Akhir perjalanan hidupku adalah awal sebuah perjalanan baru

Setelah beberapa kali maut nyaris menghampiriku, kini akhir perjalanan telah kujelang. Aku telah sampai pada akhir dari sebuah perjalanan. Aku tidak pernah menyesal maupun malu. Akhir perjalanan ini adalah awal sebuah perjalanan baru bagiku.

Hari Sabtu 8 Desember ini diadakan Penghormatan Terakhir oleh Fakultas Psikologi Universitas Airlangga untuk Almarhum Ino Yuwono yang akan dikremasi. Aku sekeluarga sudah datang ke kampus sejak jam 8 pagi. Terlalu pagi karena kampus pun masih sepi. Hanya ada petugas yang menyiapkan berbagai peralatan.

Waktu beranjak datanglah beberapa teman, Samian & Dimas Aryo serta mahasiswa yang bertugas menjadi pengiring peti jenasah dan yang bertugas menjadi paduan suara. Setelah itu, satu persatu mahasiswa dan alumni mulai berdatangan. Ada Dimas Ade yang datang dari Balikpapan & Nendy dari Jakarta khusus untuk mengikuti prosesi ini.

Semakin mendekat jam 9, suasana semakin banyak orang dan semakin banyak kesibukan. Jenasah Almarhum Ino Yuwono sesuai jadwal berangkat dari rumah duka pukul 09.00 pagi dan diperkirakan datang jam 09.30. Kampus mulai padat. Sementara saya bersama Damai masih menanti sambil mencari posisi yang tepat untuk memotret dan merekam prosesi.

Tiba-tiba ada yang berseru, “Pak Ino sudah di Karang Menjangan!”. Orang-orang pun segera membuat barisan sesuai dengan formatnya. Para petugas langsung berdiri pada posisinya. Mobil pun datang. Petugas menjalankan tugasnya. Peti jenasah pun diturunkan dengan perlahan menuju ruang Penghormatan Terakhir dengan diiringi musik & lagu Mazmur 23. Aku masuk ruangan dan berdiri berhadapan dengan peti di dekat pintu masuk.

Prosesi dilanjutkan dengan penyerahan dari keluarga Pak Ino kepada pihak Fakultas Psikologi Unair yang diterima langsung oleh Dekan. Setelah itu dinyanyikan Hymne Airlangga diiringi penutupan peti oleh bendera Universitas Airlangga. Aku pun mulai menangis…iya menangis. Bukan aku saja, disamping kanan-kiri, belakang…suara tangisan menyelingi lagu. Apalagi ketika MC menyebutkan Pak Ino sebagai Ksatria Airlangga….ironis…

Acara berikutnya adalah penyampaian pesan terakhir. Berharap ada kata-kata inspiratif, aku langsung merekam dengan iPhoneku. Setelah dua pidato yang terkesan menahan emosi, pidato dilanjutkan oleh alumni yang diwakili oleh Made Gunartha. Awalnya terkesan biasa juga….sampai kemudian dia membuka lipatan kertas sambil menyebutkan tentang Surat Wasiat dari Pak Ino. Jdaaar….!

Badanku bergetar. Tanganku gemetar. Maaf bila hasil rekaman videonya pun banyak gambar bergoyang. Wajahku panas. Air mata pun turun kembali…..orang-orang pun langsung memberi perhatian penuh, berbeda dengan sebelumnya. Entah apa yang ada dipikiran orang-orang yang jelas aku hanya mendengar, menyimak dan berusaha memahami warisan dari Pak Ino.

Selesai pidato, acara dilanjut dengan menyanyikan lagu My Way……hfff….tambah sesak rasanya. Awalnya aku mencoba menyanyi dengan suara falsku tapi beberapa bait kemudian sudah tidak mampu lagi bersuara…pass…

Terakhir, pengucarapan ucapan berbelasungkawa dari seluruh yang hadir kepada keluarga Ino Yuwono diiringi nyanyian Time To Say Goodbye yang dinyanyikan oleh isteri tercinta, Wiwin Hendriani, & tim paduan suara. Aku menyeruak ke barisan bersama Damai, agar bisa segera keluar dari ruangan. Tidak kuat lama-lama tenggelam dalam duka.

Acara berakhir, peti jenasah Pak Ino Yuwono diangkat kembali menuju mobil dan meluncur ke kromatium untuk dikremasi. Dari debu kembali ke debu…..

Ini catatan yang aku dapat dari Mas Made hari ini. Semoga menginspirasi. Berikut videonya, tapi suara tidak terlalu jernih. Bila ingin mendengarkan suara yang jernih bisa melihat rekaman suara disini.

Akhir perjalanan hidupku adalah awal sebuah perjalanan baru

Setelah beberapa kali maut nyaris menghampiriku, kini akhir perjalanan telah kujelang. Aku telah sampai pada akhir dari sebuah perjalanan. Aku tidak pernah menyesal maupun malu. Akhir perjalanan ini adalah awal sebuah perjalanan baru bagiku.

Teman, aku akan mengatakan secara tegas tentang apa yang kuyakini. Keyakinan yang memanduku selama perjalanan hidup dari awal hingga saat ini di ujung akhir. Aku tak akan bicara panjang lebar. Bukan sebagai wasiat tapi mungkin engkau bisa mengambil pelajaran.

Aku telah mengalami banyak kejadian, tidak semua, tapi apapun yang aku alami adalah pilihanku. Aku jalani setiap pilihan seutuhnya. Aku menghidupkan setiap pilihan sehidup-hidupnya. Mungkin ada keraguan. Mungkin ada penyesalan. Mungkin ada kekeliruan. Tapi tak cukup besar sebagaimana keyakinanku dalam menjalani pilihanku.

Hidup adalah mengenai tujuan sekaligus cara kita menjalaninya. Kesedihan terbesarku adalah ketika menyaksikan banyak orang menjalani hidup tanpa menjalaninya. Orang menjalani kehidupan yang menjadi pilihan orang lain, tidak menjadikan hidup sebagai bagian dari diri. Hidup seolah sebagai beban dari orang lain yang dibebankan kepadanya.

Jangan heran bila dalam banyak perjumpaan aku banyak bertanya. Bertanya mengenai tujuan-tujuan dari pilihan tindakanmu. Untuk apa kuliah? Untuk apa belajar? Untuk apa bekerja? Untuk apa hidup? Banyak orang terkejut bahkan terganggu atas pertanyaan sederhanaku ini. Banyak orang yang mengabaikan pertanyaan itu karena hidup tidak menjadi bagian dari dirinya.

Mengapa aku tanyakan pertanyaan sederhana itu? Hidup adalah anugerah bagimu sebagaimana engkau adalah anugerah bagi sesama dan kehidupan. Bagaimana bisa mensyukuri anugerah bila kita tidak tahu kemana kita akan menuju dalam hidup?

Namun pertanyaan sederhana mengenai tujuan hidup seringkali tidak menemukan jawaban. Banyak orang tetap memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu, apalagi untuk menjalani jawabannya. Orang memang lebih nyaman menjalani apa yang sudah dijalani bertahun-tahun meski ia tidak tahu kemana arah tujuan.

Ada banyak orang yang tidak menyukai cara mengajarku. Mereka mengatakan caraku mengajar itu biadab. Sayangnya, cara-cara yang disebut biadab itu yang lebih sering membuat orang berani meninggalkan kenyamanannya. Cara-cara biadab itu yang justru menyebabkan orang tergerak untuk menjadi lebih beradab.

Bukannya aku menyukai cara-cara biadab itu. Aku tahu banyak yang membenci karena caraku itu. Aku tahu banyak orang menghindariku. Aku tahu banyak orang bicara seperlunya denganku. Aku juga tahu ada orang-orang yang mentertawaiku. Aku hadapi konsekuensinya, selama sebuah cara bisa membuat orang menjadi lebih terdidik.

Aku mencintai pendidikan. Aku suka mendidik. Berapapun biaya yang dibutuhkan untuk melakukannya. Meski aku seolah menjadi monster ganas yang ditakuti orang. Meski aku seolah berada di puncak gunung, sendiri dan sepi. Cintaku pada pendidikan melampui itu semua. Mendidik adalah panggilan hidupku!

Selama perjalanan hidup, aku telah melakukan banyak tindakan. Aku nikmati beragam suasana dalam perjalanan itu. Ada kalanya tawa bahagia menjadi warna. Tak jarang kesepian datang menyergapku seperti disergap sekawanan serigala yang lapar. Tapi aku nikmati kesepian itu sebagaimana aku menikmati tawa bahagia. Terima kasih telah bersedia menjadi teman, kala tawa menjadi warna, ketika sepi datang menggigit.

Teman, selama perjalanan ini aku telah bertemu engkau. Mungkin pada suatu belokan, pada jalan lurus terbentang, pada turunan curam, atau jalan mendaki yang tajam. Setiap momen perjumpaan mempunyai warnanya sendiri. Engkau mungkin mengenalku pada suatu momen, tapi mungkin tak mengenalku di momen yang lain. Begitulah aku, begitulah kehidupan yang beragam ini. Aku mungkin seperti apa yang kau bayangkan sekaligus apa yang tidak kau bayangkan.

Bila dalam perjumpaan tersebut, ada pelajaran, ambil dan manfaatkan. Bila dalam perjumpaan tersebut, ada perbedaan, jadikanlan sebagai cermin.

Janganlah sesekali berusaha meniruku. Engkau adalah keagungan kehidupan sejati. Engkau adalah anugerah bagi kehidupan. Jadilah dirimu, jalani jalanmu. Apa artinya manusia bila tidak menjadi dirinya sendiri.

Kebanggaanku dalam hidup bukanlah karena jasa-jasaku pada kehidupan. Kebanggaanku terbesar adalah pilihanku untuk menempuh jalanku sendiri. Meski terjal. Meski sendiri. Meski sepi. Apapun akibatnya, aku bangga mengatakan bahwa inilah jalanku.

Sekarang aku sudah di akhir perjalananku. Aku tidak lagi menentukan pilihan. Engkaulah yang mempunyai pilihan. Memaafkan kesalahanku atau membiarkan kesalahanku menjadi ganjalan dalam hatimu. Mengambil pelajaran dari perjalananku atau melupakan pelajaran seiring waktu berjalan.

Aku tidak pergi meninggalkanmu. Aku melanjutkan perjalananku. Akhir perjalanan hidupku adalah awal sebuah perjalanan baru. Sapalah aku bila kita berjumpa dalam perjalanan yang sama di lain waktu. Aku akan dengan senang hati meluangkan waktuku untuk berbicara denganmu.

Dari hati yang terdalam

Temanmu…..

Ch. Ino Yuwono

Catatan:

  1. Buat pembaca blog yang belum kenal Pak Ino Yuwono, bisa baca tulisanku disini atau baca tulisan teman-teman lain disini
  2. Tim editor telah memutuskan akan memasukkan naskah surat ini dalam buku, Inspirasi Ino Yuwono, Guru Tidak Pernah Pergi

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

Gimana komentarmu?