Psikografi Calon Gubernur Jawa Timur
Pengantar Psikografi Calon Gubernur Jawa Timur: Mengenal calon sebagai kawan dekat kita
Artikel ini dimuat di Harian Kompas Jawa TImur, 14 Juli 2008
Andaikan kita mengenal setiap calon gubernur dan wakil gubernur jawa timur seperti kita mengenal kawan dekat anda. Andaikan kita mengenal mereka sebagai seorang manusia biasa, bukan sebagai politisi, pejabat pemerintah, ulama, pengusaha atau peran mereka di masyarakat. Apa yang akan terjadi? Bagaimanakah anda membayangkan kepemimpinan mereka?
***
Era reformasi membuka pintu keterbukaan begitu luasnya. Informasi membanjiri masyarakat tiap saat, tiap waktu. Setiap orang, setiap tokoh bisa menyebarkan berbagai informasi dalam segala macam bentuknya. Apalagi dalam konteks pilkada, menjadi sebuah kewajaran bila setiap kandidat saling bersaing menyajikan informasi yang menguntungkan diri dan dengan cara yang memikat.
Di sisi sebaliknya, para pengamat dan kritikus akan menyampaikan informasi yang berbeda arahnya. Kebanyakan akan memaparkan penilaian negatif terhadap kandidat, bahwa kandidat A lemah dalam berkomunikasi, kandidat B itu kurang tegas.
Apakah sungguh berbeda informasi yang disampaikan oleh kedua belah pihak itu? Arahnya berbeda. Tapi sifatnya sama. Informasi yang disajikan sudah merupakan pembandingan kandidat dengan suatu standar tertentu. Akibatnya, keunggulan dan kelemahan kandidat adalah perkara memilih suatu standar. Nah, pertanyaannya apa standar yang paling tepat? Siapa yang berhak menetapkan standar itu?
Bicara demokrasi. Rakyatlah yang berhak. Setiap orang bisa, setiap pembaca bisa, menetapkan sesuai dengan selera masing-masing. Dalam kerangka itu, tim riset LP3T Fakultas Psikologi Universitas Airlangga melakukan riset dan memaparkan hasilnya kepada publik. Riset dilakukan untuk memahami setiap kandidat sebagai manusia biasa dengan segala macam keunikannya, selayaknya warga jawa timur lainnya.
Riset ini dilakukan oleh suatu tim yang terdiri dari 9 periset dan 13 asisten periset. Periset terdiri dari Budi Setiawan M., M.Psi, Ilham Nur Alfian, M.Psi, Drs. Ino Yuwono, MA, Wiwin Hendriani, M.Si, Iwan Wahyu Widayat, M.Psi, Herison Purba, S.Psi, Dimas Aryo Wicaksono, S.Psi, Andri Firdaus, S.Psi dan Putut Angga S.Psi. Sementara asisten periset terdiri dari 13 mahasiswa tingkat akhir yang telah dilatih sebelumnya.
Riset dilakukan dengan menggunakan multimetode yaitu wawancara, liputsan aktivitas kandidat dan dokumen publik. Wawancara dilakukan untuk mengetahui kejadian-kejadian kritikal dalam kehidupan kandidat. Strategi dan perilaku yang digunakan dalam menghadapi krisis dalam kehidupannya. Liputan bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola komunikasi dan interaksi setiap kandidat dalam menghadapi orang banyak atau publik. Sementara pengkajian dokumen publik bertujuan memberikan informasi mengenai aktivitas dan prestasi kandidat pada masa lalu.
Hasil riset ini akan dipublikasikan dalam bentuk artikel psikografi. Tim riset akan menyusun 3 buah artikel untuk setiap pasangan kandidat. Satu artikel mengulas mengenai calon gubernur, satu artikel mengulas mengenai calon wakil gubernur dan terakhir mengulas bagaimana perpaduan diantara mereka.
Dalam artikel perseorangan kami akan memaparkan lima poin utama yaitu fokus, pola kerja, pola komunikasi, pola persuasi dan spirit tim. Fokus akan memaparkan apa yang menjadi pusat perhatian kepemimpinan kandidat. Isu atau persoalan yang memancing minat dan perhatian kandidat. Pola kerja memaparkan serangkaian tindakan yang menjadi sebuah kebiasaan kandidat dalam melaksanakan sebuah kegiatan.
Pola komunikasi akan memaparkan perilaku komunikasi yang menjadi ciri kandidat. Apa yang dikomunikasikan dan dengan cara seperti apa mengkomunikasikannya. Pola persuasi memaparkan bagaimana kandidat menghadapi perbedaan dan cara mengatasi orang yang berbeda pendapat. Spirit tim mengungkapkan bagaimana peran kandidat dalam sebuah tim dan perlakuannya terhadap anggota tim lainnya.
Setiap artikel akan memaparkan gambaran psikologis setiap kandidat, bagaimana kecenderungan seseorang dalam berperilaku. Paparan, semisal, mengenai kecenderungan seseorang bertindak berdasarkan imajinasinya, sejelas mungkin. Artikel ini tidak berbicara mengenai apakah mereka yang mempunyai kecenderungan seperti itu lebih hebat dibandingkan yang bertindak secara realistis. Tidak berpretensi siapa yang lebih mampu, siapa yang lebih cocok memimpin jawa timur
Gambaran psikologis setiap kandidat diharapkan dapat menjadi masukan bagi warga dalam menentukan pilihan. Setiap orang bisa menggunakan standarnya untuk menilai mana kandidat yang tepat. Artinya, kami sajikan masakan sesuai dengan bahan yang tersedia. Pembaca bisa bebas menentukan masakan yang enak dan yang akan dimakannya.
Apa konsekuensinya? Kami tidak akan menampilkan sosok superman, yang serba super dan serba unggul. Setiap kandidat akan tampil selayaknya spiderman, sosok yang justru digemari karena mempunyai kelemahan manusiawi dibalik kekuatannya. Bagaimanapun, setiap orang mempunyai keunggulan dan kelemahan uniknya.
Dalam melakukan penulisan hasil riset, kami menggunakan teknik metafor. Metafor menjadi pilihan dalam menjembatani ranah konseptual riset dengan ranah sehari-hari pembaca Kompas. Metafor merupakan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Semisal, hatinya seteguh karang. Dia itu orangnya seperti batu. Sebuah cermin sekaligus sebagai sebuah jendela yang memberikan sudut pandang yang berbeda.
Perspektif kita seringkali terhalang oleh stereotype atau persepsi selektif terhadap informasi yang ada. Semisal, ketika kita membicarakan seorang yang telah dipublikasikan secara luas. Kita pasti telah mempunyai bayangan bayangan tertentu tentang orang itu. Membuat kita menerima begitu saja. Tidak ingin tahu lebih lanjut. Membuat pandangan kita tidak jernih.
Metaforlah yang akan mengganggu stereotype yang ada dibenak kita. Metafor akan memancing ketertarikan seseorang akan sesuatu. Metafor akan memberikan sebuah perspektif yang berbeda mengenai sebuah fenomena yang bisa membantu menghilangkan bias atau juga tendensi.
Dalam artikel ini, fenomena yang akan dimetaforkan adalah kepribadian para calon gubernur dan wakil gubernur jawa timur. Metafor bisa jadi seperti bingkai foto yang manis dan akan membuat orang menjadi lebih tertarik untuk mengetahui foto yang dibingkainya. Metafor akan menjadi bingkai cantik bagi kepribadian seseorang. Bingkai yang bisa menggambarkan keutuhan orang tersebut.
Kami sajikan serangkaian hidangan metafor. Silahkan pilih sesuai dengan selera masing-masing. Selamat menikmati!.










