Bukik Bertanya : Lingkaran Biru @drMetiMetiani
Dokter Meti atau di twitter dikenal sebagai @drMetiMetiani, rajin berbagi tips dan hasil riset medis. Entah bagaimana caranya bisa mengatur waktu praktek dengan ngetweet dari 2 akun.
Aku lupa-lupa ingat mengapa aku di follow Dokter Meti, tapi kalau gak salah itu gara-gara salah satu tweetku diretweet oleh Pak @Nukman. Setelah RT itu kemudian datang email notifikasi kalau aku difollow oleh seorang dokter. Wah asyik bisa mengirim pesan konsultasi……
Kalau menyimak tweetnya, Dokter Meti ini berusaha menyebutkan sumber-sumber tweet yang berupa hasil riset. Sepertinya sih, dokter ini membaca jurnal, menemukan intisarinya dan kemudian ditweetkan. Apa gak repot ya? Padahal selain menangani akun twitter @drMetiMetiani, dokter yang praktek di rumah sakit ibu dan anak ini juga memegang akun pribadi @nengmeti, yang juga digunakan untuk konsultasi online.
Bagaimana perjalanannya menjadi seorang dokter? Bagaimana pula kok bisa sampai suka dengan twitter?
Namaku adalah Meti Metiani. Awalnya mama mempunyai rancangan 10 nama untukku tapi yang sesuai perhitungan menurut orang tua jaman dulu harus ada kata “ani” untuk namaku. Entah dari mana terlintas dalam hati papaku kalo bayi yang ada dalam kandungan mama adalah perempuan, padahal di USG dokter kandungannya bilang laki-laki.
Papa merasa nama Meti cocok untukku karena dalam pikirannya anaknya pasti perempuan, lincah, cantik, anggun dan pintar (kata papa sih). Karena kami ini orang Sunda asli, biasanya nama berulang dan sesuai perhitungan mesti ada kata ani jadilah nama Meti Metiani tanpa arti hanya sesuai perasaan murni.
Nama panggilanku sehari-hari adalah “neng”. Neng biasanya diberikan untuk anak perempuan pertama di keluarga Sunda. Karena papa mama selalu panggil aku dengan sebutan neng, otomatis semua tetangga, teman dan sebagian keluargaku memanggilku neng. Aku juga dipanggil teteh oleh kedua orang adikku atau orang-orang yang umurnya di bawahku, lagi-lagi dengan alasan kakak perempuan Sunda.
Aku dipanggil “Mey” oleh beberapa orang kakak sepupuku. Mereka bilang alasannya hanya karena enak dipanggil karena hanya diucapkan satu kata. Nama lain adalah “memol” yang sering dipakai beberapa orang teman dekat saja. Arti nama ini sebenarnya hanya dari singkatan yaitu meti moleh (montok) karena memang dulu montok banget heheheheh.
Perjalanan hidupku adalah hal yang selalu aku banggakan ke setiap orang karena memang penuh arti buat hidupku. Dari mulai lahir sampai sekarang memang sangat beragam dan seru (menurutku sih begitu heheheheh).
Saat di dalam kandungan mamaku,mama bilang repot sekali dan lumayan menyiksa. Dari usia kandungan 1,5 bulan mama dah merasa kontraksi selalu merasa mules. Usia kandungan 5,5 bulan ada kontraksi lagi, setiap malam aku selalu menendang-nendang perut mamaku, mama bilang aku seperti ingin cepat keluar dari perut mamaku. Akhirnya dokter kandungan memberi obat penekan kontraksi dan penguat kandungan. Hal ini terjadi 4 kali yang membuat dokternya sudah gak sanggup lagi menahan aku untuk segera keluar dari perut mamaku. Pergerakanku dalam kandungan sangat berlebihan (versi dokter) ini yang membut mamaku merasa tersiksa.
Setiap malam papaku selalu ngobrol denganku dalam perut, “Nak sabar yah nak belum cukup usiamu untuk lahir sekarang, tunggu sebentar yah” yang selalu dijawabku dengan tendangan ke perut mama berkali2 sampai mama kewalahan dan baru berhenti kalo papa sudah meniupkan doa ke perut mamaku.
Usia kandungan 7 bulan 10 hari semakin liar gerakanku dan kontraksi terus menerus dialami mamaku. Karena memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi dan memang usia 7 bulan cukup untuk bayi bertahan hidup, akhirnya aku dilahirkan secara normal di bidan karena saat itu kondisi keuangan keluargaku pas-pasan. Anehnya mama bilang dari pembukaan 1-10 hanya memakan waktu ½ jam padahal untuk ukuran anak pertama semestinya dari pembukaan 1-10 bisa memakan waktu 14 jam. Dari sinilah orang tuaku merasa ada keanehan dalam diriku.
Selama perkembangan bayi hingga balita, memang mama papaku bilang aku ini beda sendiri entah karena aku lahir secara premature atau hanya kebetulan saja. Dari bayi aku sudah ingin banyak bergerak. Usia 8 bulan aku sudah berjalan yang membuat orang tuaku kaget takutnya mempengaruhi tulangku karena terlalu cepat berjalan. Usia 2 tahun orang tuaku bilang aku selalu ingin memegang pensil dan bolpoint bahkan mencontoh tulisan yang ada di buku walaupun hasilnya acak-acakan.
Umur 3 tahun aku sudah bisa membaca koran. Umur 4 tahun aku sudah bisa membaca Al-Quran. Sempat orang tuaku khawatir dengan perkembanganku yang mereka nilai terlalu berlebihan, terlalu aktif untuk seusia aku bahkan sifat ambisius aku terlihat saat usia 4 tahun aku wajib mengikuti semua perlombaan. Orang tuaku selalu mencoba untuk menahan aku,tapi aku selalu berontak kalau berhubungan dengan masalah kesukaanku.
Usia 4,5 tahun aku sudah masuk TK dan tentu saja orang tuaku sudah terbiasa dengan sifatku yang tidak mau kalah dengan siapapun juga. Selama masa SD aku selalu ingin menjadi no 1 tapi entah kenapa peringkat kelasku hanya peringkat 2 atau 3. Saat itu karena ambisi aku tidak tercapai aku sudah pandai membuat strategi bagaimana caranya aku bisa mengalahkan si peringkat 1 (dicatat di buku harian) bahkan sampai aku tempel namanya dia di kamarku.
Orang tuaku khawatir karena ambisi aku ini memang aku berubah menjadi seorang anak egois. Walaupun begitu, aku dikenal oleh teman-temanku sebagai anak yang suka bergaul,tidak hanya dengan seusiaku tapi aku mampu berteman akrab dengan orang-orang yang jauh diatasku termasuk guru-guruku. Inilah yang menyebabkan aku selalu berpikir jauh dibanding anak-anak seusiaku. Hal ini terjadi sampai SMP kelas 1.
Tamparan terjadi di SMP kelas 2. Aku masuk SMP favorit di daerah bandung utara dan masuk kelas favorit juga saat SMP kelas 2. Disini baru aku sadar kalau ternyata banyak sekali di sekitarku yang pintar. Aku kewalahan dengan organisasiku yang semakin lama banyak kegiatan dan memang dari SD aku aktif di organisasi bahkan selalu menjadi ketua. Aku juga kewalahan dengan masalah pendidikanku yang selalu dikalahkan oleh teman-temanku yang memang didalamnya semua orang-orang pintar karena kelas favorit. Rancangan strategiku acak-acakan karena aku mesti merancang 2 hal sekaligus yang sangat memberatkan aku.
Hampir semua nama teman-temanku di kelas aku masukan dalam list daftar sainganku, penuh kamarku dengan tempelan nama-nama mereka. Pembagian raport akhirnya dimulai, aku masih merasa aku pasti akan rangking minimal rangking 3. Kaget bukan kepalang aku gak masuk 5 besar. Perasaanku saat itu, aku merasa sebagai orang gagal, malu sama teman-temanku, malu dengan guruku juga, malu dengan organisasiku, malu sama keluarga besarku. Karena kejadian itu, aku mulai sadar orang tidak selamanya di atas,bisa naik dan turun maka turunlah sedikit demi sedikit egoku.
Aku tinggalkan semua ambisiku untuk bisa berprestasi dalam banyak hal. Aku ubah srategiku dalam hal pendidikanku, berubah menjadi santai tidak tergesa-gesa walaupun tetap selalu ada nama sainganku di kamarku. Tentu saja aku pun memilih, organisasi atau sekolah? Dan aku meninggalkan organisasiku akhirnya. Dengan rencana dan srategiku itu mulai naik lagi peringkatku caturwulan 2 rangking 4 dan caturwulan3 menjadi rangking 3.
Tamparan ini membuat PDku lumayan hilang, aku sulit konsentrasi dengan ujian akhir. Setiap ujian akhir nilaiku selalu gak sempurna dibandingkan ulangan biasa. Walaupun selama kelas 3 aku selalu rangking 1 tapi itu terbantu dengan nilai ulangan harianku. Saat ujian akhir untuk masuk SMA hasil akhirnya NEM ku pas-pasan untuk masuk sekolah favorit. Saat aku diterima SMA favorit tersebut aku menangis, tapi bukan karena aku terharu karena diterima tapi aku takut tidak naik kelas karena NEMku kedua terendah di SMA favorit tersebut.
Seperti biasa aku merancang semua masalah pendidikanku. Dengan santai aku jalankan strategiku itu dan alhamdulilah dari SMA kelas 1 sampai 2 aku selalu rangking 1. PDku mulai hidup kembali walaupun begitu tetap saja aku pasang nama sainganku. Bedanya dulu nama saingan-sainganku hanya sebatas teman sekelas, saat SMA sainganku semua rangking 1 dari berbagai kelas bahkan karena pergaulanku sangat luas aku tau nama-nama rangking 1 dari berbagai sekolah favorit dengan melihat perbandingan nilai. Rancangan strategiku selanjutnya adalah bagaimana caranya aku bisa juara umum di sekolahku (ampe segitunya yah hihihihi).
Kelas 3 mulailah menjadi anak “nakal” di sekolah. Sebetulnya karena ada masalah di keluargaku, aku berubah menjadi brutal. Semua aturan sekolah yang ada dilanggar. Siapapun yang memasang aturan,aku lakukan sebaliknya. Untung saja hampir semua guru-guruku akrab denganku, jadi sangat memaklumi perubahan yang terjadi denganku.
Tetap saja walaupun begitu aku dah masuk BP 3 kali, dikeluarkan oleh guru 3 kali,dapat hukuman berkali-kali. Walaupun guru-guruku setelah menghukumku selalu memanggilku dan bilang “Met maaf yah dihukum, biar siswa yang lain gak ikut nakal juga kayak kamu” dan selalu aku bilang dengan santai “oke gak masalah dihukum seneng-seneng aja heheheheh” yang membuatku semakin terkenal sampai ke kepala sekolah.
Untunglah pergaulanku luas, aku kenal dengan beberapa orang guru-guru hebat di Indonesia yang aktif dalam olimpiade dunia,mereka berkumpul di salah satu tempat les terkenal di Bandung. Karena aku selalu nongkrong bareng dengan mereka, aku udah beda pemikiran sama teman-temanku. Bagiku saat kelas 3 yang terpenting adalah UMPTN. Aku belajar lebih dulu dibandingkan dengan teman-temanku dan karena tugas dari guruku banyak sekali,aku harus tiap hari bertemu mereka. Malam aku mengerjakan,siangnya harus dikumpul.
Itulah yang menyebabkan aku selalu bolos sekolah. Paling 1 minggu aku sekolah hanya 3 atau 4 hari aku masuk sekolah. Teman-temanku masih belajar untuk semester 1 awal, aku sudah belajar sampai semester 2. Kalaupun aku masuk sekolah biasanya tidur karena malamnya aku mengerjakan tugas banyak dari guru-guru olimpiade itu. Aku juga sering konsultasi dengan guru-guruku di kelas masalah materi terbaru yang aku tahu, jadi walau aku sering bolos tidak pernah dibilang alfa atau ijin. Aku juga jarang ikut ulangan, ulanganku biasanya buat kunci jawaban buat ulangan teman-temanku. Karena itulah aku menjadi cuek dengan keseharianku, baju seadanya, gak pernah bawa buku ke sekolah,nakal bukan main tapi dikenal sampai ke beberapa siswa sekolah favorit di Bandung sebagai anak ajaib (kacau juga heheheheh).
Tamparan terjadi lagi saat aku kelas 3 semester 2. Akhir semester 1 saat pembagian raport aku mendapat peringkat 1 bahkan ternyata juara umum di SMAku. Akhirnya cita-citaku untuk mengalahkan semua anak yang rangking 1 di SMAku tercapai bahkan aku dikenal hampir semua murid kelas 3 saat itu. Anak kelasku merasa bangga karena yang jadi juara umum adalah aku padahal aku luar biasa nakal.
Setelah aku bandingkan dengan beberapa juara umum sekolah favorit ternyata nilaiku hanya beda 1 angka dengan juara umum SMA terfavorit di Bandung yang tentu saja karena tukang gaul aku mengenalnya sangat dekat. Karena SMAku dan SMA teravorit itu tidak ada gerbang pemisah, aku sering menyelundup masuk ke kelas sang juara umum ini. Memang hobiku sejak kelas 3 menyelundup kelas orang dengan alasan ingin mendapat ilmu lebih dari guru lain.
Saat istirahat tiba, aku masuk ke kelas sang juara umum di SMA sebelah. Karena kelas itu sudah terbiasa dengan kehadiranku, jadi tidak ada seorangpun yang protes. Kulihat disana orang-orang masih asik dengan bukunya masing-masing, hanya sebagian kecil yang beristirahat. Aku menghampiri temanku sang juara umum dan berkata “hey selamat yah,juara umum lagi neh,mantaf”. Sang juara umum ini senyum dan bilang “akhirnya bisa juga yah kamu dapat gelar juara umum hihihihihi”. Kulihat temanku ini sedang asik mengerjakan soal try out Fisika spontan aku bilang “kamu kerjain nanti aku lihat yah, aku ikut tidur disini”. Temanku itu hanya mengangguk.
Saat aku tertidur, datanglah sekumpulan teman perempuanku yang memang kutahu mereka pintar-pintar di SMA itu. Mereka menghampiriku dan berkata “wah wah lihat nih teman-teman, perbandingan jauh antara juara umum sekolah kita dan sekolah tetangga, juara umum sekolah kita cantik, anggun, rajin, rapi dan memang pintar. Coba lihat juara umum tetangga sebelah, tukang tidur, gak karuan rupanya, mana pernah dia terlihat memegang buku, ragu nih pinter apa nggak”.
Aku seperti ditampar berkali-kali, rasanya hancur gak karuan. Bukan karena aku merasa terhina, tapi aku mencemarkan nama baik sekolah, aku merasa kasian dengan teman-temanku dan juga guru-guruku. Kalau bisa aku kembali aku meminta biarlah aku tidak menjadi juara umum kalau hanya membuat sekolahku terhina. Sejak kejadian itu, aku berpikir kadang orang hanya selalu melihat dari bungkusnya saja, isinya gak akan pernah dilirik kalau bungkusnya berantakan. Mulai saat itu pula aku sangat menghargai guru-guruku dan teman-temanku.
Saat semester 2 aku gak merasa ingin menjadi juara umum lagi, cukuplah sekolahku dirugikan karena aku. Aku mulai kembali teratur dan mulai senang di sekolah. Aku juga sering mengajar teman-temanku kalau mereka bertanya. Aku mulai menikmati kehidupanku menjadi guru dadakan. Sejak saat itu aku terbiasa mengajar siapapun, entah teman, tetangga, adeku atau sepupuku. Aku terbiasa membagi ilmu-ilmuku yang asing di kalangan seorang murid SMA. Walau masih acak-acakan tapi aku lebih normal.
Aku sudah berniat untuk menjadi seorang insinyur, karena itu aku menempatkan pilihanku ke ITB. Cita-citaku dari kecil sampai SMA kelas 1 adalah dokter karena memang kebetulan keluarga besarku terkait di lingkungan kesehatan walaupun tidak ada seorangpun yang menjadi dokter. Tapi setelah kelas 2 niatku berubah melihat keahlianku dalam hitungan dan sangat lemah masalah hapalan. Aku harus belajar mati-matian untuk hapalan kalau mau nilaiku sempurna.
Beberapa saat waktu aku akan menghadapi UMPTN, tiba-tiba keluarga besarku meminta aku untuk menjadi dokter bahkan orang tuaku sendiri. Bagaikan petir di siang bolong dan hati seperti teriris-iris, sambil menangis aku merubah pilihanku dari ITB menjadi UNPAD kedokteran hanya untuk menyenangkan hati keluargaku. Saat pembukaan penerimaan, aku senang bukan main walaupun setengah hati tapi aku benar2 menikmati kesenanganku hari itu. Aku akan menjadi seorang dokter. Walaupun aku niat setengah hati, tetap pada prinsipnya serumit apapun aku tidak boleh jatuh. Jadi aku belajar tapi tanpa niat dan tidak tahu aku belajar untuk apa. Aku hanya belajar agar ipkku tinggi dan tidak memalukan.
Inilah kejadian yang merubah prinsipku. Waktu itu aku semester 2, rumahku saat itu kecil dan berada di kawasan kumuh. Tiba-tiba tetanggaku mengetuk pintu meminta bantuan katanya anaknya kejang. Dengan bingung akhirnya aku mau juga datang kerumahnya, saat kulihat anak ini badannya panas dan dia kejang-kejang. Aku bingung “penyakit apakah ini?” aku hanya diam ternganga dan gak tau mesti lakuin apa untuk anak ini. Aku bilang orang tuanya “ini mesti dibawa ke dokter” dan apa kata orang tuanya? “saya tidak punya uang untuk berobat” bergetar hatiku berkaca-kaca mataku dan aku niat dalam hati “aku mesti menjadi dokter yang baik, tidak hanya pintar tapi niat tulus membantu orang”. Itulah yang membuat aku berubah total.
Keluargaku saat aku masih kecil bukan keluarga berkecukupan. Orang tuaku pernah berkata untuk membeli susuku saat itu mamaku sampai cari pinjaman. Pernah mama menangis karena benar-benar tidak ada uang untuk makan apalagi membeli susuku. Beras aja pinjam. Kami hanya mengontrak di lingkungan kumuh yang selalu berpindah-pindah tempat kalau ternyata kontrakan itu sudah terlalu mahal bagi kemampuan ekonomi keluargaku.
Aku memang jaman TK tidak diijinkan untuk jajan diluar karena mamaku sangat menjaga masalah kesehatan. Baru mulai SD aku tau artinya jajan. Aku kesulitan untuk membeli jajanan seperti teman-temanku. Mereka bisa membeli chiki,coklat,es krim sedangkan aku hanya meneguk ludah saja. Paling banter jajan gorengan hehehehehe. Kalau aku mau beli coklat, aku mesti rela pulang jalan kaki, jarak rumah ke sekolah cukup jauh. Aku kadang suka berjualan sama adikku es keliling itu kelas 4 SD. Aku di SMP juga pernah berjualan kue-kue kecil bantu orang tuaku. SMA kelas 3 mulailah keadaan ekonomi papa mamaku menanjak tapi gak seberapa besar. Kami bisa membeli rumah kecil tetap di lingkungan kumuh.
Aku berada di lingkungan SMA yang terkenal tajir mampus orang-orang bilang. Dulu aku sempat gak PD tapi ternyata teman-temanku gak pernah membeda-bedakan apalagi alhamdulilah aku punya “otak” itulah senjata rahasiaku. Sejak itu aku percaya, pendidikan bagiku adalah nomor 1. Bagiku harta bisa habis, tapi pendidikan dikenang sepanjang jaman. Dan dengan kita berpendidikan lebih dihargai orang dan tidak mudah tertipu.
Aku sering dihina-hina orang masalah aku masuk kedokteran bahkan oleh sodaraku sendiri. Aku sering ditakut-takuti orang kalau aku bakal putus sekolah karena aku tidak mampu. Mungkin karena aku beruntung, alhamdulilah setelah aku kuliah semua meningkat. Papaku memang pintar dan dia dipromosikan naik jabatan dan akhirnya semua berubah.
Intinya kalau memang Tuhan memberi kesempatan, manfaatkanlah sebaik-baiknya, itu rezeki kita dan Tuhan akan memberi jalan untuk mencapainya. Makanya sesulit apapun kondisi keuangan keluargaku, orang tuaku berprinsip pendidikan nomor 1, rezeki sudah diatur.
Walaupun keadaan ekonomiku sudah mulai meningkat, aku tetap prihatin sama orang tuaku. Aku gak pernah minta uang tambahan kecuali terpaksa. Aku kadang menahan rasa lapar apabila uang jajanku habis karena aku wajib fotocopy materi kuliahku. Kalau mau nongkrong di café diajak teman,aku mesti mengumpulkan kira-kira 1 minggu sisa uang jajanku dulu heheheheh. Alhamdulilah saat aku koass aku kenal sama bosku saat ini yang sama-sama susah juga. Kami sering saling bantu hingga sekarang.
Dengan keadaanku dulu, aku sangat sensitive sama orang-orang miskin. Aku bahkan bisa berantem sama bos klinik hanya karena bagiku “terlalu mahal”. Aku sering menangis kalau melihat orang-orang susah di TV. Aku dikenal banyak CS dan satpam karena aku sering berinteraksi dengan mereka. Aku gak pernah membeda-bedakan untuk interaksi sama orang lain. Aku juga sensitive dengan orang-orang yang mata duitan.
Masalah pendidikan aku pun sangat sensitif. Aku selalu kesal sama orang-orang yang menyia-nyiakan sekolahnya padahal orang tuanya mampu. Aku juga kesal apabila ada orang pas-pasan tapi gak meneruskan sekolah dengan alasan “tidak mampu”. Aku selalu memberikan dorongan untuk orang-orang di sekitarku untuk “sekolah”. Aku selalu merasa kesal dengan penyimpangan pendidikan yang terjadi di Indonesia maka itulah aku ingin mengubah sistem entah bagaimana caranya dan dengan apa sedang aku pikirkan. Aku suka pula dengan orang-orang pintar dan bahkan senang ngobrol dengan mereka hanya sekedar ingin tahu apa ilmu yang aku bisa dapat.
Aktif di twitter kira-kira 1 tahun yang lalu. Baru paham setelah punya uang untuk membeli smartphone dan diajarkan teman-temanku. Dulu hanya menggunakan twitter untuk ngobrol biasa dengan teman. Tapi saat itu aku lihat akun twitter yang selalu bagi-bagi informasi. Bagiku menarik karena memang aku suka mengajar dan menurutku ini sangat bermanfaat dibandingkan aku ngobrol gak penting. Aku coba jalankan walaupun awalnya diketawain tapi aku terus usaha untuk membuat akunku bermanfaat.
Ternyata aku difollow seorang professor, saat itu akunku followernya masih 200. Prof memberi aku judul dan aku membuat tentang itu di akunku, waktu itu masalah keagamaan. Aku dipromosikan dan prof bilang untuk membuat hal serupa masalah kedokteran. Kemudian muncullah seorang politisi yang ikut mensupport aku. Semakin banyak mengenal politikus, dosen serta dokter dan ahli-ahli lain aku jadi tau banyak hal. Apalagi aku memang haus sama ilmu. Mulai kopdar sampai ikut forum atau diskusi banyak hal.
Dari situ mulai tumbuhlah rasa nasionalismeku. Asalnya aku hanya ingin menjadi dokter yang bermanfaat untuk masyarakat sekarang udah beda tujuan. Aku ingin memperbaiki sistem pendidikan, kesehatan, serta kesejahteraan masyarakat Indonesia. Aku terangsang untuk membangun Indonesia menjadi negara yang pantas dilihat oleh negara asing bahkan dijadikan contoh.
Andai aku tertidur panjang dan terbangun pada tahun 2030? Apa yang ingin kusaksikan? Aku ingin melihat Indonesia maju. Keadaan ekonomi stabil. Tidak ada lagi yang namanya buta huruf. Semua warga Negara Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak, angka kemiskinan pun turun. Dalam bidang kesehatan sangat maju didukung oleh teknologi canggih. Penyakit-penyakit yang selama ini belum ditemukan obatnya sekarang sudah dapat disembuhkan.
Simbol diri? Aku ini ibarat lingkaran. Bentuk lingkaran menunjukkan sifat fleksibel, tidak kaku. Aku bisa bergaul dengan siapapun dan dalam urusan kerjaan atau minat ilmu pun gak terbatas atau fokus dalam satu bidang. Lingkaran itu tak pernah berujung, begitu pula dengan tujuan hidupku tidak ada akhirnya. Ada lingkaran di muka bumi yang terus-menerus menjadi penerang dan pencerah bagi umat manusia misalnya matahari dan uang receh bentuk lingkaran juga sangat berarti buat pengemis, semoga aku juga bisa menjadi pencerah dan bermanfaat untuk umat manusia.
Hidup ini juga merupakan sebuah lingkaran atau Circle, dari tidak ada menjadi ada, berproses lalu kembali menjadi tidak ada. Ini juga menjadi acuan dalam pekerjaanku, pasien yang asalnya sehat kemudian sakit dan aku membantu untuk kembali sehat. Gambaran lingkaran yang utuh menunjukkan sifat saling melengkapi, aku ingin menjadi pelengkap untuk orang-orang di sekitarku, dengan adanya aku semua terasa lengkap. Lingkaran bisa menjadi roda penggerak dan memang aku kadang selalu menjadi penggerak orang untuk melakukan sesuatu.
Aku juga bisa dilukiskan sebagai warna biru. Warna ini memiliki kesan tenang dan menekan keinginan, dimana tidak meminta mata untuk memperhatikan. Biru adalah warna primer dan aku sendiri ingin menjadi orang yang primer dan paling dibutuhkan untuk kepentingan semua orang. Orang yang bersikap warna biru selalu ingin bisa lebih baik dari orang lain. Biru melambangkan ambisi, setiap orang yang sudah senang terhadap sesuatu hal pasti akan ditekuninya terus. Biru juga memberi kesan kepercayaan.
Aku kebetulan ingin sekali menjadi dokter kandungan. Aku ingin mewujudkan janji pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. Aku ingin menjadi tenaga medis yang mempu mengatasi permasalahan social serta meningkatkan akses informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi kepada setiap perempuan dalam memenuhi hak-hak reproduksinya dalam kesetaraan gender.
Perjalanan hidup itu terang gelap, seolah petualangan menembus hutan lebat, sebagaimana kisah yang telah dituturkan Dokter Meti. Ibarat lingkaran, petualangan itu tanpa titik henti. Kita terus menerus dalam proses menjadi, sampai nanti kita mati.
Apa inspirasi yang anda dapatkan dari kisah Dokter Meti?













hihi… menarik sekali ceritanya, membayangkan si dokter bertutur langsung..
Su..su.supeeerrr.. (˘̩̩̩⌣˘̩̩̩)
Inspiratif dan kereeeen *heninglamaaaa*
Tulisan dan cerita yg menggugah semangat bgt..ibarat baca stensilan, wajib dibaca sampai tetes terakhir… ;;)
Wow.. cerita hiduonya inspiratif sekali.. gak nyangka juva dia berasal dari keluarga yg kurang berada dikihat dari gaya sma nya dulu.. hehehe..
Keren mas bukik.. ditunggu cerita inspiratif lainnya