Agen Buku ABKK, Para Pelompat Jurang Pengetahuan

Berapa jarak jurang pengetahuan antara jakarta dan daerah? Bagaimana melompati jurang pengetahuan tersebut? 

Sejak beberapa tahun yang lalu, salah satu kesukaan saya ketika ke Jakarta adalah berkunjung ke toko buku Kinokuniya. Saya diperkenalkan toko buku ini pertama kali oleh Mas Dani. Dan sejak pertama, saya takjub dengan rak-rak buku impor yang begitu banyak di toko buku itu. Banyak sekali buku berkualitas yang selama ini hanya saya lihat dari layar komputer. Saya pegang buku-buku itu untuk memastikan bahwa itu nyata (Kelakuan wong ndeso :D ). Dan yang lebih menakjubkan saya, toko buku itu ramai pengunjung. Terlepas apakah mereka membeli atau tidak, kunjungan yang ramai menandakan antusiasme orang terhadap buku impor.

Saya kemudian membayangkan kapan kira-kira buku ini akan dibaca oleh orang Surabaya atau orang daerah lainnya. Ini bayangan saya. Bila suatu buku laris maka akan ada penerbit yang bersedia menerbitkan buku terjemahannya. Kapan buku disebut laris? Bisa satu bulan, bisa 6 bulan, bisa jadi 1 tahun atau bahkan lebih. Saya anggap rata-rata satu tahun. Jadi jarak jurang pengetahuan dunia antara jakarta dan daerah adalah 1 tahun. Penggunaan ukuran waktu menunjukkan betapa jauh jarak antara dua tebing pada jurang pengetahuan itu. Tentu jurang itu tidak berlaku untuk penggemar buku seperti beberapa teman yang memang suka berburu buku impor ke Jakarta atau bahkan Singapura. Jarak ini juga tidak berlaku bagi mereka yang bisa membeli di toko buku online seperti Amazon, Kobo atau Apple Store. Satu tahun pun adalah jarak Jakarta dengan kota besar, dalam hal ini contohnya Surabaya, belum terhitung untuk daerah yang lebih terpencil.

Begitulah jarak jurang pengetahuan dunia antara Jakarta dengan daerah. Orang Jakarta membaca sebuah buku hari ini yang satu tahun kemudian buku terjemahannya dibaca oleh orang di daerah lain. Mari kita kerucutkan pada lingkup yang lebih kecil, berapa jarak pengetahuan lokal yang diwakili buku lokal antara Jakarta dengan daerah lain?

Jadi buku saya, Anak Buku Kertas Kosong, terbit Jumat 13 Februari 2015 (Jadi ingat judul film horor :D ). Hari sabtu, 28 Februari, saya berkunjung ke Toko Buku Gramedia Manyar. Setelah membeli beberapa buku, saya cek buku saya di toko tersebut. Ternyata buku Anak Bukan Kertas Kosong belum tersedia di toko buku itu. Jadi buku sudah terbit di Jakarta tanggal 13 Februari masih belum tersedia di toko buku di Surabaya pada 28 Februari. Jauh juga ternyata jarak jurang antara Jakarta dan Surabaya, 15 hari. (Catatan: Bahkan sampai awal Maret ini, tiga orang teman melaporkan buku belum tersedia di Gramedia Manyar, Gramedia Kupang dan Gramedia Cibubur).

Apa akibat dari jurang pengetahuan ini? Setelah sebuah buku terbit, semisal buku itu jadi bahan percakapan dan diulas oleh media, serta beberapa teman dari Jakarta sudah membicarakannya di media sosial. Saya sebagai pembaca menyimak berita dan mengikuti percakapan beberapa teman. Saya merasa butuh buku itu dan ingin membelinya. Saya pun pergi ke toko buku dan ternyata, buku itu belum tersedia di toko buku di Surabaya. (Sidoarjo, kota domisili saya, hanya ada 2 toko buku kecil yang koleksinya jarang diperbaharui ): ). Saya pun tidak bisa mendapatkan buku itu. Ketika percakapan sudah usai, buku baru hadir di toko buku, dan minat saya terhadap buku itu pun sudah menurun.

Kondisi lebih parah akan dihadapi oleh penulis pemula. Buku penulis terkenal cenderung bertahan lama di rak buku baru sehingga lebih sering dan lebih menarik minat pengunjung. Buku penulis pemula cepat sekali disingkirkan dari rak buku baru. Seperti yang saya tulis di sini, supervisor Gramedia Expo mengatakan buku saya datang pada 27 Februari. Sementara saya datang tanggal 7 Maret, buku saya pada database komputer masih disebut di rak buku baru tapi kenyataannya sudah disingkirkan. Saya tidak tahu persisnya, tapi bila dihitung buku saya tidak sampai 1 minggu di rak buku baru. Ketika saya tanya, supervisor menjelaskan banyak buku baru sehingga buku cepat dipindahkan dari rak buku baru. Herannya, saya melihat sendiri buku yang lebih dulu terbit dari buku saya masih tetap bertahan di rak buku baru. Apa betul karena banyak buku baru terbit? Saya kok tidak terlalu yakin dengan alasan itu

Kenyataan-kenyataan tersebut menguatkan hipotesis saya dalam tulisan sebelumnya, Berjuang Melawan Kutukan 3000 Eksemplar, bahwa kemungkinan buku penulis pemula untuk dilihat oleh pengunjung toko buku adalah mendekati nol. Ada jurang pengetahuan yang lebar antara ketersediaan buku di toko buku dengan kebutuhan masyarakat. Jurang pengetahuan itu bukan semata-mata disebabkan oleh jarak geografis Indonesia, tapi juga oleh kerumitan-kerumitan tertentu dalam pola distribusi buku dari penerbit ke pembeli. Kerumitan yang dihasilkan dari perpaduan relasi penerbit – distributor, persepsi manajer toko buku terhadap buku hingga sikap petugas toko buku. Kerumitan ini pun sebenarnya sudah mengabaikan rumor mengenai trik-trik marketing untuk melejitkan buku biasa menjadi buku best seller (Faktanya lebih blur, jadi sementara saya abaikan).

Cover Buku Anak Bukan Kertas Kosong

Apakah saya sebagai penulis pemula menggantungkan nasib peredaran buku pada kerumitan-kerumitan tersebut?

Saya memang telah berencana menjual sendiri buku saya, Anak Bukan Kertas Kosong. Di kontrak penulis, ada ketentuan bahwa saya mendapat potongan harga bila membeli buku dari penerbit. Jadi saya pun membuka tawaran memesan buku dan kesempatan menjadi agen buku. Saya tawarkan buku melalui Facebook, baik akun pribadi maupun halaman Facebook Anak Bukan Kertas Kosong.  Ada beberapa pesanan masuk dan dua orang teman bersedia jadi agen buku, di Aceh dan Balikpapan.

Setelah diberitahu buku terbit, saya pun memesan 300 buku dari penerbit. Buku datang empat hari setelah terbit, hari selasa, 17 Februari 2015. Tidak disangka, begitu saya posting foto buku yang telah datang, pesanan datang bertubi-tubi dan 300 buku tersebut habis dipesan hanya dalam sehari. Selasa hingga Jumat, saya bersibuk diri mengantar buku ke ekspedisi. Bahkan pada hari jumat, saya menjadi kurir yang mengantar buku ke pemesan yang dekat dengan rumah saya. Akhirnya tahu rasanya jadi kurir…….dan mengapa mereka kalau naik motor begitu cekatan :)

Hari selasa sore, 17 Februari, saya mengirim sms untuk memesan 300 buku lagi. Saya mendapat sms jawaban bahwa buku di gudang tinggal 400 buku dan ditawarkan pada saya untuk memesan semuanya. Saya pun menyanggupi tawaran tersebut. Buku datang dan segera habis dipesan pula. Bedanya, 400 buku ini lebih banyak dipesan oleh agen buku. Pada kiriman pertama, hanya 40 dari 300 buku yang dipesan oleh agen buku. Tapi pada kiriman kedua, 267 dari 400 buku dipesan oleh agen buku.

Ditengah kesibukan menjual buku sempat terbersit, apa iya penulis harus menjual sendiri bukunya? Ketika tengah kepikiran, ada tweet dari @nulisbuku terlintas di linimasa saya. Begini bunyinya

Rasanya senang sekali. Berarti mentalitas saya sudah betul :D :D #menghiburdiri.

Dari dua kali pengiriman, saya pun melakukan perbandingan antara melayani pesanan eceran dengan pesanan dari agen buku. Ternyata tingkat kerepotan melayani pesanan agen buku lebih rendah daripada melayani pesanan eceran. Selain karena jumlah pengiriman lebih sedikit, pesanan oleh agen buku lebih pasti dari pada pesanan eceran yang seringkali lupa transfer, tanpa pemberitahuan. Bagi saya, agen buku ini luar biasa. Rata-rata seorang agen bisa menjual 16 buku dalam waktu 2 minggu. Jumlah itu setara dengan rata-rata jumlah persediaan buku saya di toko buku Gramedia. Jadi kapasitas satu agen setara dengan satu toko buku :). Penjualan tertinggi seorang agen bahkan mencapai 60 buku. Ketika saya ceritakan pada penerbit, mereka pun tidak menyangka dengan kapasitas agen buku ABKK.

Apakah motif ekonomi yang membuat agen buku ABKK bisa menjual buku begitu banyak? Kalau dibandingkan dengan bisnis online lain, margin yang didapatkan oleh seorang agen tidaklah besar, hanya 25% dari harga buku. Persentase itu kalau dirupiahkan, sangat kecil bila dibandingkan dengan yang dijanjikan untuk menjadi agen bisnis yang lain. Lalu apa penyebabnya?

Bila mengenal sosok agen buku ABKK, kebanyakan mereka adalah aktivis pendidikan atau setidaknya orang yang peduli pendidikan. Dengan tanpa menjadi agen buku pun, mereka telah menyebarluaskan informasi dan meyakinkan orang lain mengenai idealisme pendidikannya. Dugaan saya, buku ABKK adalah penguat bagi para agen dalam mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Penguat dalam artian ekonomi maupun penguat secara psikologis. Semacam agen buku itu mengatakan “Kalau tidak percaya omongan saya, baca nih buku ini” atau semacamnya.

Peran agen buku ABKK ini penting. Kembali ke topik mengenai jurang pengetahuan. Agen buku seperti menciptakan jembatan antara buku dengan orang-orang yang membutuhkan. Bila toko buku menuntut orang untuk datang mencari buku yang dibutuhkan, dan ada kemungkinan persediaan habis. Agen buku justru yang aktif menghadirkan buku yang dibutuhkan pada orang-orang yang membutuhkannya. Agen Buku adalah para pelompat tangguh yang mengambil resiko agar masyarakatnya menjadi tahu, menjadi tercerahkan.

Agen Buku ABKK saat ini berjumlah 16 orang yang tersebar di empat pulau, Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. (Lengkapnya Daftar Agen Buku ABKK). Bahkan gara-gara agen buku ABKK, saya jadi tahu nama kabupaten yang bernama Luwu Timur :D

Karena perannya penting, maka saya pun memutustukan untuk fokus melayani pesanan dari Agen Buku ABKK. Pada pengiriman ketiga sejumlah 400 buku (saat ini sudah dipesan 259 buku), saya khususkan untuk memenuhi pesanan dari agen buku ABKK. Apakah hanya untuk pengiriman ketiga? Saya berharap buku saya bisa cetak ulang. Saya sudah menyampaikan pesan pada penerbit untuk memasukkan peran agen buku ABKK dalam perencanaan marketing cetakan kedua.

Saya mengundang teman-teman yang peduli pendidikan dan berminat, untuk menjadi pelompat jurang pengetahuan, menjadi agen buku Anak Bukan Kertas Kosong. Bukan semata untuk mendapatkan manfaat ekonomi, tapi lebih penting lagi adalah menyebarluaskan gagasan pendidikan menumbuhkan ke seluruh Indonesia. Bila tertarik, silahkan pelajari Panduan Agen Buku ABKK.  Saya tunggu keterlibatan teman-teman :)

Info baru:

  1. Agen Buku ABKK berubah nama menjadi Agen Buku TemanTakita.com
  2. Buku yang dijual bukan hanya ABKK, tapi juga Bakat Bukan Takdir, Belajar dari Ki Hajar dan akan terus bertambah.
  3. Jumlah Agen Buku TemanTakita.com terus bertambah hingga awal 2016 telah berjumlah lebih dari 50 orang

 

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

6 thoughts on “Agen Buku ABKK, Para Pelompat Jurang Pengetahuan”

  1. Inspiring piece, Mas Bukik. Salut dengan kreativitas dan ketangguhan Mas Bukik menyiasati realitas dunia yang belum bersahabat dengan penulis. Mudah-mudahan saya bisa segera meniru. Saya sebetulnya punya lamunan yang agak liar, baru lamunan, dan bahkan belum melangkah. Saya membayangkan ada suatu sindikasi penulis-penulis yang mampu memangkas rute panjang bisnis buku, sehingga kelak penulis buku tak cuma dapat royalti 7 persen, dan pembaca pun dapat harga yang lebih murah, dan jurang itu bisa pelan-pelan ditutup. Coba deh, Mas Bukik ceritakan itungan-itungan dari pengalaman jadi “pengusaha ekspedisi” kemarin. Saya tertarik untuk menjawab pertanyaa, apa tidak mungkin ada cara mengimbangi tingkat competitiveness biaya distribusi pada existing networks yang 45 sampai 55 persen itu? Oh, ya Mas Bukik, waktu ke IBF tempo hari saya coba cari Pandamedia ga ketemu. Apa tidak ikut pameran? Jadi, saya ga beli buku, cuma anak-anak saja yang borong. Saya mau pesan ABKK, tapi masih nunggu honor tulisan saya cair. Selamat ya Mas Bukik, Salam sukses buat Mas Bukik.

    Yanto Musthofa

Gimana komentarmu?