search

Akademi Berbagi : Personal Brand and Social Media

Personal Brand adalah anak kandung era Social Media, era yang memungkinkan individu untuk menglobal, mengekspresikan keunikan dirinya. 

Akhirnya berani juga tampil di Akademi Berbagi Surabaya di kelas Personal Brand & Social Media. Mengapa? Para guru yang diundang Akademi Berbagi itu para suhu yang sudah tinggi jam terbangnya. Nah aku? Anak kemarin sore kok berani-beraninya jadi guru. Ayo salah siapa gitu? *eh *ngelantur. Kembali ke macbook  eh inti obrolan. Akhirnya aku berbagi sedikit pengetahuan pada Sabtu, 17 September 2011.

Kelas Akademi Berbagi Surabaya yang berlangsung 12.30 – 15.00 WIB ini berlangsung di Wisma Language UWM. Sebuah gedung yang keren dengan batu bata yang dibiarkan terlihat. Bertempat di ruang serba guna yang cukup luas tapi tetap saja penuh karena peserta yang membludak. Takjub! Ada peserta dari Mojokerto, Gresik, Bangkalan bahkan Malang. Sungguh bersemangat belajar. Setelah dibuka oleh @MbakChin, Kepala Sekolah Akademi Berbagi Surabaya, aku memulai kelas yang seru ini. Aku akan menguraikan apa itu dan mengapa personal brand itu penting di posting ini.

Thomas Friedman menyebutnya The World is Flat akibat 3 gelombang globalisasi. Globalisasi 1.0 terjadi dengan upaya negara yang menglobal yang kemudian kita kenal dengan penjajahan. Globalisasi 2.0 terjadi ketika perusahaan menglobal dengan membuka cabang ke berbagai penjuru. Globalisasi 3.0 terjadi dengan lahirnya internet dan social media yang memungkinkan individu untuk mengglobal.

Perkembangan brand (merek) pun bisa dilacak dengan mengamati perkembangan gelombang globalisasi tersebut. Brand yang awalnya urusan negara, menjadi urusan perusahaan, menjadi urusan personal. Lahirlah yang disebut personal brand. Kita kenal berbagai tokoh atau artis dengan jumlah fans yang bahkan bisa mengalahkan jumlah penduduk sebuah negara.

Mengapa personal brand lahir? Gelombang globalisasi 3.0 ditandai dengan ketidakpastian. Kakek nenek masih bisa merasakan kepastian, paling tidak kebanyakan mereka bisa bekerja di satu tempat selama puluhan tahun. Jaman sekarang semakin tidak pasti. Jangankan usaha kecil, perusahaan sekelas Nokia pun bisa melakukan PHK karyawan dalam jumlah besar.

Generasi saat ini semakin tinggi aspirasinya. Seorang teman yang baru lulus S1 dua tahun yang lalu, sudah pindah di 3 tempat kerja. Bukan sekedar mencari gaji yang lebih besar tapi juga kenyamanan bekerja. Berpindah-pindah tempat kerja sebelum menetap pada suatu posisi/profesi menjadi pola yang mudah ditemui. Sebuah upaya yang tentu saja berisiko yang bisa diminimalkan bila kita mempunyai personal brand yang kuat.

Big companies understand the importance of brands. Today, in the Age of the Individual, you have to be your own brand. Here’s what it takes to be the CEO of Me Inc. Tom Peters

Karir bukan lagi tanggung jawab organisasi/tempat kerja. Karir adalah tanggung jawab masing-masing personal, atau disebut sebagai karir protean. Tanggung jawab kita untuk belajar, berkembang dan mengenalkan kemampuan terbaik kita pada banyak orang. Bukan lagi menunggu dikirim training, tapi pro aktif mengikuti training yang bisa menggenapi passion kita dengan sebuah keterampilan. Bukan lagi dikirim ke konferensi, tapi berinisiatif terlibat dalam pertemuan komunitas-komunitas. Saatnya kita menjadi pemimpin perusahaan bernama “Aku”.

Personal brand  adalah apa yang dipercakapkan orang lain tentang apa yang kita miliki, apa yang kita lakukan,  dan siapa diri kita. Pada masa lalu pun sebenarnya telah ada personal brand yang terjadi secara alami. Kita mengenal sebutan yang diberikan pada orang lain pada diri kita, seperti si bandel, si pipi tembem, si kalkulator (ingat Rawon Kalkulator?). Ada yang bermakna negatif, ada pula yang positif. Dari kasus positif itu dimodel menjadi personal brand yang ada pada saat ini.

Bila bukan kita, maka orang lain yang akan melabel dan membentuk personal brand kita. Pilihan ada di tangan kita. Kita bebas melakukan apapun, bebas mengenakan apapun, bebas menjadi siapapun. Tanggung jawab brand ada ditangan kita sendiri.

Apa saja komponen Personal Brand? Kita bisa meminjam metafor restoran untuk melukiskan komponennya. Ada dapur, tempat semua bahan disiapkan menjadi masakan. Ada tempat makan, tempat makanan diantar dan disantap oleh pengunjung restoran. Dalam personal brand, dapur adalah internal brand. Sementara, tempat makan adalah eksternal brand. Personal brand yang kuat itu ketika kualitas internal brand terekspresikan dengan efektif menjadi eksternal brand.

Internal brand yang kuat tapi eksternal brand lemah itu ibarat bijih emas yang masih terpendam. Eksternal brand yang kuat tapi internal brand lemah itu ya yang kita kenal sebagai politik pencitraan elit partai kita. Tantangan kita adalah menemukan diri terbaik kita (internal brand) dan mengkomunikasikannya secara efektif. Personal brand itu berkelanjutan, sepanjang kita hidup maka kita berada dalam proses menjadi, menjadi diri terbaik kita pada akhir kehidupan nanti.

Obrolan di Akademi Berbagi Surabaya masih panjang sebenarnya, diantaranya bagaimana membangun personal brand? Bagaimana mengggunakan media sosial untuk membangun personal brand. Tapi bila dibahas semua, posting ini akan terlalu panjang. Jadi akan dilanjutkan dalam posting berikutnya. Silahkan nikmati dulu presentasinya.

Seberapa banyak waktu sudah diluangkan untuk menemukan internal brand? Seberapa pula waktu untuk membangun eksternal brand?

Klik untuk Langganan Bukik.com via Email

Tags: , , , , ,

13 Comments

  1. Posted September 18, 2011 at 5:29 pm | Permalink

    Suasana kelas yang ringan tapi tetap mengasyikkan. Mungkin tanpa sadar sebetulnya masing-masing kita punya harapan menjadi sesuatu, tetapi oleh mas Bukik upaya untuk menjadi sesuatu itu dibuatkan “peta jalan”-nya dengan lugas.

    Terima kasih sharingnya.
    Berbagi bikin Happy, seperti saya berbagi pengalaman perunggasan di http://www.unggasindonesia.wordpress.com

  2. Posted September 18, 2011 at 5:31 pm | Permalink

    Bener mas.. perputaran dunia sekarang terlalu cepat sehingga org2 kadang lalai dan ketinggalan.. jalan satu satunya ya optimalkan personal brand kita masing2..

    • Posted September 19, 2011 at 6:51 am | Permalink

      Dan kita penghuninya seringkali terseret dalam perputaran dunia yang terlalu cepat itu. Ujungnya capek-capek sendiri…..

  3. Posted September 18, 2011 at 8:58 pm | Permalink

    menyimak! hehe.. :)

  4. Posted September 19, 2011 at 6:28 am | Permalink

    Saya suka sekali dengan materi anda, Pak Bukik!
    Pentingnya personal brand dan ketika melihat foto Tukul, saya baru sadar betapa ia telah berhasil menjadi ‘unik’ dan dalam tataran branding, dia telah melakukannya dengan sangat baik ya.

    Saya mau simpan materi Anda ah :)

    • Posted September 19, 2011 at 6:54 am | Permalink

      Huoooooo
      Apakah benar sekarang jamannya menguatnya individu ya? Bagaimana dengan penguatan komunitas? Tukul itu kasus menarik untuk penguatan individu sekaligus pelemahan komunitas. Beda dulu di jaman Pepeng (bener ya?), individu menguat seiring dengan kehidupan komunitasnya

      Suwun om buat apresiasinya…

  5. Posted September 19, 2011 at 5:28 pm | Permalink

    wah salut, pesertanya membludak. kerennn
    rusa juga lagi belajar nih masalah personal brand, banyak belajar dari pak bukik, baik di TL maupun di sini :D

    • Posted September 20, 2011 at 4:07 pm | Permalink

      Tapi rusa gak datang *nangisdipojokan

  6. Posted September 20, 2011 at 8:50 am | Permalink

    Setiap orang punya keunikan, punya kelebihan. Sekarang saatnya memasarkan!

  7. Posted September 24, 2011 at 3:11 pm | Permalink

    Waaah … betul…betul Pak Bukik, sekarang zamannya personal brand, kalo nggak bisa membranding diri dengan baik, ketinggalan ya Pak, makasih share-nya ya Pak

    • Posted October 3, 2011 at 9:57 am | Permalink

      Yup. Jaman penuh ketidakpastian sekaligus memberi banyak kesempatan. Tinggal apa kita mau menggunakan kesempatan itu atau tenggelam dalam ketidakpastian

  8. Posted October 5, 2011 at 9:32 pm | Permalink

    keren artikelnya mas, saya jadi tahu apa itu personal brand yang sudah merupakan kewajiban di era social media sekarang ini… thanks..

  9. Posted October 8, 2011 at 1:03 am | Permalink

    untung blog saya : ber akar dari ” branding ” jugaa…..pass tuhh

6 Trackbacks

  1. By 10 Poin Penting Dalam Social Media Policy | bukik ideas on September 19, 2011 at 12:10 pm

    [...] menggunakan media sosial secara bijak. Karyawan belajar menggunakan media sosial untuk membangun personal brand, bukannya seenaknya sendiri yang justru bisa membuat dirinya dipecat. Tapi manajemen juga harus mau [...]

  2. [...] Akademi Berbagi : Personal Brand and Social Media [...]

  3. By Eros, Sumber Energi Personal Brand | bukik ideas on October 7, 2011 at 3:49 pm

    [...] adalah sumber energi yang menghidupan kehidupan kita. Energi yang kita butuhkan untuk membangun personal brand [...]

  4. [...] Friedman mengatakan dalam bukunya The World is Flat bahwa ada 3 gelombang globalisasi. Globalisasi 1.0 ketika negara mengglobal. Globalisasi 2.0 ketika perusahaan mengglobal. [...]

  5. [...] setiap orang, terlebih oleh mereka yang ingin membangun personal brand (Baca lebih lanjut mengenai personal brand). Misi adalah pemberi arah personal brand. Misi mengorganisasikan passion, gaya, dan kemampuan kita [...]

  6. By #TellATale Personal Brand | My Cup of Tea on March 14, 2013 at 9:44 am

    [...] orang lain tentang apa yang kita miliki, apa yang kita lakukan,  dan siapa diri kita (Sumber : Pak Bukik) Artikelnya asyik loh, baca [...]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

Blog Bukik - Karir, Teknologi dan Organisasi