Akhirnya Ngeblog Lagi

Lama terbengkalai. Lama sekali, lebih dari setahun blog ini tidak terurus. Tahun baru, semoga bisa jadi momen baru buat ngeblog lagi

Aku menulis pengalamanku di blog ini terakhir mengenai keterlibatanku di program Indigo Incubator. Dan ternyata tulisan itu tertanggal 29 Juli 2013. Walah aku tidak ngeblog di blog ini ternyata sudah satu setengah tahun. Ada banyak sebabnya, mulai kesibukan hingga ribetnya proses pergantian hosting blog.

Aku khusus menyebutkan tulisan mengenai pengalaman karena kalau menulis, aku sebenarnya tetap menulis. Aku menulis artikel dan mengirimkannya ke koran yang hampir semuanya ditolak kecuali satu tulisan. Aku menulis mengenai analisis pendidikan di blog Bincang Edukasi, tentang metode dan tips pendidikan di blog Teman Takita. Dan bahkan, pada akhirnya aku berhasil menulis satu naskah buku Anak Bukan Kertas Kosong. Jadi aku tetap menulis tapi tidak mengenai pengalaman yang memang biasanya kutulis di blog personal ini. Kalaupun menulis pengalaman, aku menuliskannya sebatas di Facebook atau Twitter.

Saking lamanya tidak menulis di blog ini sampai-sampai Donny Verdian, blogger kondang dari Australia, sampai memastikan ke aku mengenai masa depan blog ini. Duh bahasanya….

Meski tetap menulis, tapi tidak menulis di blog personal ini rasanya aku seperti lepas tanggung jawab. Aku jadi merasa bersalah buat para pembaca yang sudah mengikuti blog ini (halah). Sebagai pengakuan dosa (halah lagi), saya akan bercerita apa yang terjadi selama tahun 2014. Mau menulis semua tapi siapa yang mau baca.

Sejak pertengahan 2013, aku dan tim mengikuti program Indigo Incubator untuk pengembangan Takita, aplikasi pengembangan bakat anak. Kami tinggal di Bandung sampai awal tahun 2014. Fase akhir program ini adalah validasi bisnis. Tim Takita diminta untuk menunjukkan adanya kebutuhan bisnis terhadap aplikasi Takita. Meski target yang ditetapkan berhasil dicapai oleh Takita, tapi aku pribadi tidak puas dengan capaian itu.

Program Indigo Incubator selesai, aku pun kembali ke rumah di Sidoarjo sambil menunggu pengumuman lebih lanjut. Selama di rumah, aku banyak merenung mengenai aplikasi Takita ini. Dan ketika pengumuman akhir, aku sampaikan pendapatku mengenai belum siapnya masyarakat menjadi pengguna aplikasi Takita. Aku memutuskan untuk terlebih dahulu membangun kesadaran orang tua mengenai pentingnya pengembangan bakat anak di masa depan.

Tantangan utama membangun kesadaran orang tua adalah kebanyakan orang tua yang berorientasi hasil, baik berupa nilai maupun piala dan gelar juara. Padahal untuk mengembangkan suatu bakat, butuh proses panjang dan ketekunan yang konsisten dari anak. Tidak ada sulapan dalam pengembangan bakat anak. Upaya awal mengatasi tantangan itu adalah menginisiasi Suara Anak, sebuah forum yang memberi kesempatan pada anak untuk bercerita mengenai pengalaman menekuni bakat atau kegemarannya. Selama tahun 2014, Suara Anak berhasil diselenggarakan sebanyak empat kali di tiga kota yaitu Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta. Semoga pada tahun 2015 ini, Suara Anak diadakan lebih sering dan lebih banyak kota yang terlibat.

Upaya kedua adalah menulis buku mengenai pengembangan bakat anak. Upaya ini terbersit ketika aku memposting di Facebook mengenai tawaran seorang editor di blog anakku, AyundaDamai.com untuk menulis buku. Postingan di Facebook itu ternyata membuahkan penawaran lain, sang editor mengajukan tawaran ke aku untuk menulis buku. Jeng jeng…..aku memikirkan tawaran ini selama seminggu dan akhirnya menuliskan semacam proposal buku. Dua minggu kemudian, proposal buku yang kuajukan diterima tanpa revisi.

Ide awal buku yang ingin kutulis sebenarnya berasal dari keresahanku sebagai seorang ayah dalam mendidik anak, Ayunda Damai. Apa yang harus aku lakukan setelah Damai menemukan kegemarannya? Aku membaca banyak buku tapi tidak menemukan tahapan pendidikan anak yang bisa menjawab pertanyaanku secara memuaskan. Sampai kemudian, aku membaca tulisan Howard Gardner yang menjawab pertanyaanku, tapi hanya satu halaman dan hanya garis besarnya saja.

Selama setahun terakhir, keterlibatan dengan gerakan Bincang Edukasi, khususnya dengan Kreshna, membuatku kenal dengan gagasan Ki Hadjar Dewantara.  Rasa penasaran mendorongku untuk membeli buku Ki Hadjar Dewantara melalui internet. Aku pelajari dan takjub dengan pemikiran beliau yang melampui jamannya. Pandanganku mengenai pendidikan ternyata telah disuarakan Ki Hadjar Dewantara jauh-jauh hari.  Karena itu, aku memutuskan untuk menerjemahkan ajaran Ki Hadjar Dewantara ini dalam konteks pengembangan bakat anak.

Aku pun memulai proyek menulis buku yang kuberi judul “Anak Bukan Kertas Kosong”. Proyek penulisan ini banyak menyita waktu. Aku mulai dengan melakukan riset dibantu oleh @Dwikrid, teman lama di Indonesia Bercerita.  Selama bulan Ramadhan, pola hidupku terbalik total. Aku menggunakan waktu sepanjang malam selepas sholat tarawih hingga sahur untuk membaca dan menulis. Selepas lebaran, aku sudah sepenuhnya fokus menulis, menyunting, dan menulis ulang sejak pagi hingga sore. Dan tepat tenggat waktu, aku berhasil mengirimkan naskah buku ke penerbit.

Selebihnya, aku sibuk dengan pekerjaanku sebagai fasilitator lepas di sebuah kantor internasional di Jakarta. Pekerjaan yang menjadi pegangan utamaku dalam menghidupi keluarga pasca mundur sebagai PNS dosen di Universitas Airlangga. Sayangnya di luar rencana, kontrakku yang habis pada pertengahan tahun tidak lagi diperpanjang.  Jadi pada satu sisi naskah buku selesai, kontrak kerja pun usai. Aku bersyukur masih ada undangan mengisi seminar dan workshop serta beberapa proyek kecil media sosial yang setidaknya masih bisa jadi pegangan hidup.

Titik ini adalah titik kritis dalam hidupku. Aku berada di tengah pilihan, apakah mencari pekerjaan tetap atau fokus menjalani profesi baru sebagai penulis buku. Mantan atasanku di kantor lama menawarkan pekerjaan tetap di kantor internasional yang berbeda di Bali. Bila memilih pekerjaan tetap, kebutuhan keluargaku tentu lebih terjamin tapi pastinya aku tidak punya banyak waktu untuk menjalani profesi sebagai penulis maupun mengembangkan kembali aplikasi Takita. Hidup terasa seperti jeda tanpa batas :)

Ditengah jeda itu, Kreshna menghubungiku untuk membantunya di Pokja Pendidikan Kantor Transisi Jokowi – JK. Aku pikir tawaran ini adalah kesempatan yang baik untuk berkontribusi melakukan perubahan pendidikan yang lebih baik. Berkat bantuan dari seorang donatur, aku pun tinggal sementara di Jakarta selama kurang lebih dua bulan.

Niatnya berkontribusi, tapi selama di kantor transisi justru aku lebih banyak belajar mengenai sistem dan kondisi pendidikan di negeri ini. Bagaimana tidak, aku terlibat dalam serangkaian FGD yang melibatkan lebih dari 120 orang dari berbagai latar belakang. Dua minggu FGD itu adalah dua minggu pembelajaran terpadat sepanjang hidupku, banyak topik, banyak guru. Kepala rasanya penuh, seperti penyimpan data yang diluberi dengan sekian banyak data.

Setelah mendapatkan banyak masukan, kami pun mulai menyusun rekomendasi mengenai pendidikan untuk pemerintah baru. Rekomendasi tidak detil hingga teknisnya tapi lebih bersifat arahan untuk perbaikan dan pengembangan sistem pendidikan di masa mendatang. Ibaratnya bukan membuat resep, tapi lebih berperan sebagai lampu mersu suar yang menjadi panduan buat kapal besar bernama pendidikan.

Selama di kantor transisi, aku seperti orang bekerja penuh waktu dari pagi hingga sore hingga malam hari. Bahkan menjelang tenggat waktu, aku sampai menginap untuk menuntaskan rekomendasinya. Meski seperti bekerja penuh waktu, aku tidak menerima bayaran. Posisiku dalam kantor transisi adalah sebagai relawan. Tapi tetap saja, aku mendapat banyak manfaat dari keterlibatanku di kantor transisi mulai dari belajar banyak hal hingga berkenalan dengan banyak tokoh pendidikan. Manfaat nyata? Aku mendapat dua kata pengantar dan testimoni dari banyak tokoh pendidikan :)

Kepuasan terbesar setelah kerja keras di Kantor Transisi adalah rekomendasi-rekomendasi yang disusun ternyata digunakan oleh Menteri Anies Baswedan. Tidak ada kepuasan kerja yang melebihi kepuasan dari hasil pekerjaan kita digunakan dan bermanfaat.

Selepas kesibukan di kantor transisi, lagi-lagi aku kembali ke rumah di Sidoarjo, kembali menangani buku Anak Bukan Kertas Kosong. Aku bergerilya untuk meminta kata pengantar dan testimoni untuk bukuku. Aku email permohonan serta naskah buku. Aku ingatkan bila belum mengirim testimoni. Setelah terkumpul, aku sunting bahan yang masuk dan mengirimnya ke editor penerbit. Selain itu, aku terlibat dalam memilih cover buku yang ternyata tidak mudah urusannya. Bila hanya satu pilihan, semuanya jadi lebih enak. Tapi ketika banyak pilihan, apalagi beragam pilihan itu sama bagus, hidup jadi lebih rumit :D

Waktu penerbitan bukuku mundur dari waktu yang semula dijadwalkan karena kesibukan editor. Artinya, aku belum ada kesibukan untuk mengurus bukuku itu lebih lanjut. Tidak ada kesibukan itu membosankan. Dari pada mati bosan, akhirnya aku meluncurkan proyek buku selanjutnya, seri berikutnya dari buku pertama.

Buku pertama, Anak Bukan Kertas Kosong, menjelaskan mengapa penting dan bagaimana pengembangan bakat di jaman kreatif. Buku ini membongkar keyakinan umum mengenai makna pendidikan dengan mengacu pada ajaran Ki Hadjar Dewantara. Materi orisinil dari buku ini adalah tahap perkembangan bakat anak, sejak fase eksplorasi hingga fase berkarir. Selebihnya, ada uraian mengenai cara yang dapat digunakan orang tua untuk mengenali kecerdasan majemuk anak serta cara agar anak belajar seasyik bermain.

Buku kedua, bicara lebih lanjut lagi, setelah belajar, apa yang perlu dilakukan orang tua untuk menyiapkan anak dalam menghadapi karir di masa depannya. Buku ini membongkar keyakinan umum mengenai makna karir yang mengalami pergeseran seiring perkembangan jaman. Materi orisinil buku ini adalah kompas karir, yang memandu penjelajahan karir anak, mengarahkan tapi tidak membatasi perkembangan karirnya. Selebihnya, ada uraian mengenai langkah-langkah bagi orang tua dalam memfasilitasi perkembangan karir anak. Buku ini masih dalam tahapan riset, jadi aku masih belum menuliskannya.

Inspirasi dari buku kedua ini adalah aku menemukan benang merah antara beberapa topik yang selama ini aku geluti. Dua tahun lalu, aku mengubah blog Bukik untuk khusus membahas mengenai topik pengembangan karir, sementara blog Teman Takita untuk khusus membahas topik pengembangan bakat. Akibatnya, aku jadi keteteran. Jadi dengan inspirasi ini, arah blog Bukik akan berubah. Topik pengembangan bakat dan karir akan disatukan dan ditampilkan di TemanTakita.com. Sementara, blog Bukik akan kembali menjadi blog personal. Blog yang berisi pengalaman, ide, catatan lepas maupun pendapatku mengenai berbagai isu dan kejadian. Format tulisan mungkin akan lebih random, ada tulisan panjang bila curhatku panjang, tapi mungkin juga tulisan pendek untuk menuliskan ide yang terlintas dipikiranku.

Jadi perubahan blog Bukik bukan sekedar perubahan tampilan, tapi perubahan arah blog, kembali menjadi lebih personal. Mari ngeblog lagi…..

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

13 thoughts on “Akhirnya Ngeblog Lagi”

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.