search

Belajar Appreciative Inquiry bersama KPK

Beberapa tahun yang lalu hanya sebuah mimpi. Saat ini menjadi kenyataan. Belajar Appreciative Inquiry bersama KPK 

Appreciative Inquiry dan KPK pernah saya dengar beberapa tahun yang lalu. Dalam sebuah seminar, Heriati Gunawan, bercerita pengalamannya merumuskan budaya organisasi KPK RI menggunakan Appreciative Inquiry. Waktu itu terasa seperti mimpi, mempraktekkan pendekatan positif pada lembaga yang menjadi pusat sorotan. Tapi pada akhirnya, fokus dan konsistensi menciptakan jalan bagi terwujudnya sebuah mimpi.

Workshop ini sungguh bikin saya senang. Kebanyakan organisasi memilih merasakan kegunaan Appreciative Inquiry, tapi jarang yang bersedia meluangkan waktu dan energi untuk mempelajarinya sendiri. Selama 7 tahun mengembangkan, KPK adalah organisasi pertama yang bersedia mempelajari Appreciative Inquiry, bahkan sampai 3 hari.

Jadi gini ceritanya, beberapa bulan yang lalu mendapat email dari teman-teman KPK untuk membantu workshop pendidikan anti korupsi di dua kota yang dapat dibaca disini. Setelah workshop itu, ternyata teman-teman KPK antusias buat mempelajari lebih lanjut, belajar jadi praktisi Appreciative Inquiry. Oh ya buat temant-teman yang belum tahu Appreciative Inquiry, bisa mengunduh ebooknya disini.

Mungkin ada yang bertanya, “Ngapain KPK belajar Appreciative Inquiry? Mau positive thinking terhadap para koruptor?”. Pertama, Appreciative Inquiry bukan positive thinking, tapi pendekatan untuk menciptakan sebuah inovasi. Kedua, korupsi sudah menjadi penyakit sosial, KPK bisa menangkap para koruptor, tapi KPK tidak bisa sendirian untuk menyehatkan masyarakat dari penyakit sosial tersebut.

Jadi sasaran workshop di KPK ini adalah melahirkan para praktisi Appreciative Inquiry yang bisa melakukan pengembangan organisasi dan gerakan sosial. Praktisi yang bisa memfasilitasi masyarakat menjadi lebih sehat dan lebih kuat dalam menghadapi virus korupsi. Karena tanpa masyarakat yang sehat dan kuat, korupsi akan selalu menjadi penyakit sosial.

Setelah mendapat permintaan buat memfasilitasi workshop ini, saya menyiapkan materi, partner dan peralatan. Saya membuat beberapa alat bantu untuk memudahkan peserta workshop buat memahami konsep Appreciative Inquiry. Berdasarkan ketersediaan waktu, akhirnya terpilih Ken alias Sasmita Effendi sebagai partner fasilitator. Partner yang banyak membantu, mulai dari penyiapan peralatan seperti mencetak poster dan buku  Appreciative Inqury hingga membantu mengisi beberapa sesi kunci. Oh ya KPK juga meminta Deni Rodendo untuk melakukan graphic recording terhadap proses workshop ini.

Meski ada beberapa kesulitan, pada akhirnya persiapan berjalan lancar dan kami pun meluncur ke Jakarta. Sampai Jakarta, kesulitan belum juga mau usai. Sempat memakan waktu untuk mengurus check-in gara-gara batas kartu kredit yang tidak mencukupi :D. Tapi memang ya, dalam setiap kesulitan ada kemudahan. Akhirnya ada rekan yang membantu mengatasi kesulitan itu.

Kerangka Belajar Appreciative Inquiry

Kerangka Belajar Appreciative Inquiry

Tempat workshopnya di Annex Building, gedung di belakang Wisma Nusantara. Tahu? Ah sama, saya juga baru pertama kali kesana. Perjalanan dari hotel ke tempat workshop pada hari pertama naik taksi, tapi hari-hari berikutnya naik bajay. Seru ternyata :D

Apa saja yang dipelajari dalam 3 hari workshop? Pada hari pertama, kami belajar bersama untuk mengalami proses Appreciative Inquiry. Tidak ada pembelajaran terbaik selain dengan mencobanya langsung kan? Setelah mengalami, saya memandu proses refleksi untuk menemukan pelajaran penting. Pelajaran-pelajaran itu yang kemudian dihubungkan dengan Appreciative Inqury mulai dari asumsi, pengertian, perbedaannya dengan pendekatan defisit hingga prinsip-prinsipnya.

Pada review diawal hari kedua, seorang peserta menggarisbawahi sebuah catatan penting mengenai pengertian Appreciative Inquiry. Appreciative Inquiry bukan positive thinking, tapi generative thinking. Sebuah pendekatan untuk menciptakan inovasi sosial. Sebuah alternatif terhadap pendekatan defisit yang terfokus pada penyelesaian persoalan yang berdampak lahirnya pesimisme, saling menyalahkan, tidak percaya diri dan gagal melahirkan inovasi baru.

Appreciative Inquiry bukan positive thinking

Appreciative Inquiry bukan positive thinking

Pada hari kedua, kami belajar microskill, mulai dari identifikasi topik afirmatif, menyusun pertanyaan apresiatif, menjadi pewawancara apresiatif hingga analisis hasil wawancara apresiatif. Materi yang cukup berat, tapi berkat antusiasme peserta dan metode belajar yang pas membuat proses berjalan lancar dan menyenangkan. Saya membatasi diri buat ceramah panjang lebar :D, tapi memberi banyak kesempatan buat mengalami pada awal dan latihan pada akhir sesi.

Pada hari ketiga, proses pembelajaran terus menanjak untuk mempelajari macroskill, belajar merancang intervensi Appreciative Inquiry dalam konteks perubahan, hingga seni fasilitasi dan desain pertemuan. Oh iya materi desain pertemuan tidak sempat tersampaikan karena pembelajaran lebih fokus pada perancangan intervensi AI. Diskusinya panjang lebar mengenai desain intervensi perubahan berdasarkan Appreciative Inquiry dalam konteks peran dan fungsi KPK.

Dialog Kelompok Appreciative Inquiry

Dialog Kelompok Appreciative Inquiry

Ternyata kesulitan masih belum juga berhenti, saya merasakan demam mulai hari kedua yang memaksa saya minum obat flu. Sementara, Ken demam pada hari ketiga hingga suaranya menjadi parau. Tapi pada akhirnya, workshop 3 hari pun usai dengan menyenangkan dan memberi manfaat. Peserta mendapat banyak pelajaran sebagaimana yang ditulis di lembar valuasi, kami pun sebagai fasilitator mendapatkan banyak pelajaran. Saya coba mengurai beberapa pelajaran penting yang saya dapatkan.

Pertama, kebutuhan belajar peserta merupakan kunci sukses sebuah pelatihan. Bila peserta motivasinya mengikuti training hanya karena instruksi, maka proses pembelajaran menjadi berat. Dalam workshop ini, tim inti telah lama menyebarkan gagasan Appreciative Inquiry. Akhirnya ketika workshop diadakan, beberapa peserta memiliki kebutuhan belajar dan antusias. Antusias pun menyebar luas.

Kedua, dalam beberapa kesempatan saya merasakan bagian tersulit dalam menjelaskan Appreciative Inquiry adalah menjelaskan prinsip-prinsipnya. Prinsip Appreciative Inquiry berkebalikan dengan keyakinan umum yang cenderung positivistik. Tapi apa yang biasanya sulit ternyata bisa berjalan lancar berkat sebuah alat bantu sederhana bernama Piramida Perubahan dan Pembelajaran Kinestetik.

Piramida Perubahan adalah sebuah alat bantu untuk menstrukturkan 5 prinsip Appreciative dalam sebuah alur proses perubahan. Sehingga penjelasan sebuah prinsip terbantu oleh penjelasan prinsip lainnya. Ketika belum paham mengenai sebuah prinsip, kita bisa mengkaitkannya dengan prinsip lain yang sudah terpahami. Jadi setiap prinsip saling mendukung untuk memberi penjelasan terhadap keseluruhan prinsip.

Piramida Perubahan Sosial Appreciative Inquiry

Piramida Perubahan Sosial Appreciative Inquiry

Pembelajaran kinestetik adalah proses pembelajaran dengan menjadikan pergerakan tubuh sebagai bagian dari proses belajar. Jadi ketika workshop, saya meminta peserta memilih prinsip yang dipahaminya dan kemudian bergerak menempatkan diri dalam Piramida Perubahan yang telah diatur dilantai. Bergerak bukan sebagai diri, tapi berperan sebagai prinsip. Ada proses menjiwai prinsip kedalam tubuh yang membantu aktivasi otak untuk memahami lebih dalam.

Ketiga, keterkaitan isi pembelajaran dengan kebutuhan peserta adalah penting. Sebagus apapun materinya, semagic apapun atraksinya, sehebat apapun multimedianya, pada ujungnya adalah bagaimana hasil pembelajaran dapat diterapkan baik dalam konteks personal maupun pekerjaan. Keterbukaan peserta mengenai kebutuhan maupun kesulitan di tempat kerja membantu kami untuk menyiapkan dan menyajikan materi secara tepat.

Pada akhirnya, sebagaimana teman-teman peserta, kami sebagai fasilitator pun banyak berharap pembelajaran Appreciative Inquiry dapat menguatkan masyarakat untuk menghadapi penyakit sosial bernama korupsi. Penggunaan Appreciative Inquiry bisa menguatkan inti-inti positif dalam diri masyarakat. Penggunaan Appreciative Inquiry bisa mencipta imajinasi segar yang melahirkan tindakan-tindakan baru. Penggunaan Appreciative Inquiry dapat membangun relasi yang saling mengapresiasi dan membangun kolaborasi antar pihak untuk mewujudkan Indonesia yang lebih keren. Semoga…..

Apa yang kamu pelajari mengenai Appreciative Inquiry dari posting ini?

Incoming search terms:

Tags: , , ,

2 Comments

  1. Posted March 29, 2013 at 10:23 am | Permalink

    sepakat dengan ini =>> Tidak ada pembelajaran terbaik selain dengan mencobanya langsung kan? ::)

  2. Posted April 1, 2013 at 2:37 pm | Permalink

    Wah wah, senang deh mendengar bahwa KPK mau belajar AI. Semoga ke depan semakin banyaak institusi pemerintah yang sadar bahwa pengembangan budaya positif di organisasi itu penting! :)

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

Blog Bukik - Karir, Teknologi dan Organisasi