Ada Apa dengan Anies Baswedan?

Pertanyaan “Ada Apa dengan Anies Baswedan?” muncul di pikiran banyak orang ketika mendengar Anies Baswedan (ABW) maju di Pemilihan Gubernur Jakarta. Ada apa? 

Beberapa orang bertanya-tanya mengapa ABW tidak rehat dulu atau mengapa ABW tidak tetap menekuni bidang pendidikan? Sebagian orang lagi mempertanyakan kenapa mau dicalonkan oleh Gerindra dan PKS. Tak sedikit yang nyinyir “Aha ketahuan belangmu!”, atau bahkan menuduh “ABW telah menjual jiwanya”.

Jadilah, keputusan ABW maju ke Pemilihan Gubernur Jakarta jadi keputusan yang kontroversial. Saya sendiri sejak deklarasi  hingga hari ini memilih untuk tidak banyak bicara di media sosial. Saya lebih menyimak pendapat orang termasuk pendapat beberapa orang blogger di sini dan di sini. Namun akhirnya saya pengen nulis juga….bukan mewakili ABW, bukan kapasitas saya, saya menulis sebatas sebagai pengamat perilaku.

ABW bukan tokoh pendidikan

Buat saya, keterkejutan publik terhadap keputusan ABW lebih dikarenakan citra ABW di mata publik. Media selama ini mencitrakan ABW sebagai tokoh pendidikan. Entah mengapa citra itu terus mengemuka meskipun citra tersebut sebenarnya sudah tidak bisa mewakili tindakan dan gerakan ABW.

Ya, di pandangan saya, ABW bukanlah tokoh pendidikan.

Pandangan saya tersebut mengacu pada rekam jejak ABW. Pertama, ABW lahir dari keluarga pergerakan nasional. Sejak kecil, Ia telah banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh nasional dari berbagai bidang. Kedua, ABW sejak mahasiswa lebih banyak terjun di dunia pergerakan. Ketika mahasiswa, ABW memimpin beberapa kali demonstrasi. Tindakan yang menunjukkan dorongan untuk melakukan perubahan kebijakan.

Ketiga, kalau pun terlibat di lembaga riset dan perguruan tinggi, ABW bukan berperan sebagai inisiator, lebih sebagai bagian dari proses belajar dan bekerjanya. Keempat, bidang studi ABW pun bukan di bidang pendidikan. Ia meraih gelar doktor di bidang kebijakan publik.

Dari aspek keluarga, kiprah ketika kuliah, peran di dunia kerja, hingga bidang studi yang ditekuni bukanlah rekam jejak yang memadai untuk sebuah kesimpulan ABW adalah tokoh pendidikan.

Lalu mengapa ABW dicitrakan sebagai tokoh pendidikan? Selain karena berasal dari kampus, tentu karena ABW menggagas gerakan Indonesia Mengajar (2009). Media seringkali merujuk ABW sebagai penggagas Indonesia Mengajar. Tapi benarkah Indonesia Mengajar yang digagas ABW pada saat itu tepat disebut gerakan pendidikan? Mari kita pelajari

Ada tiga misi Indonesia Mengajar:

  1. Menciptakan dampak yang berkelanjutan dari kehadiran Pengajar Muda di desa dan kabupaten penempatan.
  2. Membangun jejaring pemimpin masa depan yang memiliki pemahaman akar rumput.
  3. Membangun gerakan sosial pendidikan di Indonesia.

Ketiga misi itu mengarah pada satu pesan: membangun pergerakan. Kata kunci: dampak, jejaring, pemimpin masa depan, dan gerakan.

Peran-peran ABW di Indonesia Mengajar pun lebih banyak peran dalam mendesain, mengajak, mempengaruhi dan menggerakkan. Peran tersebut memang beririsan dengan peran pendidik, tapi tidak persis sama.

Bila bukan tokoh pendidikan, lalu apa peran ABW? Peran ABW adalah pemimpin pergerakan atau dalam istilah masa kini, pemimpin politik. Bila disejajarkan dengan tokoh nasional, ABW satu kategori dengan Soekarno, yang berbeda kategori dengan Ki Hadjar Dewantara.

ABW adalah pemimpin politik yang mempunyai kepedulian terhadap bidang pendidikan. Peran ini lebih konsisten dengan latar belakang keluarga, kiprah ketika mahasiswa, bidang studi yang ditekuni maupun ketika berkarier. Keahlian utamanya mendesain kebijakan publik dan menggerakkan keterlibatan publik.

ABW sebagai Pemimpin Politik 

Sekarang kita lanjutkan obrolan kita dengan titik acuan yang sama, ABW sebagai pemimpin politik. Titik tolak kiprah ABW di bidang politik bisa dilihat setidaknya sejak terlibat di Konvensi Capres Partai Demokrat dan berujung pada gerakan Turun Tangan pada tahun 2013. Apa itu? Gerakan yang mendorong orang baik masuk politik. Eksplisit!

Sebagaimana Indonesia Mengajar, ABW dengan Gerakan Turun Tangan pun berhasil menggerakkan publik. Dalam setahun, ada 35 ribu relawan yang bergabung dalam gerakan tersebut.

Meski dengan gebrakan itu, ABW tetap tidak lolos di Konvensi Capres Partai Demokrat.

Setahun kemudian, ABW kembali terlibat di politik ketika menjadi juru bicara pasangan Jokowi – JK. Keterlibatan ini pun bukan tanpa kontroversi. Pada saat itu, sejumlah relawan TurunTangan mempertanyakan pilihannya yang dijawab oleh ABW dengan sebuah surat terbuka.

Selepas itu, ABW terlibat di Kantor Transisi Jokowi – JK  sebagai salah satu deputi. Dan akhirnya ABW diangkat Jokowi menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang dicopot 20 bulan kemudian dalam sebuah resfhulle yang menimbulkan beberapa polemik di kemudian hari.

Mengapa ABW diganti? Ada dua spekulasi mengapa ABW diganti, soal kinerja dan soal politik. Saya sendiri punya pendapat berbeda, lebih ke soal perbedaan gaya kepemimpinan ABW dan Jokowi.

Jokowi adalah model pemimpin politik yang pragmatis. Slogan kabinetnya sudah mencerminkan hal tersebut, kerja, kerja, kerja. Jokowi memberi target, para menteri dituntut mengejar target tersebut dalam ukuran angka.

Gaya tersebut berbeda dengan gaya kepemimpinan ABW. Ketika diberi target, ABW berpikir mengajak semua orang untuk bekerja bersama mencapai target tersebut. Maju bersama.

Kedua gaya ada positif dan negatifnya, tapi dalam politik, acuannya tentu gaya kepempinan Jokowi selaku presiden.

Saya pribadi lebih sreg dengan gaya kepemimpinan ABW. Ada satu pengalaman yang mengingatkan saya dengan kepemimpinannya.

Ketika menjadi dosen, saya pernah merasakan kepemimpinan dekan yang berbeda. Beliau bernama Prof. Zainuddin. Berbeda dengan dekan sebelumnya, beliau lebih banyak mendengar, memahami dan mengajak para dosen, yang kebanyakan seperti saya, merasa pintar :D

Setiap sore beliau keliling ke ruang dosen, bertanya dan berbincang dengan para dosen, dari satu ruang ke ruang yang lain. Bila ada dosen yang tidak bertemu, beliau membuat pertemuan khusus. Setiap keluhan didengar, setiap usulan diusahakan dapat kesempatan.

Hasilnya, pondasi perubahan tersebut tetap bertahan meski sudah lewat dua kali masa jabatan beliau. Beliau tidak membuat gebrakan yang menempatkannya sebagai bintang. Tapi upayanya membuat setiap dosen mendapat kesempatan menjadi bintang, hingga kini.

Keberhasilan tertinggi seorang pemimpin dilihat dari dampak perubahan pemimpin tersebut setelah tidak memimpin. Ketika memegang jabatan, pemimpin memang punya kuasa untuk melakukan perubahan. Tapi perubahan hanya karena kuasa, seringkali tidak berumur panjang. Ketika pemimpin itu tidak menjabat, kebijakannya akan diubah.

Bagaimana upaya memastikan perubahan berdampak jangka panjang? Pelibatan publik. Penting bagi pemimpin untuk membangun kesadaran pentingnya suatu perubahan. Perubahan bukan kebutuhan pemimpin, tapi jadi kebutuhan publik. Pemimpin berganti, perubahan tetap dikawal publik sebagai pemiliknya.

Mau kemana ABW? 

Setelah dicopot, mau kemana ABW? Ada beberapa skenario yang bisa dilakukan ABW. Pertama, kembali menjadi pengajar. Kedua, mempersiapkan diri untuk pemilihan presiden 2019. Ketiga, membangun gerakan politik yang lebih luas dengan memberdayakan pemimpin daerah.

Pilihan pertama, sebagaimana dibahas di awal tulisan, tidak cocok dengan profil ABW. Pilihan kedua, ada dua pertimbangan yang memberatkan. Siapa partai pendukungnya? Sangat kecil kemungkinan dari partai yang berkoalisi mendukung Jokowi. Padahal saat ini, hampir semua partai sudah mengarahkan dukungannya ke pemerintah. Bila mendapat dukungan partai saja sulit, bagaimana bertarung dengan Jokowi di 2019?

Pilihan ketiga sebenarnya yang masuk akal bila mengingat rekam jejak ABW. Namun sebesar apapun gerakan politik, dampaknya tidak sebesar bila mempunyai posisi politik di pemerintahan. Lagipula gerakan Indonesia Mengajar dan Turuntangan sudah terbukti bisa tetap berjalan meski tanpa keterlibatan ABW.

Ketiga pilihan tersebut bukan pilihan yang menjanjikan lahir dampak perubahan yang besar. Saya menduga pada momen menentukan pilihan tersebut, datang tawaran politik untuk maju ke pemilihan gubernur Jakarta.

Bayangkan, ABW dengan rekam jejak sebagai pemimpin politik dan dengan gelar S3 kebijakan publik, mendapat tawaran posisi politik yang strategis. Ibarat seorang yang berbakat menyanyi, mendapat tawaran untuk menyanyi. Secara prinsip, tawaran itu sesuai dengan kebutuhan ABW sebagai pemimpin politik. Tinggal bagaimana perhitungan politiknya.

Sehari sebelum deklarasi, muncul sebuah catatan sahabat ABW yang menyatakan ABW menolak dicalonkan sebagai calon wakil gubernur berpasangan dengan Sandiaga Uno. Catatan yang membuat sebagian orang merasa lega.

Dan mereka yang merasa lega itu yang kemudian menjadi yang paling kaget ketika ABW maju, bukan sebagai calon wakil, tapi sebagai calon gubernur Jakarta. Padahal, dinamika ini justru menunjukkan ABW melakukan perhitungan politik yang rasional untuk berkoalisi dengan Gerindra dan PKS.

Komentar terhadap kesediaan ABW berkoalisi dengan Gerindra dan PKS membuat saya takjub. Katanya, ABW telah menjual jiwanya ke setan. Berlebihan, seolah pilihan berkoalisi dengan partai politik lain jauh lebih baik.

Sejauh ini, saya tetap melihat ABW sebagaimana ABW yang saya kenal. Kalau pun ada pemberitaan yang mengesankan ABW berubah, coba kritisi pemberitaan tersebut dalam konteks kompetisi pemilihan gubernur Jakarta. Bahkan, belum-belum dua tokoh fanatik sekarang malah sudah menjauh dari ABW. Iya siapa lagi, Jonru dan Piyungan.

jonru-tidak-memilih-anies-baswedan

Idealisme partai politik tidak lah solid. Kiprah banyak kepala daerah menunjukkan bahwa dampak positif bukan karena faktor partai, tapi lebih ke faktor personal. Sebut saja, Ahok, Ridwan Kamil, Risma, Ganjar dan banyak lagi.

Jadi berkoalisi dengan partai tertentu bukan soal idealisme, tapi soal tawar menawar antara pemimpin dengan partai pendukungnya. Selama sang pemimpin mampu bernegosiasi, kebaikan publik tetap bisa diwujudkan.

Apakah ABW akan terpengaruh Gerindra dan PKS? Pasti, sebagaimana calon yang lain akan terpengaruh partai politik pendukungnya. Tantangannya, apakah ABW bisa menjaga besaran pengaruh tersebut tetap berada pada koridor hukum dan kebaikan publik?

Bagi saya, pilihan ABW berkoalisi dengan Gerindra dan PKS justru sebuah ujian buat ABW. Apakah ABW pantas untuk menjadi pemimpin politik pada koalisi yang berbeda? Apakah ABW cukup besar untuk mencalonkan diri sebagai Presiden RI?

Mari kita tunggu…

Iya saya pun nunggu, karena saya tidak punya KTP Jakarta :D

 

Catatan:

Penulis pernah terlibat di Pokja Pendidikan Kantor Transisi Jokowi – JK di bawah kepemimpinan Anies Baswedan.

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

5 thoughts on “Ada Apa dengan Anies Baswedan?”

  1. Kira-kira siapa ya yang bakal mimpin DKI 1.

    Saya sendiri juga menanti karena tidak ada ktp jakarta. Hehe.

    Tapi mungkin ini jadi ajang untuk pendidikan politik terlebih di pemilihan RI 1 nanti.

    Mungkin… :D

  2. Saya jadi sedikit banyak tahu tentang program Indonesia mengajar yang digerakkan ABW,
    Sebenernya saya mau tanya pak. Apakah menjadi relawan Indonesia mengajar itu baik atau balik lagi ke panggilan diri sendiri?

    Terimakasih

  3. Menjadi pemimpin yg baik itu sulit.. Tp lebih sulit lg memilih pemimpin yg baik.. Selamat berpikir dan memilih pemimpin yg baik u saudara2 ku di Jakarta… Berpikirlah dengan akal sehat, hati bersih dan iman kuat..
    Semoga masyarakat Jakarta akan mendapatkan pemimpin yang baik.. Insyaa Allah..

  4. Saya lebih setuju jika Anis Baswedan kembali dan tetap di gerakan Indonesia Mengajar. Sesuai dengan kapasitas dan visi misi Anis Baswedan sendiri. Sebab kalau menjadi politisi, terlalu banyak jebakan yang bisa menjerat dan menjerembabkan Anis Baswedan ke tingkat paling bawah.

Gimana komentarmu?