Appreciative Coaching:Pendahuluan
Certainty is often an illusion, and repose is not the destiny of man.
Aristotle (384–322 B.C.), Greek philosopher, teacher of Alexander the Great
Adakah di antara kita yang bisa melupakan perasaan takjub dan gembira ketika saat kecil kita melihat ke dalam sebuah kaleidoskop untuk pertama kalinya? Tiba-tiba kita mengetahui rahasia dari dunia penuh warna dan pola-pola yang terus berubah ketika kita memutarnya. Tak ada satupun hal di luar yang mampu mempersiapkan diri kita untuk melihat imaji yang kita lihat di dalam. Layaknya sebuah misteri, kita mengintip ke sebuah dunia lain yang benar-benar berbeda, dan yang hanya terlihat dari sebuah lubang kecil!
Ditemukan tahun 1816 oleh seorang anak berbakat, Sir David Brewster dari Scotland, kaleidoskop kembali populer di abad dua puluh satu. Bagi beberapa kolektor dan penggemar, kaleidoskop adalah suatu metafora untuk keutuhan dan integrasi. Alat ini berbentuk tabung dan memiliki cermin-cermin yang dipasang dalam sudut-sudut yang berbeda, untuk memantulkan gambar dari potongan-potongan kaca lepas dan objek-objek berwarna lainnya, yang kemudian menciptakan pola-pola simetris. Ketika melihat melalui lubang pengintip, seseorang dapat memutar-mutar tabung untuk melihat pola-pola yang berbeda. Sebuah kaleidoskop dapat memunculkan berbagai macam gambar dengan jumlah tak terbatas, sembari memusatkan pikiran (orang yang menggunakannya) dengan suatu cara yang mana orang itu melihat ke dalam batas perseptual yang baru, sebuah pengalaman yang mendemonstrasikan penyatuan dan kesalingterkaitan suatu bentuk ke dalam keutuhan organik –tetapi dalam waktu seketika! Satu guncangan kecil saja pada tabung, maka gambaran yang terlihat akan hilang dan muncullah gambar yang baru. Brewster, yang sangat gembira dengan penemuan barunya, menamainya menggunakan kata dari bahasa Yunani kalos (“indah/cantik”), eidos (“bentuk”), and scopos (“pengintai/penglihat”): alat untuk melihat bentuk-bentuk yang indah.
Dalam buku ini, kami akan menjelaskan suatu pendekatan coaching yang didasari oleh Appreciative Inquiry. Intisari dari pendekatan ini —yang disebut Appreciative Coaching—dicontohkan oleh metafora gambar-gambar kaleidoskop Brewster karena itu adalah cara yang menarik untuk membantu klien menemukan kemungkinan-kemungkinan positif yang ada dalam diri mereka. Kami telah melihat bagaimana hanya dengan perubahan yang sangat kecil dalam persepsi diri, klien menjadi pengamat dari kemampuan (indah) mereka untuk lebih menyatu dengan diri mereka sendiri dan menunjukkan impian-impian mereka yang tersimpan begitu dalam. Tentu saja, seseorang berharap bahwa perubahan-perubahan persepsi diri tersebut juga digunakan dalam semua pendekatan coaching yang baik. Apa yang membuat pendekatan apresiatif unik bagi kami adalah bahwa prinsip-prinsip dasarnya terlah didesain untuk menunjukkan pada orang-orang bagaimana cara untuk membuka jalan ke dalam (atau menemukan kembali) ketakjuban dan kegembiraan di masa kanak-kanak, untuk mereka rasakan dalam kehidupan mereka saat ini atau pada kemungkinan-kemungkinan di masa depan.
Harapan Kami Melalui Buku Ini
Kami terdorong untuk menyusun pendekatan apresiatif terhadap coaching ini, karena adanya keinginan untuk membantu klien-klien kami untuk menciptakan kehidupan yang lebih bermakna, dalam cara yang inspiratif dan menarik, namun tetap lembut. Bagaimana kami dapat merawat proses perubahan dan penemuan yang penuh keajaiban pada klien kami dengan cara yang dapat menguatkan dan bebas penilaian bagi mereka? Bagaimana kami membantu klien menyadari impian dan hasrat terdalam mereka, sementara di waktu yang sama juga membantu mereka untuk melihat kekuatan dan kemampuan di dalam diri mereka untuk menyadari keberadaan impian-impian tersebut?
Kami terilhami untuk mengembangkan pendekatan Appreciative Coaching ini, karena masing-masing dari kami, melalui perjalanan kami yang berbeda-beda, telah mengalami perubahan persepsi yang menakjubkan. Perubahan tersebut ternyata sangatlah besar bagi kami semua, terutama dengan latar belakang kami masing-masing. Kami bertiga memiliki gelar doktor dan pengalaman yang begitu luas dalam ranah pengembangan organisasi. Pad awalnya kami dilatih untuk melihat organisasi yang mana kami bekerja bersamanya, sebagai masalah untuk dipecahkan. Tugas kami adalah untuk mendorong para eksekutif, manajer, dan tim-tim dalam organisasi, untuk menemukan masalah mereka, dan kemudian memfasilitasi mereka untuk menemukan solusi dari masalah tersebut. Dengan berfokus pada masalah, klien-klien kami kadangkala mengalami kesulitan untuk berpikir jauh ke luar masalah tersebut. Keadaan mulai berubah ketika kami mulai memasukkan konsep visi dalam pekerjaan kami, tetapi hal itu masih menyisakan perasaan bahwa kami kekurangan suatu cara yang positif, juga meningkatkan ke”hidup”an, bagi klien kami. Walaupun kami sering berhasil membuat perubahan, kami tidak selalu dapat melihat bukti dari semangat dan gairah dari pari klien-klien kami.
Namun bagaimanapun, keadaan tersebut berubah, ketika kami menemukan dan mulai memasukkan pendekatan Appreciative Inquiry terhadap perubahan dalam pekerjaan kami, yang didasari oleh dasar pikiran yang sama sekali berbeda, yang melihat organisasi sebagai keajaiban yang harus digenggam dan sebagai misteri untuk diselidiki. Pendekatan apresiatif ini kemudian memberikan perubahan yang signifikan terhadap bagaimana kami memulai interaksi kami dengan klien. Rasanya seperti kami tiba-tiba melihat klien kami dalam cara yang baru dan unik. Organisasi bukan lagi dipandang sebagai masalah —mereka adalah suatu kesatuan dengan kesuksesan yang melekat pada mereka. Walaupun mereka melakukan beberapa “kesalahan”, mereka lebih banyak melakukan sesuatu yang benar. Kini kami memiliki alat-alat untuk menginspirasi orang agar mau menggali apa-apa yang mereka rasa paling berarti dalam pekerjaan atau karya mereka, dan membagi inspirasi tersebut dengan orang lain di tempat kerjanya.
Sara adalah orang pertama yang menyadari bahwa pendekatan baru terhadap perubahan yang menakjubkan ini mungkin memiliki kekuatan yang sama besar ketika digunakan dalam one-on-one coaching relationships. Bersama-sama, kami mulai perjalanan kami untuk menjelajahi dasar pikiran ini dalam suatu proyek penelitian coaching1 yang berpuncak pada pengembangan proses ini, yang kami sebut Appreciative Coaching.
Asal yang Sama dalam Coaching
Coaching sebagaimana dipraktekkan saat ini adalah suatu ranah yang baru. Pertumbuhannya yang pesat merupakan indikasi bahwa ia membuka jalan ke dalam kebutuhan fundamental untuk membuat kehidupan dan pekerjaan menjadi lebih bermakna, seimbang, serta holistik. Awal dari praktek profesional bersembunyi jauh di dalam lingkup berbagai bidang seperti pendidikan, psikologi, atletik, pengembangan organisasi, serta ilmu komunikasi. Filsafat postmodern, seperti social constructionism, mempengaruhi bagaimana kami berpikir mengenai sifat realitas2 dan kemampuan kami untuk membantu klien dalam menciptakan masa depan yang mereka inginkan. Berawal dari salah satu bidang dasarnya, banyak orang mulai mempelajari dan mempraktekkan coaching. Mereka termasuk para sarjana, manajer, aktor, psikoterapis, dan banyak lagi, dan semuanya memberikan kekayaan sejarah dan pengalaman mereka ke dalam profesi kami. Dengan latar belakang yang mereka miliki, para coach biasanya menemukan alur atau metode inti yang mereka percayai dan mereka gunakan sebagai dasar dalam melakukan coaching.
Banyak pendahulu yang telah membuka jalan untuk kami. Dalam bidang atletik, Tim Gallwey mendemonstrasikan bahwa coaching sebagai suatu metode, berbeda dari disiplin teaching3. Thomas Leonard, penemun coaching modern, membuka lahan baru dalam memasukkan coaching ke dalam area personal maupun arena bisnis. Sejak Leonard mendirikan sekolah CoachU sebagai yang pertama, banyak (sekolah) lainnya yang bermunculan untuk memperkaya bidang tersebut dan mendorong praktisi-praktisi baru untuk bergabung dalam praktek secara profesional dan kompeten. Saat ini, banyak universitas yang mendirikan program gelar akademik dalam coaching.
Para coach kini mulai berpindah, dari mengandalkan intuisi semata dan penemuan teknik-teknik, dan mencari penelitian yang evidencebased (berdasar bukti) yang dapat mendemonstrasikan apa yang benar-benar tepat bagi klien mereka.
Asosiasi coaching profesional mensponsori simposium penelitian baik di Amerika Serikat dan Eropa; universitas-universitas menyokong penelitian melalui disertasi-disertasi doktoral siswa-siswanya; para coach di seluruh dunia kini mulai meningkatkan level keahliannya dengan mengikuti standar yang tinggi dalam profesi mereka. Sebagai konsekuensinya, pengaruh dan prestise bidang ini sebagai disiplin akademik pun semakin berkembang.
Ann adalah seorang pendidik orang dewasa, penulis di bidang bisnis, fasilitator profesional, dan konsultan pengembangan organisasi; ia berasal dari bidang pendidikan, linguistik, dan system organisasi. Ia telah mempelajari dan menggabungkan action-oriented coaching dan coaching perkembangan dalam pekerjaannya bersama para profesional dan eksekutif, dengan latar belakangnya dalam bidang pengembangan organisasi sebelum kemudian menggunakan Appreciative Coaching.
Jackie adalah seorang pendidik orang dewasa dan konsultan pengembangan orgainsasi. Ia berasal dari bidang linguistik, pendidikan orang dewasa, organizational learning, dan human and organizational systems. Hasil kerjanya juga menggabungkan pengembangan organisasi dengan executive coaching.
Sara adalah seorang salesperson, manajer nonprofit, dan direktur pengembangan organisasi. Ia berasal dari ilmu komunikasi, teologi dan human and organizational systems. Ia mengajar performance coaching (action-oriented) dalam program magister manajemen dan juga telah mempelajari metode-metode pengembangan.
Latar belakang kami yang berbeda telah membuat kami dapat memberikan perspektif yang berbeda dalam pekerjaan kami bersama para klien. Penelitian kami telah berpuncak pada pendekatan apresiatif dalam coaching yang mendapatkan inspirasinya dari begitu banyak literatur dari bidang-bidang yang berbeda serta berbagai lokakarya yang telah kami hadiri yang menggunakan metode strength-based dan metode ontological coaching.
Perjalanan Kami Menuju Pendekatan Apresiatif
Meskipun kami mencapai Appreciative Inquiry (yang seterusnya akan disebut AI) melalui jalur yang berbeda, kami menemukan bahwa kami semua menerimanya karena satu alasan yang sama: prinsip-prinsip yang mendasarinya dan filosofinya mengenai perubahan yang positif.
Kisah Sara
Sara pertama kali tertarik dan mengalami metode ini pertama kali ketika bekerja dengan beberapa kelompok di perusahaan. Selama beberapa tahun, karir yang dijalaninya sebagian besar meliputi kelompok orang-orang yang marah dalam forum besar. Sebagai perantara perubahan dalam beberapa perusahaan, ia adalah seorang pembawa pesan yang menyampaikan berita buruk: “Kita harus berubah. Kita harus berubah sekarang.” Para pemilik menginginkannnya, atau keadaan ekonomi menuntut, atau pasar untuk suatu produk sedang berkurang. Orang-orang dalam auditorium dan ruang konferensi ini kemudian duduk terdiam, dengan tangan dilipat di depan dada, alis bertemu, dan tak bisa digerakkan. Mereka telah mendengar berita buruk dan telah diberitahu bahwa mereka harus berubah sebelumnya.
Kemudian Sara menemukan cara baru untuk memulai proses pembelajaran dan perubahan ini, cara yang berdasar pada AI. Ketika ia mulai menggunakan metode ini dalam kelompok-kelompok besar, ia mendapatkan respon yang benar-benar berbeda terhadap pesan-pesan yang disampaikannya. Orang-orang tadi kemudian berdiri dari duduknya. Mereka tersenyum satu sama lain lalu menggali pertanyaan-pertanyaan mengenai masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan. Mereka mengatakan bahwa mereka merasakan kekuatan dalam diri mereka ketika memulai proses perubahan, dan mereka sangat tertarik untuk mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dan menentukan perubahan yang diperlukan. Bahkan, dalam kenyataannya, mereka sangat bersemangat untuk menciptakan perubahan itu sendiri.
Respon antusias terhadap kebutuhan akan perubahan ini tentu membuat pekerjaan Sara menjadi lebih mudah, tetapi hal itu juga membuatnya sedikit waspada. Bagaimana mungkin, bertanya mengenai masa lalu dan harapan masa depan seseorang dapat memunculkan energi yang begitu berbeda dan positif? Apabila energi itu—yang mana ia menjadi bagian di dalamnya— sangat kuat dalam kelompok besar, mungkinkah energi itu juga sama efektifnya apabila hanya pada satu orang saja? Ia kemudian mempelajari AI lebih jauh dan mulai menyesuaikan pertanyaan-pertanyaan intinya ke dalam praktek coaching¬-nya sebagai suatu cara untuk merangkul orang dalam impian dan desain mereka untuk masa depan yang berbeda. Ia juga mulai berpikir untuk membagi penelitian dan pengalaman awalnya dengan coach-nya, dengan harapan ia dapat mengembangkan dan menguji Appreciative Coaching sebagai metode coaching baru. Dalam perjalanannya ini, ia mengajak Jackie dan Ann untuk bergabung dengannya dalam mengembangkan pendekatan tersebut.
Kisah Jackie
Jackie melihat perjalanannya menuju Appreciative Coaching sebagai sesuatu yang telah terjalin dengan perjalanan hidupnya. Ia merasakan motivasi yang kuat dari dalam dirinya untuk mengambil manfaat dari beberapa peristiwa dan kemungkinan ketika keduanya terjadi, untuk mengarahkannya ke dalam suatu cara untuk bekerja dan menjadi yang ia cintai. Perubahan terbesar dalam pekerjaannya dimulai pada tahun 1980-an ketika ia berpindah karir dari pendidikan orang dewasa ke pengembangan organisasi. Ia sangat beruntung kala itu karena mendapatkan guru-guru dan mentor-mentor yang berbakat, yang mengajarinya nilai dari mempelajari masa kini dan mencaiptakan masa depan yang diinginkan sebelum memutuskan langkah-langkah tindakan yang akan dilakukan untuk mewujudkan masa depan tersebut. Selama bekerja bersama mereka, ia mendesain program-program yang menarik semangat klien untuk mencari apa saja kemungkinan yang ada.
Pada tahun 1990, ia mulai bekerja di Ford Motor Company sebagai konsultan internal. Di sana ia diberi kesempatan untuk bekerja sama dengan beberapa pemikir yang ternama seperti Peter Senge, penulis The Fifth Discipline. Selama bekerja dengan Peter dan kolega-koleganya dalam memberikan pembelajaran organisasi pada perusahaan Ford, Jackie pun memperluas pembelajarannya dan metode-metodenya untuk mengintegrasikan keuntungan dan nilai dari self-understanding dan penguasaan ke dalam pekerjaan consulting-nya dengan klien-kliennya. Seiring dengan perkembangannya dalam karirnya ini, ia menyadari keberadaan AI tetapi masih bersikap skeptis terhada fokusnya yang eksklusif terhadap hal-hal positif, terutama dalam fase-fase awal ketika bekerja bersama klien. Ia menyetujui prinsip yang mendasarinya yaitu “we get more of what we focus on (kita mendapatan lebih, dari apa yang kita fokus terhadapnya)” dan bahkan mengajarkan prinsip ini pada kliennya ketika membicarakan tentang visi, namun ia mengalami kesulitan untuk mempertemukannya dengan nilai-nilainya, mengenai bersikap jujur terhadap diri sendiri tentang masa lalu dan masa kini. Kedua prinsip ini bertolak belakang baginya.
Menariknya, kesempatan-kesempatan untuknya memahami dikotomi ini kemudian terus menerus muncul dengan sendirinya pada Jackie dalam bentuk orang-orang yang mendapatkan kesuksesan yang besar dengan AI. Ketika mendengar lebih banyak mengenai hasil-hasil positifnya, ia perlahan-lahan mulai menyadari bagaimana ia telah berada sejalan dengan filosofi dan praktek dari pendekatan ini. Jadi, ketika Sara memintanya untuk bergabung dalam meneliti penerapan prinsip AI ke dalam coaching, hal itu nampaknya menjadi kesempatan yang sempurna untuknya. Dengan melakukannya, ia akan dapat menggali lebih dalam mengenai bagaimana pendekatan apresiatif bekerja, dan mempelajarinya dalam cara yang paling sesuai dengan gayanya. Ia telah percaya pada kekuatan dari berfokus pada hal-hal positif, dan menciptakan bayangan mengenai masa depan. Penawaran ini memberi jalan baginya—melalui meneliti, bereksperimen, merefleksikan, dan menulis— untuk menyatukan pendidikan dan pengalamannya dan pada akhirnya untuk mendamaikan konflik-konflik yang terjadi bersama dengan pendekatan yang ia gunakan sebelumnya. Pengalaman ini menggerakkannya lebih jauh di luar pemahaman intelekual dari suatu prinsip, ke dalam suatu pengertian di dalam diri, tentang bagaimana seseorang dapat merasa begitu memiliki kekuatan, ketika kekuatan yang ada dalam dirinya lebih diperkokoh.
Kisah Ann
Ann pertama kali mulai menggunakan AI dalam upaya strategic planning-nya dengan suatu organisasi. Seperti halnya Sara, ia bekerja bersama para manajer yang pada umumnya skeptis bahwa akan ada perubahan nyata yang terjadi sebagai hasil dari usaha mereka. Mereka telah memiliki banyak sekali pengalaman masa lalu di mana perencanaan yang telah mereka lakukan perlahan-lahan kehabisan kekuatan dan momentum, atau berakhir hanya sebagai laporan-laporan yang terbengkalai di dalam rak. Mereka telah mengetahui bahwa mereka begitu sering terperosok ke dalam masalah-masalah organisasi dan siapa atau apa yang telah menyebabkannya. Ann melihat adanya kemiskinan gairah dan antusiasme kliennya terhadap masa depan, meskipun ia pernah berhasil membantu berbagai kelompok untuk mengidentifikasi area masalah mereka, menciptakan visi bersama, dan memetakan rencana tindakan ke depan yang akan mereka lakukan. Merupakan sebuah tantangan kontinyu untuk merangkul kelompok-kelompok sebagai suatu kesatuan dan individu pada khususnya, dalam cara-cara yang memunculkan perasaan positif mengenai kemana mereka akan menuju.
Ann, seperti halnya Jackie, juga telah menyadari keberadaan pendekatan AI, namun ia berpikir bahwa pendekatan ini hampir tidak mungkin terjadi dalam kenyataannya. Ia tertarik dengan dasar pikirannya yang positif, tetapi ia meragukan pengaruh nyatanya terhadap organisasi. Bagaimana kita dapat menghindari pembicaraan mengenai masalah yang dihadapi oleh organisasi? Apa yang akan dikatakan oleh para manajer apabila ia menampilkan proses perencanaan yang tidak berfokus utama pada masalah-masalah yang sedang mereka hadapi? Semuanya terasa begitu beresiko. Bagaimanapun, dalam kehidupan pribadi dan profesionalnya, Ann adalah seorang pengikut setia penggunaan prinsip-prinsip positif dan pembayangan tentang masa depan. Ia maju bersama klien-klien coaching-nya dan dalam coaching relationship-nya sendiri; coach-nya membantunya untuk membingkai ulang keadaan-keadaan dan persepsi-persepsi diri dalam cara-cara yang lebih positif.
Ketika ia ditanya oleh Jackie dan Sara apakah ia bersedia bergabung dengan mereka untuk meneliti pendekatan apresiatif dalam coaching, Ann merasa takdir telah turut campur. Ini adalah kesempatan untuk menyatukan pendekatan profesional dan personalnya terhadap perubahan. Ia mulai bereksperimen secara sementara dengan pendekatan AI dalam strategic planning yang memintas penekanan pada problem solving dan segera memulai pada apa yang telah berjalan dengan baik dalam organisasi. Seperti Sara, Ann pun mengalami perubahan yang dramatis. Ia dapat merasakan munculnya suatu energi di dalam ruangan, ketika orang-orang mulai berbagi mengenai apa yang paling mereka sukai dalam organisasi dan apa yang paling menginsirasi mereka. Mereka menceritakan kisah-kisah penuh semanga mengenai pekerjaan mereka dan perusahaannya. Mereka tersenyum dan tertawa dan benar-benar menikmati ketika mereka membicarakan masa depan. Segalanya seperti terasa semakin cemerlang. Evaluasi dari sesi perencanaan kemudian benar-benar mendukung penggunaan metode ini untuk menyelesaikan pekerjaan dan berhubungan antara satu sama lain dalam satu cara yang baru dan sangat memberi semangat. Kini, Ann memasukkan prinsip-prinsip dan tahap-tahap AI ke dalam semua proyek strategic planning dan fasilitasinya.
Pertemuan
Jelas, kesuksesan yang kami alami dengan menerapkan prinsip-prinsip apresiatif dalam dunia organisasi dan kelompok memberikan keberanian pada kami selama penelitian kami dengan klien coaching individual. Salah satu prinsip dasar AI—temukan dan mulailah dari kesuksesan anda saat ini dan di masa lalu— telah memberi informasi untuk penelitian kami. Hal yang nampak luar biasa adalah pengalaman-pengalaman kami yang begitu mirip dan berujung pada penggunaan pendekatan apresiatif. Jelas bahwa metode ini sesuai dengan nilai-nilai personal kami mengenai perubahan —bahwa dengan bergerak maju dengan niat yang postif dan percaya pada prinsip-prinsipnya, kami bertanggung jawab terhadap konstruksi aktif akan realitas kami sendiri.
Bias-bias kami akan terlihat sangat jelas di seluruh buku ini. Dalam satu cara, buku ini mewakili begitu banyak pandangan yang ternyata sama dari tiga orang yang berbeda. Apabila anda membaca buku ini karena anda juga memiliki pandangan yang sama, maka kami menyambut anda. Apabila anda membaca buku ini dengan jumlah skeptisisme yang masih wajar, kami menghargai anda atas keingintahuan anda. Seperti yang dapat anda lihat melalui kisah-kisah kami, penerimaan kami terhadap pendekatan ini pun juga bersifat sementara.
Bagaimana Menggunakan Buku Ini
Kami sangat bersemangat untuk membagi kepada anda, dasar-dasar dan pondasi pendekatan kami, seperti halnya berbagai kisah dari klien-klien kami yang –dengan hak istimewa— telah kami saksikan. Kami juga membicarakan mengenai refleksi-refleksi, pemikiran-pemikiran, serta pengalaman-pengalaman dalam perkembangan pendekatan ini dan langkah serta tindakan konkrit saat ini yang dapat anda gunakan untuk memasukkan pendekatan Appreciative Coaching ke dalam praktek yang telah ada, atau apabila anda ingin membuat suatu praktek yang baru. Sebagai bentuk kerahasiaan terhadap klien kami, kami tidak mencantumkan nama para coach dalam kisah-kisah klien; namun, seluruh kisah mengenai klien mengikutsertakan salah satu dari kami sebagai coach. Kami juga telah mengubah nama-nama dari beberapa klien.
Hadiah yang menakjubkan dari keterlibatan dalam upaya ini adalah perasaan bebas yang kini kami rasakan—kebebasan dari keterpaksaan untuk menyaksikan klien coaching kami dalam cara-cara yang terbatas atau problem-oriented. Sangatlah menghidupkan bagi kami sebagai coach untuk mempercayai secara mendasar bahwa kami dapat memfasilitasi keajaiban dan misteri kehidupan ke dalam klien-klien kami sendiri.
Setiap bab dari buku ini telah dirancang untuk membangun (dan membahas) kasus dan menceritakan kisah pengalaman kami dan hasil positif dari pengujian dan penjalinan kembali prinsip-prinsip dan tahap-tahap AI ke dalam suatu model Appreciative Coaching. Dengan alasan inilah, anda akan memperoleh manfaat terbesar dengan membaca bab-bab yang ada sesuai urutan. Apabila anda membaca buku ini dengan banyak pengalaman dan pengetahuan mengenai AI, bagaimanapun, kami persilahkan anda untuk membaca bab-bab yang ada sesuai keinginan anda, bab manapun yang menarik anda untuk membacanya. Niat kami dalam buku ini adalah untuk memberikan praktisi-praktisi Appreciative Coching masa depan, semua teori dan pengetahuan praktis serta alat-alat yang akan mereka butuhkan untuk bergerak maju.
Dalam Bab Satu, kami menceritakan kisah Alan, yang melakukan perjalanan luar biasa dari rasa frustrasi dan rasa malu atas kegagalan usahanya, kepada “tahun yang sangat amat sukses”. Dengan membaca kisah ini, anda akan melihat contoh-contoh dari banyak elemen pendekatan Appreciative Coaching yang dijelaskan dalam kilasan proses coaching kami.
Di Bab Dua, kami melakukan napak tilas mengenai sejarah dan asal proses perubahan AI dan metode-metode positif lainnya, yang mendasari model coaching kami. Seperti dalam setiap proses perubahan yang berhasil, terdapat prinsip-prinsip yang terlibat, yang memandu teori-teori serta prakteknya. Kami mengilustrasikan prinsip-prinsip tersebut dalam Bab Tiga dan Empat, dengan menceritakan kisah-kisah klien kami mengenai transformasi personal dan profesional dan menjelaskan cara-cara mengenali prinsip-prinsip tersebut dalam prakteknya.
Bab Lima memberikan uraian konkrit dan langkah-langkah untuk memulai Appreciative Coaching relationship dengan klien anda. Bab Enam sampai dengan Sembilan menjelaskan empat tahap Appreciative Coaching yakni Discovery, Dream, Design, dan Destiny.
Di Bab Sepuluh, kami menguraikan secara singkat mengenai empat langkah utama yang kam ikuti selama kami menggunakan Appreciative Coaching di dalam praktek-praktek coaching kami sendiri. Kami memberikan saran-saran mengenai cara-cara untuk memasukkan tahap-tahap dan prinsip-prinsip tersebut ke dalam praktek coaching terhadap klien yang sudah ada maupun yang baru, menjelaskan bagaimana cara-cara tersebut dapat memperkaya metode-metode coaching lainnya. Dalam bagian lampiran, kami memberikan ringkasan mengenai proyek penelitian kami, Formulir Informasi Klien yang kami gunakan, dan contoh dari Formulir Persiapan Coaching.
Kami berharap, anda berkeinginan untuk menemukan cara baru untuk melihat coaching relationship atau meningkatkan dan mengembangkan pendekatan yang anda gunakan.
Tentang Penulis
Sara L. Orem, Ph.D., kepala Lotus Coaching, yang memungkinkan direalisasikannya tujuan konkrit seiring dengan impian-impian yang telah lama disimpan oleh klien-klien yang terdiri atas manajer-manajer, artis atau seniman, dan para lulusan sekolah bisnis. Beliau telah memandu pembelajaran dan pengembangan dalam organisasi-organisasi besar jasa finansial, melakukan coaching terhadap tim-tim eksekutif, mendesain pengembangan-pengembangan kepemimpinan, dan mengajar Appreciative Coaching di beberapa program sekolah bisnis. Salah satu fokus penelitian utamanya adalah mengubah konflik menjadi pembelajaran dan kerjasama.
Jacqueline Binkert, Ph.D., presiden Organizational Enterprises, memiliki pengalaman yang sangat luas dalam membantu pemimpin dan para profesional lainnya untuk menciptakan perubahan positif baik dalam organisasi mereka maupun kehidupan pribadi mereka. Melalui pekerjaannya sebagai executive coach dan konsultan pengembangan organisasi, beliau telah membantu klien-kliennya untuk berhadapan dengan berbagai topik seperti halnya strategic planning, leadership excellence, pengembangan personal dan perubahan budaya organisasi. Beliau memiliki ketertarikan khusus pada hubungan antara kepercayaan yang dimiliki seseorang dengan hasil yang mereka inginkan.
Ann L. Clancy, Ph.D., presiden Clancy Consultants, adalah seorang executive
coach, konsultan pengembangan organisasi, fasilitator professional dan peneliti kualitatif. Beliau memberikan coaching pada eksekutif-eksekutif, pemilik usaha, dan para profesional melalui pendekatan apresiatif, dengan mengarahkan mereka pada tahap dimana mereka melakukan discover, dream, dan design untuk kehidupan pribadi maupun profesional mereka, sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan-tujuan mereka yang sebenarnya. Beliau mengkhususkan diri pada menawarkan pendekatan apresiatif pada strategic planning dengan klien-klien seperti perusahaan dan lembaga-lembaga pemerintah, sampai kelompok-kelompok komunitas.
Ini adalah terjemahan bebas dari buku Appreciative Coaching
Lebih jauh tentang Appreciative Coaching bisa di baca di Appreciative Coaching: Pengantar
Bisa juga anda dengarkan di What is Appreciative Coaching?
Mau belajar lebih dalam? Ikuti workshopnya. Klik di SINI











Trackbacks & Pingbacks