Apa benar “ah cuma teori” ?
Benarkah ungkapan “ah cuma teori”? Atau jangan-jangan setiap tindakan kita justru dilandasi oleh suatu teori tertentu?
Di kalangan orang awam dan juga sebagian aktivis sosial, teori sering diasosiasikan sebagai omong kosong. Setidaknya asosiasi tersebut terlihat dari ungkapan “ah kan cuma teori”. Seolah-olah teori itu sebagai sesuatu yang dikatakan tapi tidak disertai tindakan. Persepsi demikian membuat orang meremehkan peran teori dalam kehidupan. Seolah langsung bertindak adalah pilihan satu-satunya.
Padahal kenyataannya, tindakan setiap orang dilandasi oleh teori (theory in use). Misal: Si Budi mendapat undangan rapat maka ia akan mempunyai dugaan: rapat mulai tepat waktu karena si bos datang. Dugaan ini akan membuatnya melakukan suatu antisipasi. Budi akan menilai ketepatan dugaannya sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Bila terbukti tepat waktu maka Budi akan memperkuat dugaannya. Bila tidak terbukti tepat waktu maka Budi akan mengganti atau merevisi dugaannya. Dugaan yang terbukti itulah sebuah teori. Sebuah proposisi yang digunakan orang untuk menjelaskan dan memprediksi realitas.
Apa yang dialami Budi itu pada dasarnya menjelaskan bagaimana sebuah teori terbentuk sekaligus menjadi basi. Ingat bagaimana Newton yang lagi duduk di bawah pohon apel kemudian kejatuhan buah apel. Pengalaman itu direfleksikan menjadi sebuah dugaan yang kemudian diuji (secara spekulatif atau empiris) maka jadilah teori gravitasi. Teori itu asalnya ya dari tindakan manusia (pengalaman atau imajinasi) juga.
Apa manfaat teori? Teori membantu kita untuk menjelaskan realitas secara sistematis sehingga mudah disebarluaskan. Dengan adanya teori, kita bisa membuat sebuah prediksi sehingga kita bisa mengantisipasi suatu kejadian secara efektif. Selain itu, adanya teori memudahkan kita untuk melakukan pengembangan dengan melakukan revisi atau perubahan sebuah teori.
Ingin melakukan pengembangan dan perubahan diri? Sadari teori yang kamu yakini, ubahlah. Niscaya tindakan kamu berubah, respon orang lain pun ikut berubah.
Apa teori yang melandasi kamu dalam bekerja?








teori adalah landasan berpikir,.. tapi harus siap melakukan penyesuaian apabila sudah dilapangan.. suka tdk sesuai… supaya tidak dibilang ah cuma theori saja itu sih..
Mantaabb… Sama dengan berpikir sebelum bertindak, ya Mas…?
S7. Bukankah hidup juga bentuk pengulangan dari para leluhur sbelumnya? Hanya beda ‘backgroud panggung’ alias ZAMAN. Maka pantas jika mereka yg MENGIRINGI ZAMAN lah, yang akan menemukan DIRInya. Dan sya lebih nyaman menggunakan kata tsb, dibandingkan ‘mengikuti zaman’..*subyektif ^.^
Banyak orang menerapkan teori tanpa sadar bahwa itu teori. Apa yang diyakini intuitif bahkan instinktif sudah diteorikan oleh orang lain.
Lha wong marah sebagai respon saja diteorikan kok /
ada teori yang dicari-cari untuk pembenaran suatu kasus, ada suatu kasus yang dicari-cari polanya sehingga ketemu teori baru
kalau aku bekerja semuanya berdasarkan teori lah mas..
kalau mau buat proposal harus melihat juknis dan juklaknya, dan itu termasuk teori kan yak.. misal kalau mau buat SK harus melihat dasar pembuatan tata SK, dan itu teori.. dunia gak pake teori rasanya kerja jadi asal-asalan yak
yes, pertamax
contohnya itu kan cara orang berpikir deduktif ya mas? kalo induktif seperti apa mas?
matur suwun
Itu cerita buah apel itu kan induktif, dari pengalaman disimpulkan menjadi teori