruangan yang didominasi warna putih dengan corak kuning. Putih yang cemerlang penuh semangat, kuning yang optimis akan masa depan. Ornamen organik menghiasi dinding dalam beragam bentuk seakan menantang untuk terus berproses mengikuti siklus kehidupan. Bagian tengah menjadi area kerja yang diapit area santai diseputarnya, ada meja-meja cafe, ada sofa-sofa putih yang menggoda buat tidur. Tapi karena belum kenal siapa-siapa, akhirnya cuma mengalir saja mengikuti aba-aba dari @Zulsdesign sampai masuk dalam ruangan Boot Camp.

Belajar itu Kosong Menjadi Startup 1
Perhatikan pemandangannya

Narasumber dan mentor Boot Camp ini ada praktisi dari eksternal BDV seperti Andy Zaky, Yohan Totting, Jimmy S.K., dan Juwanda (Siapa lagi ya?). Ada juga narasumber dan mentor dari internal BDV yaitu Direktur Eksekutif BDV Indra Purnama dan Andriansyah selaku Manajer Bisnis BDV. Beragam latar belakangnya sehingga semesta pembicaraannya memperluas wawasan peserta.

Dan saudara-saudara apa yang saya saksikan ketika di dalam ruangan? Saya ternyata peserta paling senior. Kebanyakan peserta itu orang muda yang baru lulus beberapa tahun yang lalu. Hebat mereka! Baru beberapa tahun lulus sudah berani merintis sebuah startup. Saya sendiri  umur berapa baru berani merintis usaha sendiri *lihatcermin

Meski Boot Camp berjalan lancar dan menarik, ada satu hal paling berat yang saya rasakan. Masuk ruangan mendengar konsep Lean Startup dan sekian banyak konsep penjelas lainnya. Apa pula Lean Startup? Apa pentingnya? Kok modelnya pakai canvas dari business model?” Lah kok ada interview ala riset kualitatif gini? dan banyak lagi pertanyaan. Jadi sepanjang proses, segerombolan sel otak saya selalu usil melepaskan sekian pertanyaan subversif. Pertanyaan yang mengkudeta keabsahan konsep yang diajarkan di Lean Startup itu.

Belajar itu Kosong Menjadi Startup 3
Lagi Serius…..

Tapi lama kelamaan, saya teringat niat awal  hadir di Boot Camp Indigo Incubator. Untuk apa saya disini? Saya jadi ingat, saya hadir disini untuk belajar,  belajar mengembangkan usaha yang lebih sesuai passion saya, belajar konsekuen terhadap pilihan hidup. Niat belajar ini yang kemudian membuat saya sadar bahwa pertanyaan subversif itu tidak pada tempatnya.

Belajar itu kosong. Karena bila benak kita penuh berisi pengetahuan lama, maka pengetahuan baru akan dinilai berdasarkan kriteria pengetahuan lama. Pengetahuan baru tidak akan mendapatkan tempat, tidak diberi tempat oleh pengetahuan lama yang sudah nyaman bercokol di benak kita. Saya memilih untuk belajar, saya memilih untuk mengosongkan benak, mengabaikan pertanyaan subversif. Saya pegang kembali keyakinan bahwa belajar itu kosong.

Belajar itu Kosong Menjadi Startup 4
Sungguh Menggoda

Belajar itu kosong ternyata bukan saja diperlukan oleh seorang individu seperti saya. Sebuah startup pun butuh cara berpikir belajar itu kosong, bahkan mungkin juga sebuah perusahaan besar. Setidaknya itu yang saya pahami ketika mempelajari Lean Startup. Apa itu?  Lean Startup, metode yang diperkenalkan Eric Ries untuk mengembangkan sebuah startup.

Startup adalah sebuah usaha yang serba tidak pasti. Usaha yang berusaha menyelesaikan problem yang belum pasti, kalau pun ada problemnya, belum pasti solusinya, kalaupun ada solusinya, belum pasti siapa pengguna dan pembelinya, kalau pun ada pengguna dan pembelinya, belum pasti bisa dibuat model bisnisnya. Melihat dari pengertiannya, kebanyakan startup adalah para inovator.

Berapa peluang sebuah inovasi diterima oleh masyarakat luas? Sangat kecil sekali peluangnya, serba tidak pasti. Tidak ada data untuk memprediksi keberhasilan sebuah inovasi di masa depan. Oleh karena itu, para pendiri startups pun perlu mempunyai cara berpikir belajar itu kosong. Belajar itu kosong adalah cara berpikir untuk “melupakan” pengetahuan lama dari benak agar bisa melihat kemungkinan-kemungkinan baru di masa depan.

Metode Lean Startup mengajarkan kita untuk menerjemahkan visi menjadi serangkaian dugaan atau hipotesis. Satu per satu dugaan itu diuji satu per satu untuk menemukan yang valid sebagai pijakan untuk membangun startup. Setiap kali dugaan teruji, setiap kali pula pelajaran didapatkan, apakah valid atau tidak valid sebuah dugaan. Dalam tahap startups, jumlah pelajaran yang didapatkan jauh lebih penting daripada jumlah keuntungan yang didapatkan. Bila sejak awal sudah memegang erat pengetahuan lama, percayalah tidak ada pelajaran yang didapatkan. Begitulah mengapa startup butuh cara berpikir belajar itu kosong.

Atau setidaknya, pelajaran pertama dari pengalaman menjalani program Indigo Incubator adalah belajar itu kosong. Bagaimana menurutmu? 

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

12 thoughts on “Menjadi Startup: Belajar itu Kosong”

  1. Mantap sharingnya Mas Bukik.
    Ditunggu lanjutannya.

    Semoga sukses terus buat Mas Bukit dan tim Boneka Takita.
    Insya Allah saya dan tim juga lagi belajar buat start up yang baik :)

  2. Makasih utk inspirasinya.. Tulisan pak Bukik menjawab apa yg ada di benak saya pagi td. Gelas kosong dpt diisi dan menampung air yg dituang ke dlmnya. Gelas penuh akan menumpahkan apapun yg dituang ke dlmnya. Ditunggu lanjutannya…

  3. sepertinya ini penjelasan dari pepatah China dari dosen saya waktu kuliah di stikom, makasih pak Bukik :D,
    jujur selama ini saya gak paham sama pepatah “isi itu kosong, kosong itu isi”.

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.