Ki Hajar Dewantara dan Anak Bukan Kertas Kosong

Tulisan ini adalah kata pengantar di buku saya “Anak Bukan Kertas Kosong” bercerita mengenai latar belakang penulisan, pengaruh ajaran Ki Hajar Dewantara dan gambaran isi buku.

Sejak kuliah saya tertarik dengan pendidikan, baik dengan membaca buku mengenai berbagai gagasan pendidikan hingga melakukan pelatihan, lokakarya hingga sekolah rakyat. Ketertarikan itu menjadi salah satu alasan yang mendorong saya untuk memilih dosen sebagai profesi pertama saya. Meski kemudian saya mengundurkan diri setelah 8 tahun mendidik di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Saya bersyukur mendapat banyak kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai metode dan teknik belajar di kelas-kelas kuliah. Saya mengajak mahasiswa Metode Riset Kualitatif belajar langsung dengan mengamati dan menganalisis perilaku orang-orang yang ada di Stasiun Gubeng. Saya mengajak mahasiswa melakukan penilaian terhadap hasil belajar mereka sendiri, sehingga terkejut menemui kenyataan bahwa mahasiswa lebih pelit dalam memberikan nilai dibandingkan dosennya. Saya mengajak mahasiswa Asas-asas Manajemen, bukan hanya dari buku teks, melainkan dari novel Taiko; belajar bahwa manajemen telah diterapkan secara lengkap dalam kehidupan nyata sejak ratusan tahun yang lalu.

Saya belajar dari mengajar Filsafat Manusia, bahwa belajar apapun bersumber pada kesadaran diri. Kita belajar banyak pengetahuan, tetapi langka kesempatan untuk mempelajari diri sendiri. Kesimpulan ini diperkuat ketika mengajar kuliah Seminar Psikologi Industri dan Organisasi; banyak mahasiswa yang menjelang lulus pun belum mengetahui orientasi karir mereka. Mereka tidak menyadari kekuatan diri, harapan, dan aspirasi mereka.

Saya kemudian mengajak mereka belajar mengenal diri dengan menulis biografi sepanjang 50 halaman. Skripsi mungkin tugas terberat, tetapi menulis biografi adalah tugas paling emosional yang pernah saya berikan pada mahasiswa. Mengenali diri bukanlah hal yag mudah; ada mahasiswa yang menyelesaikan tugas itu pada akhir semester, karena menurutnya banyak kejadian traumatis yang harus diingatnya. Ia mengucapkan terima kasih karena tugas itu membantu menyembuhkan dirinya. Mengenali diri adalah menyehatkan diri sendiri.

Saya berjumpa dengan Heriati Gunawan di suatu seminar di Jakarta sebagai sesama pembicara. Beliau, seorang Master of Positive Organizational Development dan ahli Appreciative Inquiry, bercerita mengenai pendidikan master beliau yang membutuhkan waktu satu semester sendiri untuk proses pengenalan diri. Pengenalan diri menjadi proses intensif dengan bimbingan personal dari dosen. “Bagaimana bisa seorang praktisi perubahan melakukan perubahan positif bila dirinya tidak sehat?” ujar beliau pada saat itu.

Saya bersama Heriati Gunawan dan tim dosen yang lain kemudian merancang kurikulum Magister Perubahan dan Pengembangan Organisasi. Dalam kurikulum tersebut, kami merancang proses belajar untuk mengenali diri secara mendalam selama satu semester. Dalam satu semester, mahasiwa belajar mengenali diri, kekuatan, harapan, fokus perubahan, minat, dan jati dirinya. Waktu itu saya berseloroh, apabila dalam satu semester mahasiswa tidak berubah, maka kurikulum ini gagal.

Setelah dua tahun memimpin Magister Perubahan dan Pengembangan Organisasi, saya memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai dosen. Saya ingin belajar tantangan yang berbeda. Meski mundur sebagai dosen, saya tidak mundur dari dunia pendidikan. Saya menginisiasi gerakan Indonesia Bercerita, Bincang Edukasi, Suara Anak, hingga mengembangkan aplikasi digital pengembangan bakat anak, Takita. Pertemuan dengan banyak praktisi pendidikan membuat wawasan saya semakin terbuka.

Setelah mundur sebagai dosen, saya akhirnya mempunyai banyak waktu, menemani dan mengamati perkembangan anak saya, Damai. Dialektika terjadi antara kenyataan di rumah dengan wawasan yang lahir dari perjumpaan dengan banyak praktisi pendidikan. Dialektika tersebut berpuncak pada perjumpaan dengan gagasan Ki Hajar Dewantara.

Saya merasa menjadi orang tolol, belajar pendidikan dari berbagai ahli, tapi mengabaikan Ki Hajar Dewantara. Ketololan yang disebabkan dari anggapan bahwa orang lama pasti mengusung gagasan lama. Namun mata saya terbelalak ketika membaca kutipan-kutipan tulisan Ki Hajar Dewantara dari status media sosial Kreshna Aditya, penggagas utama Bincang Edukasi. Ternyata gagasan beliau begitu tajam, jauh dari bayangan saya.

Saya mencari informasi mengenai buku-buku Ki Hajar Dewantara di internet. Buku pertama yang sampai ke rumah adalah buku 30 Tahun Taman Siswa versi asli. Saya mendapat buku yang sudah terlepas lembarannya hingga harus diletakkan di kantung dari bambu. Saya membaca buku itu dan takjub dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Buku berikutnya adalah kumpulan tulisan Ki Hajar Dewantara yang disusun menjadi dua buku sesuai temanya, yaitu Pendidikan dan Kebudayaan.

Saya belajar kembali mengenai pendidikan dari Ki Hajar Dewantara. Pemikiran dan praktik yang beliau lakukan adalah lompatan raksasa di zamannya, dan bahkan di zaman sekarang. Membaca kritik beliau terhadap pendidikan colonial, seolah membaca kritik terhadap sistem pendidikan nasional saat ini. Pendidikan yang menyeragamkan, yang menuntut kepatuhan mutlak dari anak; anak tidak diberi kesempatan untuk mengonstruksikan sendiri pengetahuan yang bermakna baginya. Bahkan beliau juga mengkritik psikologi mekanis yang tetap dominan hingga hari ini.

Saya membaca bagaimana Ki Hajar Dewantara dengan penuh kebanggaan bercerita mengenai kunjungan Perdana Menteri India ke Taman Siswa, yang dilanjutkan oleh kunjungan penerima hadiah Nobel Sastra, Rabindranath Tagore. Bukan sekadar kunjungan, melainkan pembelajaran yang dilanjutkan dengan program pertukaran pelajar dan kerja sama lainnya. Beliau berdua adalah perintis pendidikan nasional di negaranya masing-masing, sekaligus sesama pengkritik model pendidikan konservatif yang mencekoki anak dengan pengetahuan. Saya membaca kisah pengalaman beliau seolah bukan pengalaman di masa lalu, tetapi di masa depan. Saya ingin tranformasi pendidikan Indonesia sebagai rujukan negara lain, tak hanya terjadi di masa lalu, tetapi juga di masa depan.  Apakah mungkin?

***

Saya bukan hanya tertarik pendidikan, saya juga adalah seorang ayah. Saya peduli pendidikan bukan hanya karena pengetahuan, melainkan juga peduli karena sebuah pertanyaan yang mungkin ditanyakan oleh orangtua yang lain, “Bagaimana masa depan anak saya?” Jujur saya meragukan sistem pendidikan saat ini bisa menghargai keunikan anak. Pendidikan yang memperlakukan anak seperti kertas kosong yang bisa dicorat-coret sesuka hatinya.

Kegelisahan saya menemukan jawabannya di gagasan dan praktik pendidikan Ki Hajar Dewantara. Tiga pemikiran Ki Hajar Dewantara yang saya catat dan semakin meyakinkan saya untuk menulis buku ini. Pertama, bahwa setiap anak itu istimewa. Beberapa kali beliau menjelaskan bahwa anak bukanlah kertas kosong. Anak mempunyai kodratnya sendiri, yang tidak bisa diubah oleh pendidik. Pendidik hanya bisa mengarahkan tumbuh kembangnya kodrat tersebut.

Poster Anak Bukan Kertas Kosong Ki Hajar Dewantara 1

Kedua, belajar bukanlah proses memasukkan pengetahuan ke dalam diri anak. Belajar adalah proses membentuk pengetahuan, mengkonstruksikan pemahaman. Ki Hajar Dewantara sering menggunakan metafor tumbuhan untuk melukiskan proses belajar yang dialami seorang anak. Belajar bukan menanamkan pengetahuan, tapi menumbuhkan potensi anak. Pendidik tidak bisa mengubah kodrat anak, pendidik hanya mengarahkan tumbunya kodrat tersebut.

Poster Anak Bukan Kertas Kosong Ki Hajar Dewantara 2

Ketiga, Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya peran keluarga dalam pendidikan anak. Keluarga adalah pusat pendidikan. Orangtua mungkin bisa mendelegasikan pengajaran pada kaum ahli, tetapi pendidikan anak tetaplah menjadi tanggung jawab orangtua. Peran orangtua tidak tergantikan oleh sekolah, lembaga pendidikan, pun lembaga bakat.

Poster Anak Bukan Kertas Kosong Ki Hajar Dewantara 3 Saat ini, pemikiran Ki Hajar Dewantara dipinggirkan oleh arus besar. Anak-anak diseragamkan dan distandarkan melalui serangkaian proses belajar dan ujian. Anak dipaksa belajar, bukan karena gemar, tapi agar lulus ujian. Peran keluarga diminimalkan hanya untuk urusan mikro dan teknis. Kebijakan pendidikan yang berdampak pada anak tidak melalui proses mendengarkan pandangan orangtua. Orangtua hanya menjadi objek penderita, yang pontang-panting membantu anaknya ketika sebuah kebijakan pendidikan diluncurkan.

Tiga pemikiran Ki Hajar Dewantara tersebut yang akan mewarnai buku ini. Anak bukan kertas kosong, melainkan benih kehidupan yang utuh. Saya menafsirkan kodrat anak menurut Ki Hajar Dewantara sebagai kecerdasan majemuk anak. Selain karena suka dengan kecerdasan majemuk, saya melihat benang merah antara kodrat dengan kecerdasan majemuk. Ki Hajar Dewantara menyebutkan bahwa anak telah dianugerahi kemampuan belajar sejak lahir. Selaras dengan pengertian kecerdasan majemuk sebagai kemampuan yang dibawa sejak lahir dalam mengolah informasi, untuk menyelesaikan persoalan dan menciptakan karya.

Saya menulis buku ini sebagai orangtua dan untuk orangtua anak-anak Indonesia. Sebagai orangtua, saya berbagi pengalaman dalam mengembangkan bakat anak saya. Tetapi sekaligus saya belajar merumuskan panduan untuk mengembangkan anak saya di masa mendatang. Untuk para orangtua, saya mengundang Anda untuk lebih berdaya dalam mendidik anak-anak kita. Masa depan anak Indonesia terletak pada kepedulian orangtua.

Sebagai antitesis terhadap pandangan anak adalah kertas kosong, saya merumuskan sebuah visi, yakni pendidikan yang menumbuhkan. Pendidikan bukan mencekoki anak dengan berjuta pengetahuan dan kebenaran menurut orang dewasa. Pendidikan adalah proses menumbuhkan benih kehidupan yang utuh untuk menjadi manusia yang bermanfaat buat diri dan masyarakatnya. Visi pendidikan yang menumbuhkan akan memandu proses pengembangan bakat anak.

***

Saya sering menulis di blog mengenai pendidikan, karir, dan bakat anak. Namun buku ini bukanlah kumpulan tulisan saya yang ada di blog. Meski tulisan di blog menjadi batu lompatan pembelajaran, saya menuliskan buku dengan awal baru, sebagai sebuah kesatuan utuh, yang bercerita mengenai konteks zaman kreatif, prinsip, dan siklus hingga panduan praktis pengembangan bakat anak.

Saya menuliskan buku ini menjadi sepuluh bab. Bab pertama menceritakan zaman kreatif yang akan menjadi zaman bagi anak-anak kita kelak, sebuah konteks ketika anak kita kelak berkarir. Kemudian saya menceritakan pentingnya perubahan paradigma pendidikan dan relevansinya dengan pengembangan bakat anak. Mengapa pengembangan bakat anak penting dalam menyiapkan anak kita menghadapi zaman kreatif.

Pada bab tiga, saya mengulas konsepsi mengenai anak sebagai benih kehidupan yang utuh, bukan kertas kosong. Pada dua bab selanjutnya, saya mengajak pembaca untuk menukik lebih jauh mengenai anak sebagai pembelajar. Anak mempunyai dorongan dalam diri yang mengarahkan tindakannya, dan pada dasarnya setiap anak itu cerdas. Dengan pemahaman baru mengenai anak, kita bisa mengoptimalkan tumbuh kembangnya.

Pada tiga bab berikutnya, saya memaparkan mengenai pengembangan bakat anak. Saya mengulas pengertian bakat dan prinsip pengembangan bakat anak. Saya lanjutkan dengan paparan mengenai siklus perkembangan bakat anak sejak kecil hingga fase berkarir. Berdasarkan siklus tersebut, orangtua dapat mengambil peran dan sikap yang tepat dalam mengembangkan bakat anak.

Dua bab terakhir sifatnya lebih praktis. Bab sembilan berisi delapan latihan bagi orangtua yang menumbuhkan bakat anak. Orangtua dapat mempraktikkan latihan ini sendiri, bersama keluarga yang lain, atau dalam sebuah komunitas orangtua. Bab terakhir berisi panduan bagi orangtua untuk mengenali kecerdasan majemuk anak, serta panduan bagi orangtua untuk menstimulasi anak untuk gemar dan tekun belajar mengembangkan bakatnya.

Pada akhirnya, terima kasih buat Mamski Wiwin Hendriani dan Memski Ayunda Damai yang telah menjadi teman belajar mengenai bakat anak melalui aktivitas sehari-hari yang seru. Buku ini tidak akan ada tanpa inspirasi dari kalian.

Bukik Setiawan

Ayah, Blogger, Fasilitator, dan akhirnya, Penulis Buku

 

Catatan:

Buku Anak Bukan Kertas Kosong adalah sebuah panduan bagi orang tua dalam pengembangan bakat anak. Bila tertarik mengetahui tentang buku ini, silahkan kunjungi web buku, follow @takita atau like Facebook Anak Bukan Kertas Kosong.

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

12 thoughts on “Ki Hajar Dewantara dan Anak Bukan Kertas Kosong”

  1. Pendapat Ki Hajar Dewantara dan Ki Ageng Soerjomentaram tentang pendidikan hebat, tidak kalah dengan ide dan gagasan tokoh2 pendidikan dari negara lain. Tapi sayang, sepertinya bangsa ini telah melupakannya. Salut buat Pak Bukik……

    1. Iya ada banyak tokoh pendidikan Indonesia lainnya juga yang hebat-hebat pemikirannya. Kita sepertinya perlu belajar kembali, bukan untuk menirunya, tapi untuk menerjemahkannya sesuai tantangan masa kini dan masa depan

  2. Bangsa kita terlalu memuja produk luar negeri, sering terlupakan anak negeri yg justru ide pemikirannya dikembangkan dinegara maju malah ditempat asalnya dilupakan atau emang dilupain..dikota saya banyak warga asing yg datang ingin mengenal sosok KI Hajar Dewantara dan Ahmad Dahlan..tentang bagaimana mereka berbuat dan menyuarakan gagasan dalam organisasi yg mereka retas, kitanya malah nyaris ga kenal mereka..miris, mungkin itu kali yah knapa dinegara barat, studi sejarah begitu diminati..belajar kebelakang, bukan membelakangi..

    1. Setuju. Bahkan Ki Hadjar Dewantara lebih jauh lagi, ia mempelajari berbagai pengetahuan, tapi ia reformulasikan sesuai budaya dan kondisi Indonesia. Beliau adalah pembelajar global, yang berpijak pada konteks lokal

  3. Salam Kenal Pak Bukik..buku ini skg sdh d tngan sy dan smntara mbacanya…thx buat Ms.Lany Rohmaniah yg sdh mmbwkn ole2 ktka cuti….skg kami smntr prepare untuk reading club kami untk mmbhas buku ini..saluuuuddd…sy acr pribdi di bgunkan untuk mlihat anak didik dr kaca mata yg berbda…bhw mrk begtu istimwa…termasuk jagoan sy d rmh Alexander 2.6thn….smakin sukses yaaa pak….

  4. salam kenal pak bukik, saya salah satu murid bu wiwin di mapsi unair 2014. kebetulan hari ini saya sedang ngobrol dengan adik saya mengenai buku pak bukik yang berjudul anak bukan kertas kosong. adik saya juga bekerja di cikal sebagai sekretaris akademis, tetapi di cikal surabaya. Blog bu wiwin kemudian mengantarkan saya pada blog pak Bukik.
    mengenai blog pak bukik, saya setuju sekali dengan pak bukik yang menyatakan bahwa pendidikan bukan tentang merecoki anak dengan berjuta pengetahuan yang dimiliki pendidik, tetapi menumbuhkan benih kehidupan yang utuh agar dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi diri dan masyarakatnya. hal ini juga baru saja saya tulis dalam blog saya (jika sempat, pak bukik dapat berkunjung ke blog saya di tiyasworld@wordpress.com). saya juga prihatin dengan perkembangan dunia pendidikan yang menekankan nilai akademis sehingga banyak anak yang diikutkan les. saya juga prihatin dengan kenyataan bahwa masih ada sekolah yang lebih menekankan satu aspek saja yakni kepatuhan pada instruksi guru sehingga mencegah mereka untuk bertumbuh secara utuh.
    mengenai ki hadjar dewantara sendiri juga sempat disinggung oleh Bpk Anies Baswedan dalam paparan menteri yang disampaikan kepada sekolah sekolah dan saya menangkap adanya kesan bahwa arah pendidikan Indonesia saat ini hendak menuju ke konsep yang diperkenalkan oleh Ki Hadjar Dewantara.
    saya senang membaca blog pak bukik karena sangat mencerahkan, dan senang mengetahui bahwa saya -sebagai pendidik- tidak sedang berjuang sendiri. senang untuk mengetahui bahwa harapan saya, bahwa pendidikan di Indonesia akan dapat mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, bukan harapan yang kosong. Membaca blog pak bukik menguatkan semangat saya untuk tetap berusaha jadi pendidik yang lebih baik lagi. Semoga Pak Bukik makin sukses ^_^

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.