Pekanbaru, Anak Bukan Kertas Kosong hingga Guru Belajar

Pada akhirnya, saya berkunjung ke Pekanbaru. Ada banyak pengalaman mulai Anak Bukan Kertas Kosong, Guru Belajar sampai menikmati kuliner :D 

Saya kenal dengan Bu Rahmi Salviviani di Facebook dan saling berbalas komentar di posting pendidikan. Belakangan saya baru tahu kalau beliaunya itu pemilik dari TK Alifa Kids. Sampai kemudian suatu hari beliau menjajaki untuk mengundang saya sebagai penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong ke Pekanbaru. Awalnya saya sempat ragu. Dari pengalaman, ada penjajakan dari orangtua dan guru, tapi ketika disampaikan pada kepala sekolah akhirnya batal. Kenapa? Karena aliran pendidikan dalam buku Anak Bukan Kertas Kosong dianggap tidak sesuai dengan sekolah tersebut.

7 Seminar Anak Bukan Kertas Kosong Pekanbaru TK Alifa Kids.jpg

Ternyata setelah ngobrol panjang lebar, kesimpulannya justru sebaliknya. Bu Rahmi justru kesulitan mencari narasumber yang sejalan dengan prinsip pendidikan yang dijalankan di TK Alifa Kids. Secara umum, TK Alifa menjalankan Pendidikan Menumbuhkan yang saya perkenalkan di Buku Anak Bukan Kertas Kosong berdasarkan ajaran Ki Hajar Dewantara. Contoh mudahnya, TK Alifa Kids tidak mengajari calistung secara terstruktur dan tidak memberikan PR. Dua contoh kecil yang tidak mudah dilaksanakan, karena meski sudah diseleksi, ada saja orangtua yang menuntut anaknya bisa calistung begitu lulus TK, atau orangtua meminta PR buat anaknya.

Setelah ketemu kecocokan mengenai pandangan pendidikan, urusan lainnya jadi mudah. Eh tidak semuanya mudah sih. Honor mudah, penentuan jadwal mudah, tranportasi dan akomodasi mudah, eh sampai pada yang subtansialnya jadi sulit. Bu Rahmi selain mengundang saya, juga berencana membeli buku Anak Bukan Kertas Kosong sebanyak 100 buku. Sangat wajar ya bedah buku disertai jualan buku.

Saya langsung menanyakan persediaan buku ke pihak penerbit. Awalnya dapat kabar baik, persediaan masih numpuk tapi akan dicek ulang ke toko buku dan gudang. Setelah cek ulang, ternyata persediaan buku di gudang habis dan persediaan buku di semua Gramedia di Indonesia hanya tinggal 288 buku. Jreng! Lalu bagaimana saya memenuhi pesanan Bu Rahmi? Tidak bisa. Saya berangkat ke Pekanbaru hanya membawa 5 buku yang tersisa dari persediaan di Toko.TemanTakita.com. Bayangkan, pesanan 100 buku hanya bisa terpenuhi 5 buku Anak Bukan Kertas Kosong. Eh bukan cuma itu, 5 buku plus janji setelah cetakan ketiga jadi sekitar akhir januari :D

Akhirnya dengan berbekal 5 buku dan tas ransel, saya pun terbang ke Pekanbaru. Dari semula 2 agenda, akhirnya bertambah menjadi 3 agenda. Awalnya saya akan bicara mengenai konsep pendidikan dari buku Anak Bukan Kertas Kosong di hadapan guru pada hari Sabtu (11/12) dan hari minggunya di hadapan orangtua siswa TK Alifa Kids. Tapi karena Bu Rahmi tertarik juga dengan gerakan Komunitas Guru Belajar, maka akhirnya bertambah agenda Kopdar Komunitas Guru Belajar Pekanbaru pada hari Sabtu sore. Jadi sekali mendayung tiga pulau terlampui :D

Saya mendarat di Pekanbaru jumat petang, dijemput dan diantar ke tempat penginapan di Hotel Pangeran. Ternyata kelas kamar yang telah dipesan, sudah penuh semua. Konsekuensinya, hotel menyediakan kamar dengan kelas yang lebih tinggi. Kamarnya luas sekali dilengkapi dengan ruang tamu segala. Jeng jeng…..De Ja Vu deh. Kalau anda membaca posting anak saya, Ayunda Damai, kami sekeluarga barusan mengalami pengalaman serupa. Awalnya mau menginap di Hotel Kartika Graha pada kamar standar ternyata karena penuh mendapat ganti kamar di Hotel Tugu, hotel dengan bintang lebih banyak. Begitulah rejeki orang baik :p

Malam harinya, acara pertama dan utama adalah makan malam bersama Bu Rahmi, beserta keluarga yang selalu setia menemani perjalanan kuliner selama dua hari. Saya akhirnya mencicipi makanan Melayu langsung di bumi Melayu. Lahaplah awak makannya, sampai nambah. Dan memang susah menolak untuk tidak tambah kalau diminta menikmati makanan Melayu dan Minang yang lezat punya.Rute kuliner saya mulai jumat malam di Pondok gurih, sabtu siang di Puti Buana, sabtu malam di Minang Soto lanjut ke Pondok Durian Fifa, dan minggu siang di Rumah Makan Abbas. Dijamin berat badan saya langsung melonjak. Saya tidak cerita detil ya biar tidak bikin ngiler, dan agar blog ini tidak menyaingi blog kuliner hahaha

0 Kuliner Pekanbaru Anak Bukan Kertas Kosong Guru Belajar TK Alifa Kids

Hari sabtu pagi, dijemput tepat waktu, kami pun meluncur ke TK Alifa Kids yang ada di Jalan Paus, tidak jauh dari hotel. Sampai di lokasi, saya masuk ruangan yang ternyata sudah dipenuhi oleh The Bunda’s, para guru yang antusias dengan seragam merahnya. Para guru TK Alifa Kids ini sebelumnya sudah membaca dan merangkum buku Anak Bukan Kertas Kosong. Karena itu, saya memulai sesi dengan meminta mereka menuliskan apa yang sudah mereka pahami dan apa yang ingin mereka pelajari. Selain saya jadi tahu apa yang sudah mereka pahami, penugasan ini membuat saya bisa lebih fokus menjawab kebutuhan belajar para guru tersebut.

1 Kelas Anak Bukan Kertas Kosong Pekanbaru TK Alifa Kids 2 Kelas Anak Bukan Kertas Kosong Pekanbaru TK Alifa Kids 3 Kelas Anak Bukan Kertas Kosong Pekanbaru TK Alifa Kids

Saya bukan motivator, ataupun komik (stand up comedy). Jadi jangan berharap dapat hiburan di kelas saya. Saya lebih senang ngobrol. Saya memberi penjelasan sedikit, mendapat respon peserta dan terbentuk percakapan yang bukan saja mencerahkan peserta, tapi juga mencerahkan saya. Bicara konsep sedikit, kemudian berpikir bersama bentuk terapannya. Atau sebaliknya, dari kesulitan penerapan di lapangan, diulas kembali berdasarkan konsep, kemudian mencari alternatif penerapan. Saya beruntung karena para guru TK Alifa Kids jadi asyik belajar. Ketika merasa cocok dengan konsep yang saya jelaskan, langsung bertanya penerapannya, sebaliknya ketika tidak cocok, bertanya untuk mendapatkan pemahaman lebih jauh.

Selesai sesi dengan para guru, saya meluncur ke kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Riau untuk menjelaskan mengenai Komunitas Guru Belajar. Setelah membicarakan banyak isu pendidikan, saya pun dapat kesempatan menceritakan tentang Komunitas Guru Belajar. Saya bercerita tentang misi dan kegiatan dua bulanan Temu Pendidik yang memberi kesempatan bagi guru berbagi praktik cerdas pengajaran dan pendidikan. Kiprah guru berbagi praktik cerdas bukan hanya lisan, tapi juga tulisan hingga sudah menghasilkan buku “Diferensiasi, Memahami Pelajar untuk Belajar Bermakna dan Menyenangkan” dan Surat Kabar Guru Belajar. Dan karya memang berbicara, Pak Kamsol, tertarik dan ikut hadir ke acara Kopdar Guru Belajar Pekanbaru.

Saya bersama Pak Kamsol meluncur ke lokasi Kopdar Guru Belajar Pekanbaru yang telah dipersiapkan oleh Bu Rahmi dan Bu Rika. Sampai lokasi sudah ada belasan guru, saya berkenalan dengan guru yang hadir dan kemudian  membuka kopdar tersebut. Saya menjelaskan tentang 5 salah kaprah guru belajar, kegiatan berkala dan misi Komunitas Guru Belajar. Selanjutnya sesi tanya jawab mengenai penerapan misi komunitas sesuai dengan kondisi di Pekanbaru. Kalau anda berminat, silahkan bergabung di grup Facebook ini atau mendaftarkan email di GuruBelajar.org. Selesai kopdar, saya kembali ke hotel dan malam harinya melanjutkan kuliner :D

8 Kopdar Komunitas Guru Belajar Pekanbaru

Minggu pagi ketika anda mungkin sedang bersantai, saya juga ingin bersantai sibuk persiapan dan mengisi seminar Anak Bukan Kertas Kosong yang mayoritas diikuti orangtua TK Alifa Kids. Meski sebagian besar peserta adalah para ibu, tapi para ayah yang minoritas tetap antusias megikuti jalannya seminar. Meski tidak sesering kelas kemarin, saya tetap berinteraksi dengan peserta seminar. Ketika saya tampilkan satu halaman presentasi atau video, saya akan bertanya mengenai kesan peserta. Peserta pun bisa bertanya kapan saja ketika mengalami kebingungan. Banyak pertanyaan, bukan saja dari ibu, tapi dari nenek dan para bapak.

4 Seminar Anak Bukan Kertas Kosong Pekanbaru TK Alifa Kids 5 Seminar Anak Bukan Kertas Kosong Pekanbaru TK Alifa Kids.jpg

Saya ceritakan saja sebuah kasus yang menarik. Jadi ketika selesai seminar, di sela-sela sesi foto bersama dengan penggemar, ada seorang ibu yang bertanya ke saya. “Saya ibu dua putri, saya juga seorang guru SMA. Ini putri kedua saya (sambil menunjuk putrinya). Anak saya ini mempunyai kecerdasan bahasa. Jadi saya ajarin dia untuk membaca meski sudah TK. Boleh kan pak?”. Awalnya saya setuju dengan pendapatnya, karena boleh saja mengajari calistung pada anak TK tapi dengan cara tidak terstruktur dan sesuai tumbuh kembang anak. Misalnya dengan cara belajar calistung ala Ki Hajar Dewantara yang saya tulis di tulisan sebelumnya (Klik di sini).

Tapi saya mulai merasa ada yang tidak sreg ketika sang ibu bercerita mengenai anak pertamanya. “Tadi bapak kan bicara mengenai bahaya hadiah dan hukuman. Saya ke anak itu, memberi hadiah kalau anak mendapat nilai bagus. Seringnya hadiah liburan gitu. Kecuali waktu SMP, anak saya minta dibelikan mobil kalau lulus dengan nilai bagus. Dan benar, dia lulus dengan nilai bagus. Saya belikan mobil yang dipakai untuk ke sekolah dan tempat les”. Saya pun bertanya mengenai aspek hukumnya, batas usia anak dibolehkan mengendarai mobil. “Ya sebenarnya belum boleh pak. Tapi bagaimana, nilai dia kan bagus. Kami sebagai orangtua juga merasa tidak enak, karena kami sibuk, jadi tidak bisa mengantar anak ke sekolah”.

Persoalan pendidikan anak seringkali bukan karena kurangnya pengetahuan, tapi karena tidak konsistennya kita sebagai pendidik. Dan penyebab kronis ketidakkonsistenan tersebut adalah “rasa bersalah”. Meski kita tahu, tapi karena merasa bersalah, kita pun bertindak tidak sesuai pengetahuan itu. Mengapa rasa bersalah itu kronis? Rasa bersalah bisa menjadi penyebab beberapa atau banyak ketidakkonsistenan. Faktor yang meluas dan tumbuh semakin besar seiiring waktu. Rasa bersalah juga menempatkan orangtua pada posisi yang lemah. Kelemahan yang dimanfaatkan oleh anak, yang semakin lama semakin besar hingga tak terhingga, kecuali orangtua bisa menyembuhkan rasa bersalah itu.

Perangkat pendidikan terpenting bukanlah ruang kelas, fasilitas belajar, atau pun kurikulum, tapi diri pendidik. Sebagus apapun ruang kelas, selengkap apapun fasilitas belajar, serumit apapun kurikulum, akan kehilangan arti bila kualitas diri pendidik tidak menunjang. Karena itu dalam buku Anak Bukan Kertas Kosong, saya menulis satu bab khusus mengenai 8 kebiasaan pendidik menumbuhkan yang berisi beragam latihan. Karena saya percaya, pendidik menumbuhkan akan menggerakkan komponen pendidikan lain untuk menuju kualitas yang tinggi.

Begitulah kuliner pengalaman dan pelajaran dari perjalanan ke Pekanbaru, mulai berbagi tentang buku Anak Bukan Kertas Kosong hingga kopdar Komunitas Guru Belajar Pekanbaru. Saya bersyukur bukan saja karena diundang untuk bedah buku, tapi juga karena masih ada TK Alifa Kids dan TK lainnya yang tidak mabuk orientasi akademis. Semoga semakin banyak lembaga pendidikan yang memilih jalan pendidikan menumbuhkan ala Ki Hajar Dewantara.

Menurut anda, apa yang paling menarik dari perjalanan ke Pekanbaru ini? 

Daftar tautan sok penting:

  1. Bila ingin tahu tentang buku Anak Bukan Kertas Kosong, klik di Buku.TemanTakita.com. Bila ingin pesan, klik di Toko.TemanTakita.com atau klik  http://bit.ly/DaftarAgenABKK
  2. Bila ingin bergabung di Komunitas Guru Belajar, silahkan klik Facebook Komunitas Guru Belajar Nusantara  atau klik Facebook Komunitas Guru Belajar Pekanbaru
  3. Bila ingin tahu tentang TK Alifa Kids, klik di http://alifakids.com
  4. Bila ingin mendapatkan Buku Diferensiasi, klik di http://bit.ly/BukuDiferensiasi
  5. Bila ingin unduh gratis Surat Kabar Guru Belajar, klik di http://bit.ly/SKGuruBelajar1

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

Gimana komentarmu?