Belajar Dari Ki Hajar Dewantara di Mata Najwa 1

Siapa Ki Hajar Dewantara? Bapak Pendidikan Nasional. Apa ajarannya? Mari belajar dari Ki Hajar Dewantara demi pendidikan yang lebih baik. 

Belajar dari Ki Hajar Dewantara? Apa yang dipelajari? Bukannya ajarannya hanya “Tut Wuri Handayani”? Atau hal lain yang kita ingat dari beliau adalah hari lahirnya yang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Wajar pertanyaan itu muncul karena sangat jarang orang membaca dan mengenal pemikiran Ki Hajar Dewantara, bahkan dikalangan guru dan aktivis pendidikan sekalipun. Mungkin ini akibat pelajaran sejarah kita yang lebih mengajarkan tanggal dan tahun kejadian, bukan sejarah pemikirannya. Akibatnya, sejarah dan tokohnya hanya menjadi pajangan penghias.

Sebenarnya tidak sulit mempelajarinya. Anda cukup membaca dua buku berjudul “Karya Ki Hadjar Dewantara I: Pendidikan” dan “Karya Ki Hadjar Dewantara II: Kebudayaan”. tapi akibat pelajaran sejarah yang menekankan hafalan kejadian, maka kita enggan mencari tahu dan mempelajari pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Saya pun beberapa tahun yang lalu mempunyai keengganan serupa, sampai ketika membaca bukunya, saya merasa jadi orang tolol. Dan luar biasa, ketika membaca buku beliau, saya mendapat energi untuk menyelesaikan  buku pertama saya, Anak Bukan Kertas Kosong.

Nonton Mata Najwa Edisi Belajar dai Ki Hajar Dewantara

Apa saja ajaran Ki Hajar Dewantara? Jika melihat pendidikan saat ini, apa ajaran Ki Hajar Dewantara yang sudah mulai ditinggalkan oleh sekolah-sekolah di Indonesia pada umumnya? Itu adalah dua pertanyaan dari beberapa pertanyaan di surel (email) dari tim riset Mata Najwa edisi Belajar dari Ki Hajar Dewantara yang saya terima beberapa hari yang lalu. Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya bisa menjadi satu buku tersendiri. Tapi tentu saya tidak menjawab surel itu dengan sebuah buku. Bukannya tidak sanggup, tapi mana sempat. Jadi saya coba meringkas beberapa poin penting ajaran Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan. Jawaban yang tidak menggambarkan keseluruhan ajaran beliau, tapi setidaknya bisa menjadi pengantar untuk belajar dari Ki Hajar Dewantara.

a. Ajaran tentang tujuan pendidikan

Orang yang telah mempunyai kecerdasan budipekerti itu senantiasa memikir-mikirkan dan merasa-rasakan serta selalu memakai ukuran, timbangan dan dasar-dasar yang pasti dan tetap….Dengan adanya budi pekerti itu tiap-tiap manusia itu berdiri sebagai manusia merdeka (berpribadi), yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri (mandiri). Ki Hajar Dewantara, (Pendidikan, halaman 25)

Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Ki Hadjar Dewantara (Pendidikan, halaman 20)

b. Ajaran tentang anak

Hidup dan tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan dan kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, teranglah hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Ki Hadjar Dewantara (Pendidikan, Halaman 21)

“Bahwa dalam segala tingkah laku dan keadaan hidupnya anak-anak itu sudah diisi oleh Sang Maha Among segala alat-alat yang bersifat mendidik si anak.” Ki Hadjar Dewantara (Pendidikan, halaman 242)

Untuk keperluan pendidikan, maka umur anak-anak didik itu dibagi menjadi 3 masa, masing-masing dari 7 – 8 tahun (1 windu): a. Waktu pertama (1 – 7 tahun) dinamakan masa kanak-kanak. b. waktu ke-2 (7 – 14 tahun), yakni masa pertumbuhan jiwa fikiran. c. masa ke-3 (14 – 21 tahun) dinamakan masa terbentuknya budi pekerti. (Pendidikan, halaman 28)

c. Ajaran tentang belajar

Tujuan pengajaran pengetahuan haruslah ditujukan ke arah kecerdikan murid, selalu bertambahnya ilmu yang berfaedah, membiasakannya mencari pengetahuan sendiri, mempergunakan pengetahuannya untuk keperluan umum. Ki Hajar Dewantara (Pendidikan, halaman 17).

“Ganjaran dan hukuman itu tidak diberikan, untuk menjaga jangan sampai anak biasa bertenaga hanya kalau ada untung (ganjaran) atau hanya karena takut akan mendapat hukuman.” Ki Hadjar Dewantara (Pendidikan, halaman 399 – 400)

Anak-anak rusak budi pekertinya, disebabkan selalu hidup dibawah paksaan dan hukuman. Ki Hajar Dewantara (Pendidikan, halaman 13)

Permainan anak itulah pendidikan. Ki Hajar Dewantara (Pendidikan, halaman 241)

Guru jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja, akan tetapi harus juga mendidik si murid akan dapat mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluan umum. (Pendidikan, halaman 48)

Didalam hidupnya anak-anak adalah tiga tempat-pergaulan yang menjadi pusat-pendidikan yang amat penting baginya, yaitu alam-keluarga, alam-perguruan, dan alam pergerakan pemuda. (Pendidikan, halaman 70).

d. Tentang ajaran Ki Hajar Dewantara yang ditinggalkan 

Ada banyak ajaran Ki Hajar Dewantara yang ditinggalkan di bidang pendidikan, tapi secara umum dapat diringkas menjadi kalimat:

Dari gemar belajar menjadi belajar yang dipaksakan

  1. Belajar tidak sesuai tahap perkembangan anak
  2. Belajar sebagai paksaan dengan iming-iming hadiah dan ancaman hukuman
  3. Belajar sebatas untuk mengerjakan ujian
  4. Belajar yang berorientasi kompetisi, bukan kolaborasi
  5. Belajar yang tidak bermakna bagi anak (mengapa belajar? untuk apa?)

Ternyata surel dan jawaban saya berbuntut panjang. Saya diundang untuk menjadi narasumber di Mata Najwa edisi Belajar dari Ki Hajar Dewantara sebagai penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong. Memang bukan menjadi narasumber yang duduk di tengah panggung, tapi pemberi tanggapan yang duduk bersama penonton Mata Najwa. Meski begitu, saya merasa sebuah kehormatan karena dipilih saja berarti apresiasi terhadap usaha saya mengenalkan ajaran Ki Hajar Dewantara baik melalui buku Anak Bukan Kertas Kosong maupun tulisan-tulisan di media sosial.

Mata Najwa Edisi Belajar dari Ki Hajar Dewantara
Bersama Najwa Shihab dan Najelaa Shihab saat Rekaman Mata Najwa Edisi Belajar dari Ki Hajar Dewantara

Bagaimana keseruan Mata Najwa edisi Belajar dari Ki Hajar Dewantara? Apa kisah menakjubkan yang diceritakan para cucu beliau? Bagaimana Menteri Anies Baswedan belajar dari Ki Hajar Dewantara? Bagaimana pula komentar saya? Silahkan saksikan Mata Najwa edisi Belajar dari Ki Hajar Dewantara pada Kamis, 26 Nopember 2015 pukul 20.00 WIB.

Apakah anda akan menyaksikan Mata Najwa edisi Belajar dari Ki Hajar Dewantara? Mengapa?

Baca juga Inilah Cara Belajar Calistung ala Ki Hajar Dewantara

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

8 thoughts on “Belajar Dari Ki Hajar Dewantara di Mata Najwa 1”

  1. Bpk. Ki Hajar Dewantara bukan hanya sekedar bapak pendidikan nasional, tetapi beliau adalah manusia pilihan Tuhan yg mendapat kepahaman ttg ajaran Sang pencipta kehidupan dan beliau telah menyampaikan amanatNya kpd kita semua utk kebaikan bagi putra-putri kita agar menjadi manusia2 yg rahmatan lil alamin yg dpt mengangkat martabat bangsa.

  2. Mas bukik, batiknya kedodoran ih hahaha.
    Dari yang saya rasakan mas, hal yang paling sederhana seperti “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani” pun banyak temen-temen yang belum tau makna nya.

  3. Saya melihat KiHajar Dewantara mengajarkan kita utk mengembalikan makna dari sekolah dengan mendirikan Taman Siswa.Dan 3 hal ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani” harus melekat dlm diri seseorang yg memilih profesi sbg guru. Insyaa Allah nonton :)

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.