Skip to content

Simultaneity

Inquiry is Intervention

“The leader of the past may have been a person who know how to tell, but the leader of the future will be a person who know how to ask.”
Peter Drucker

Proposisi:

Inquiry adalah intervensi.
Saat kita mengajukan pertanyaan pada saat itu pula kita menciptakan perubahan.

Penjelasan:

Pertanyaan yang kita ajukan merupakan stimulus terhadap diri kita. Stimulus yang akan direspon oleh otak kita (secara kognitif maupun emosi). Pertanyaan akan mengarahkan perhatian kepada obyek yang ditanyakan. Kita menanyakan persoalan maka kita akan memperhatikan persoalan. Kita menanyakan kebaikan orang maka kita akan memperhatikan kebaikan orang itu. Perhatian yang akan menentukan persepsi kita terhadap orang tersebut. Otak kita akan menggali memori terkait apa yang kita tanyakan. Lebih jauh lagi, pertanyaan kita pada akhirnya akan berdampak pada emosi dan tindakan kita. Kita menanyakan kebaikan seseorang, maka emosi dan tindakan kita lebih positif terhadap orang itu.

Dalam pendekatan lama, inquiry/asesmen dan intervensi dipisahkan. Inquiry/asesmen dulu baru intervensi. Appreciative Inquiry meyakini bibit perubahan sudah ada dalam pertanyaan yang kita ajukan. Oleh karena itu, praktisi Appreciative Inquiry menciptakan seperangkat pertanyaan yang menjadi pemicu perubahan.

Contoh

Pertanyaan “apa persoalan kita?” merupakan pertanyaan yang memandu pertemuan yang kita adakan, sadar atau tidak. Perhatikan bagaimana peserta rapat telah antisipatif terhadap pertanyaan itu. Entah itu menyiapkan daftar persoalan atau daftar jurus menghindar atas kesalahan yang terjadi. Ingin perubahan? Ubahlah pertanyaannya

Cerita
Viktor Frankl, psikiater terkenal dan orang yang bisa bertahan hidup dalam kamp konsentrasi, mengaitkan kemampuannya untuk bertahan hidup, sebagian, dengan pertanyaan-pertanyaan yang melingkupinya. Ketika orang-orang lain bertanya, ”Apakah kita akan bertahan hidup?” Frankl malah terjerat oleh pertanyaan, ”Apakah semua penderitaan, kondisi sekarat di sekeliling kita ini memiliki makna?”. Sebagai akibat dari pertanyaan tersebut, Frankl mendiami sebuah dunia yang sangat berbeda dengan kebanyakan teman-teman senasibnya. Meskipun dalam kamp konsentrasi, dunianya adalah dunia yang memiliki makna dan kemungkinan, sementara dunia rekan-rekan senasibnya hanyalah dunia hidup atau mati.

Aplikasi

  1. Identifikasi hasil yang diharapkan. Ciptakan pertanyaan yang tentang hasil tersebut
  2. Ubah agenda pertemuan yang biasanya dalam bentuk pernyataan, menjadi pertanyaan.

Apa pertanyaan yang sering diajukan oleh atasan anda? Apa pertanyaan yang banyak di bicarakan di tempat kerja anda?

Belajar lebih jauh mengenai Pertanyaan? Klik saja di Apa Pertanyaan Anda?

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

You may use basic HTML in your comments. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 335 other followers